Assalamu 'Alaikum wa RahmatuLlahi wa Barakatuh
"namun inilah kegagalan hidup bagaimanapun aku tidak bisa mengisinya
dengan materi nyata yg ingin diraihnya......"
Kegagalah hidup, apa sih "kegagalan hidup" itu?
Apakah ketika seorang ayah tidak bisa memanjakan istri dan anak dengan
kemewahan dunia itu bisa dikatakan sebagai "kegagalan hidup"?
Disinilah mas Adi, perlunya setiap muslim/muslimah untuk terus
menerus mengkaji ajaran Allah (Al-Qur'an) dan ajaran Rasul-Nya (As-Sunnah)
serta mengamalkannya. Sebab keduanya telah berisi petunjuk lengkap yang bisa
menjawab segala permasalahan hidup dan menjamin keselamatan dunia dan
akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah SAS:
"Aku telah tinggalkan ditengah-tengahmu dua perkara, yang kamu tidak bakal
sesat selama-lamanya asal saja kamu berpegang teguh kepadanya yaitu: Kitab
Allah dan Sunnah Nabi-Nya" (HR Imam Malik).
Nah dengan berpijak kepada petunjuk Al-Quran dan As-Sunnah itu saya
ingin "berwasiat-wasiatan pada kebenaran dan berwasiat-wasiatan pada
kesabaran". (Surat Al-'Asr)
Ungkapan diatas menurut pengamatan saya tidak paralel dengan
petunjuk Allah dan Rasul-Nya, sebab lawan kata kegagalan adalah
keberhasilan, kejayaan ataupun kemenangan yang di Islam sudah ada definisi
atau kriterianya sendiri. Di dalam Al-Quran telah banyak dijelaskan, di
antaranya yaitu di dalam surat Al-Mukminun ayat 1 hingga ayat 11. Kalau kita
bisa mengamalkan kriteria yang ada di ayat 1 sampai ayat 9 tersebut,
yakinlah bahwa mas Adi dan kita semua sudah terjamin keberhasilan dan
kemenangannya, dan kelak Allah pasti menganugerahkan syorga Firdaus untuk
kita. Meskipun di dunia ini barangkali kita tidak pernah memiliki sesuatu
yang biasa digandrungi oleh umum, yaitu kemewahan harta, jabatan ataupun
lainnya.
Kita tidak boleh lupa bahwa kehidupan dunia ini penuh dengan
kepalsuan dan tipuan, sebagaimana Allah berfirman:
"Barangkali kamu membenci sesuatu padahal ia itu baik bagimu dan barangkali
kamu menyukai sesuatu padahal ia itu buruk bagimu, Allah lah yang Maha Tahu
sedangkan kamu tidak tahu" (Al-Baqarah 216).
Ibnu Abbas RA berkata kepada Atha': Maukah kamu aku tunjukkan
seorang wanita dari (calon) penghuni syurga? Atha' menjawab: Tentu. Ibnu
Abbas berkata: Wanita (berkulit) hitam itu pernah datang kepada Nabi SAS
lalu berkata: Sesungguhnya aku berpenyakit epilepsi dan aku (pakaianku)
sering terbuka (tersingkap pakaiannya ketika tidak sadar) oleh karena itu
do'akanlah kepada Allah untukku! RasuluLlah SAS menjawab: Kalau kamu mau
bersabarlah dan bagimu balasan syurga, atau kalau kamu ingin bisa juga saya
do'akan agar Allah menyembuhkanmu. Maka wanita itu menjawab: Aku (pilih)
bersabar. Kemudian ia berkata lagi: Tapi pakaianku sering terbuka, oleh
karena itu do'akanlah kepada Allah untukku. Maka RasuluLlah pun
mendo'akannya. (HR Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Hadis ini telah menggambarkan bahwa penyakit epilepsi atau ayan yang dibenci
oleh setiap orang itupun ternyata bisa menyebabkan penderitanya masuk
syurga, asal saja si penderita bersabar. Sehingga wanita tersebut memilih
untuk bersabar, sebab kalau dia sembuh, badannya sehat dan bisa menikmati
berbagai kesenangan hidup belum tentu ia terjamin untuk masuk syurga.
Kesimpulannya: Kewajiban kita adalah berusaha secara benar dan
maximal, kalau itu sudah dijalankan dan rezeki kita tetap pas-pasan,
yakinilah bahwa itulah yang telah ditaqdirkan Allah untuk diri kita dan
itulah insyaaLlah yang terbaik. Seandainya menurut Allah kekayaan itu baik
untuk si fulan yang beriman itu, tentu Allah menjadikan si fulan jadi orang
kaya. Inilah husnudh-dhan kepada-Nya, dan ketika Allah mengetahui bahwa
kefaqiran itu baik untuk hamba-Nya yang mukmin itu, maka Ia pun menjadikan
hambanya faqir.
Lebih dari itu kita juga perlu melihat dengan kacamata akhirat mengenai
Bapak-Bapak yang hidupnya bergelimangan dengan kemewahan, kekayaannya
bertebaran di dalam dan luar negeri, tapi mereka telah memperoleh kekayaan
itu dengan cara-cara yang tidak diridlai oleh Allah. Untuk apalah kekayaan
seperti itu? Mereka hanya menikmatinya beberapa tahun di dunia, setelah itu
mereka tersiksa ratusan tahun di alam kubur, 50000 tahun di alam mahsyar,
lalu di neraka entah berapa lama, na'udzu biLlah min dzalik.
Lalu apa jadinya dengan istri-istri, anak-anak serta keturunan bapak-bapak
itu yang dari kecil sudah disuapi dengan makanan dari penghasilan haram (KKN
dsb), padahal RasuluLlah SAS bersabda: "Tidaklah suatu daging tumbuh dari
(makanan/harta) haram kecuali kelak nerakalah yang paling berhak atasnya"
(At-Tirmidzi).
Namun akibat lemahnya iman manusia memang sering mengalami keadaan
seperti firman Allah:
"Akan tetapi kamu terpengaruh dengan dunia, padahal akhirat itu lebih baik
dan lebih kekal" (Al-A'la 16-17)
Oleh karena itu Umar bin Khatab RA dulu menyambut segala musibah dengan
gembira (termasuk musibah kekurangan). Yang ia takuti hanya satu musibah
saja, yaitu musibah dalam beragama atau musibah yang bisa menjauhkan
seseorang dari pada Allah.
Mengenai bagaimana menjelaskan masalah ini kepada anak yang masih
ijo, memang caranya bisa bermacam-macam dan berbeda dari satu anak ke anak
lain. Yang dalam hal ini orangtuanya harus lebih tahu tentang sifat
putera-puterinya dan cara berfikir mereka. Secara umum yang terpenting
orangtua harus mengupayakan agar putera-puterinya berteman dengan anak-anak
yang sebaya, yang pendidikan agamanya bagus, rajin ke masjid, belajar agama,
yang orang tua mereka islami tidak materialistis. Sehingga anak-anak itu
nantinya juga terjauhkan dari sifat dan cara berpikir yang materialistis
ataupun tidak islami.
Ma'af kalau ada kata saya yang tidak berkenan. Semoga saja
bermanfa'at. WaLlahu a'lam bish-shawwab.
Wassalamu 'Alaikum wa RahmatuLlahi wa Barakatuh
M. Zubaidi
From: Adidjoko <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 04, 1999 10:39 �
Subject: [Tasawuf] seandainya
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)