SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF
PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA

Naskah asli: Henry Bayman 
http://home.att.net/~nungan/sufism/
Diterjemahkan: R. Sunarman

NAFSU AMMARAH (DIRI DASAR) vs ALLAH

Mari kita telusuri akibat dari pernyataan "Iman kepada Allah telah
mati" menjadi kesimpulan logis. Dalam hal ini kita menggunakan
pandangan kejiwaan Sufi: keberadaan ego, nafsu ammarah, "diri dasar"
atau "diri egotistik" dalam manusia.

Apa yang dikendalikan oleh diri egotistik? Pertama, nafsu terhadap
materi dan uang, nafsu ke arah kepuasan seksual, dan keinginan untuk
berkuasa. Ketiga hal itu telah dibahas dalam abad ke-19 oleh Marx,
Freud, dan Nietzsche secara terpisah. Pandangan ketiga orang ini tak
dapat dipertentangkan. Tetapi mereka semua tidak mengetahui bahwa
ketiganya mempunyai persamaan. Masing-masing mereduksi pertanyaan
manfaat penemuannya sendiri mengenai suatu spesies yang menghuni
hamparan debu halus di alam semesta. Bagi Marx, konsep Allah merupakan
konsekuensi dari apa yang disebutnya sebagai "superstructure"; bagi
Freud, "sublimation, projection, atau illusion"; dan bagi Nietzsche,
"a self-deception."

Kita kembali ke diri egotistik. Anggap saja bahwa semua kebutuhannya
akan materi, makan dan kenyamanan dipenuhi. Anggap pula bahwa
keinginan seksualnya terpenuhi. Namun bagi Diri Dasar, ini bukan
merupakan akhir tetapi baru merupakan awal, karena mulai dari titik
ini berkembang keinginan yang lain. Istilah orisinil Nietzsche dalam
"Daybreak" dan "The Joyous Science" adalah "nafsu berkuasa"
(machtgel�st), lebih jelas dari pada "kehendak untuk berkuasa." Dan
memang, bila dibiarkan, Diri Dasar akan berupaya memperbesar kekuasaan
bagi dirinya, apakah itu kekuasaan politik, kekuasaan sosial, atau
kekuasaan finansial. Nietzsche, lebih baik dari Marx atau Freud, mampu
menemukan motivasi ini. (Mengikuti langkah Nietzsche, Alfred Adler dan
Bertrand Russell pun menemukan kekuasan sebagai daya penggerak dalam
manusia). Ahmad Sirhindi (1563-1624), salah seorang Sufi terbesar,
menerangkannya sebagai berikut:

"Diri dalam keadaan bergejolak (ammarah) selalu ingin berkuasa. Ia
menolak untuk mengakui ketergantungannya kepada pihak-pihak lain. Ini
tiada lain dari tuntutan akan keabadian. Diri semacam ini tidak akan
tenang meskipun berdampingan dengan Allah, ia ingin mengalahkan Allah,
memperbudak semua yang ada. Dengan alasan ini, membantu dan mendukung
Diri ini, musuh Allah, merupakan kesulitan dan bencana terbesar."

Di sini, motivasi pokok Diri Dasar sangat jelas: ia ingin menjadi
Tuhan meskipun hal ini mustahil. Ia menghendaki kepatuhan mutlak dari
pihak-pihak lain.

Rintangan terbesar dalam hal ini adalah iman kepada Allah. Ego dalam
manusia tak dapat mentolerir Allah sekalipun [atau terutama Allah],
sehingga ia berusaha melenyapkan iman kepada Allah pada kesempatan
pertama yang dijumpainya. Dalam penelanjangan motif-motif dasar, Marx,
Freud, dan Nietzsche tidak pernah menduga bahwa inilah alasan atheisme
mereka, dan para pemikir yang paling tajam pun jatuh menjadi korban
tipuan Diri Dasar. Tokoh orang gila Nietzsche membeberkan akibat dari
"Allah telah mati": "... tidakkah kita sendiri menjadi tuhan?" Salah
satu tokoh Dostoevsky berkata: "Jika tiada Allah, maka akulah Allah."
Tulisan Nietzsche berikut, puncak kesesatan itu, membeberkan: "Hari
ini aku mencintai diriku sendiri sebagai tuhanku." Dan memang, pada
akhirnya Nietzsche mendakwa dirinya sendiri Allah. 

Analisa tasawuf ini juga diterima oleh aliran utama ilmu jiwa. Dalam
komentarnya terhadap Zarathustra tulisan Nietzsche, Carl G. Jung,
seorang ahli jiwa besar, menulis:

"Jika anda tahu realita apa yang merupakan fakta yang disebut Allah,
anda akan tahu bahwa anda tidak mungkin lolos darinya. Tetapi anda
tidak melihatnya; anda tidak tahu maknanya dan karena itu ia
menjadikan anda tidak menyadari, dan kemudian tanpa mengetahuinya,
anda berubah menjadi tuhan yang mahakuasa seperti yang terjadi pada
Nietzsche. Ini terjadi padanya sedemikian jauh sehingga ia cukup gila
dan menuliskan "the dismembered [Dionysos] Zagreus," atau "Christ
Dionysos," karena ia menjadi identik dengan Tuhan yang telah ia
lenyapkan. Anda tahu, karena kita telah melenyapkan Tuhan sedemikian
jauh, ini mirip dengan kita mengingkari semua fakta yang kita
cari-cari [karena lapar] untuk dimakan, tetapi kemudian kita mulai
saling memakan satu sama lain; kita menjadi sangat lapar sehingga
timbul bencana... kini kita berpikir bahwa jalan pikiran dan
perkembangan akal manusia dibatasi oleh keberadaan praduga kuno
seperti itu; kita melenyapkan bentuk-bentuk lama ini karena kita
mengira bahwa kita adalah tuhan dan bahwa semuanya dapat berlangsung
tanpa tuhan... Tentu, ada bahaya dari setiap kreasi: ia melenyapkan
sesuatu yang seharusnya dipertahankan, dan karena itu menimbulkan
serangkaian bencana, seperti dalam kasus Nietzsche." 

Jung menilai Nietzsche "identifikasi dengan tuhan, Superman menepati
posisi tuhan."