SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA Naskah asli: Henry Bayman http://home.att.net/~nungan/sufism/ Diterjemahkan: R. Sunarman KONSEPSI YANG KELIRU MENGENAI ALLAH Manusia adalah manusia, dan Allah adalah Allah. Manusia itu mortal [pada akhirnya akan mati], tetapi Allah immortal. Ini merupakan kaidah tegas yang harus dipegang semua bentuk monotheisme. Manusia dapat disucikan ruhaninya dan ditingkatkan ke taraf "berpenglihatan Allah," tetapi manusia dan Allah tidak dapat dikacaukan. Pada hari yang cerah, berjemurlah di bawah sinar matahari. Kemudian ketika kembali ke dalam rumah, tanyakan kepada diri sendiri: "Apakah aku tadi melihat matahari?" Ya. "Apakah matahari itu menerangiku?" Ya. "Apakah matahari itu menghangatkanku?" Ya. Tetapi "Apakah aku matahari?" Bukan! Kasus Allah serupa dengan kasus matahari itu. Tak seorang pun yang telah menikmati hubungan khusus dengan Allah, betapapun dekatnya, dapat mengaku bahwa ia adalah Allah itu sendiri. Ketika Nabi Muhammad wafat, terjadi kekacauan besar. Orang tidak dapat mempercayai kematian itu. Umar, salah satu Sahabat terdekat, menarik pedangnya dan mengancam akan menebas leher siapapun yang berkata bahwa Nabi telah tiada. Pada saat itu, Abu Bakar, Sahabat terdekat, menengahi, dan setelah menenangkan mereka semua, berkata: "Sesiapa yang percaya kepada Muhammad, ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Sesiapa yang percaya kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah itu immortal, tak dapat mati." Itulah sikap yang benar. Dan inilah pangkal permasalahannya: Yang kita perlukan adalah pendekatan yang segar dan sehat kepada Allah. Apabila kita menyamakan Allah dengan orang tertentu, orang yang besar dan hebat, maka ketika orang itu mati, maka kita akan beralasan untuk berkata "Allah telah mati (atau disiksa)." Karena itu, ketika Nietzsche menyebut "kematian Allah," ia juga berkata tentang kematian Nabi Isa di tiang salib. Dari sudut pandang ini, perkataan Nietzsche merupakan akibat langsung dari penyetaraan yang berbahaya dan tidak berlaku lagi dalam abad ke-19, tetapi hanya berlaku 19 abad yang lalu. Nietzsche menunjukkan kesadaran akan hal ini dengan berkata: "Kita menyangkal Allah sebagai Tuhan. Jika seseorang harus membuktikan tuhan orang Kristen ini kepada kita, kita akan makin sulit untuk meyakini Allah. Dalam sebuah ungkapan: Allah, sebagaimana yang diciptakan Paulus, merupakan penyangkalan terhadap Tuhan." RUMAH BESAR DAN PARA TAMUNYA Ada konsepsi lain mengenai Allah yang keliru. Konsep Allah sebagai dalang dalam pewayangan, sering dikemukakan oleh kaum atheis. Ini keliru. Seandainya Allah menginginkan kekuasaan mutlak atas manusia, akan lebih sederhana: Dia cukup menciptakan masyarakat yang terdiri dari robot-robot. Namun, Dia telah menciptakan manusia dengan pikiran dan kehendak bebas, dan menempatkan mereka sebagai khalifah di bumi ini. Tetapi tiada kebebasan tanpa tanggung jawab. Karena itu manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya di atas bumi. Kehendak bebas berarti bahwa manusia bebas untuk memilih baik atau buruk. Allah tidak memaksa manusia. Manusia terikat kepada kondisinya, tetapi ia bebas untuk melakukan pilihan dan tindakan moral. Jika ia berbuat sesuatu di luar tugasnya, ia tidak perlu bertanggung jawab. Karena itu, Khalifah Umar, yang terkenal sebijak Nabi Sulaiman, mengampuni seorang miskin yang mencuri makanan di pasar. Namun, kehendak bebas tanpa bimbingan adalah sia-sia, karena tanpa bimbingan manusia tidak dapat membedakan baik-buruk. Oleh sebab itu, Allah memberi manusia kedua-duanya: kehendak bebas dan bimbingan untuk menggunakan kebebasan itu secara arif. Namun kebebasan semacam itu harus dibeli dengan tanggung jawab atas perbuatannya karena kebebasan berkehendak dan bertindak itu berarti bahwa seseorang dapat merugikan atau menganiaya orang lain atau makhluk lain. Jika manusia memegang ijin untuk mengganggu ciptaan Allah, ini tidak berarti bahwa ia berhak untuk merusak atau mengacak-acak. Mitos berikut ini lebih tepat dari pada perumpamaan dalam pewayangan. Pemilik sebuah istana besar di suatu kawasan pedesaan berbukit mengundang berbagai kenalannya untuk tinggal di istana itu selama liburan. Perjalanan itu ternyata melelahkan, dan para tamu menderita amnesia ketika tiba di istana itu. Di dalam istana itu mereka menemukan ruangan-ruangan yang penuh dengan benda-benda mengagumkan, meja yang penuh dengan buah-buahan, dan hiasan-hiasan yang indah. Pemilik istana itu menyadari kesulitan yang dialami para tamunya. Ia menyediakan buku petunjuk di meja utama yang memuat peraturan-peraturan rumah tangga istana. Salah satu aturan itu, para tamu harus terlibat dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari seperti memasak dan mencuci piring. Selain itu, mereka harus menunjukkan cinta dan saling menghargai satu sama lain karena mereka telah dipilih dan diberi hak oleh pemilik istana yang sama. Dianjurkan pula untuk mengingat tuan rumah dengan cara menelepon dari waktu ke waktu dan berterima kasih atas semua kebaikan yang telah diberikan kepada para tamunya. Dari sudut pandang ini, para tamu secara kolektif bertanggung jawab untuk mengelola rumah tangga. Tetapi jika mereka bentrok, berebutan dan saling menyerang; jika mereka membuang sampah ke tengah ruang duduk; jika mereka main bergelantungan pada lampu-lampu gantung; jika mereka membuat neraka di kawasan surga ini; jika mereka menganggap bahwa tuan rumah tidak ada, atau mengangkat telepon dan mengumpat atas kesulitan yang mereka buat sendiri; jika balasan mereka adalah umpatan dan bukan terima kasih, maka mereka akan tenggelam ke dalam kehinaan. Bagaimana jika para tamu itu mengacak-acak rumah, jika mereka merusak perabotan? Bagaimana jika mereka pada akhirnya membakar rumah itu? Demikianlah keadaan kita di bumi ini, dan atas dasar inilah kita harus membongkar semua filsafat atheis sebagai penipuan diri sendiri yang menyebabkan manusia memperoleh kambing hitam dalam melemparkan tanggung jawab, dan untuk meracuni dunia dengan kebencian. Nietzsche melihat hal ini dengan jelas. Dalam "The Twilight of the Idols," setelah menyebut bahwa kehendak bebas itu suatu "kekeliruan", ia berkata: "Kita menyangkal Allah; dalam menyangkal Allah, kita menyangkal tanggung jawab..." sebagaimana dikatakan oleh tokoh Dostoevsky: "Jika tidak ada Allah, semuanya diperbolehkan." Inilah alasan yang sebenarnya dalam menyangkal Allah: tujuannya bukan untuk membeberkan kebenaran, tetapi untuk membebaskan nafsu amarah [diri egotistik] dari belenggu dan pertimbangan moral. Jika iman kepada Allah lenyap, maka patahlah akar moralitas. Nietzsche telah pula membeberkan urutannya: jika tiada Allah, maka tiada tanggung jawab; jika tiada tanggung jawab, maka tiada kebutuhan akan moralitas. Dalam langkah berikutnya inilah Nietzsche mendapatkan penyusutan: tanpa moralitas, bukan hanya hal ini mungkin, tetapi tak terelakkan bagi kita untuk berbenturan dengan satu sama lain dan dengan alam. Tentu, menyatakan kematian Allah tidaklah berakibat lebih banyak terhadap keberadaan Allah dari pada efek pernyataan bahwa: "Presiden Amerika Serikat tidak ada" terhadap Presiden Amerika. Karena itu, kita akan menerima akibat dari apakah kita beriman kepada Allah atau tidak, dan keliru jika kita mengira bahwa kita dapat mencegahnya. Sementara itu, berpura-pura tidak tahu merupakan tindakan pengecut yang akan membawa kita ke keadaan yang makin berbahaya. Perlu diingat, dalam Hadits tertulis: "Aku ini sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku," yang berarti: "Aku menampakkan diriKu kepada manusia hanya dalam rupa yang diyakininya" - atau tidak diyakininya. Dengan kata lain, jika seseorang menyangka Allah akan berbuat dengan cara tertentu, Allah pada umumnya mengikuti. Jika seseorang percaya bahwa yang ada hanya sifat tak terlihat, Allah akan berbuat demikian untuk memperkuat keyakinannya. Jika ia percaya bahwa hakikat alam semesta ini kekosongan, Allah akan menuruti. Jika seseorang berpikir bahwa tiada bukti tentang keberadaan Allah, Allah akan melenyapkan semua bukti dari jangkauan pengalamannya. Jika manusia meninggalkan Allah, Allah pun akan meninggalkan manusia: "Jika orang buta melihat Allah, Allah melihat orang buta." --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
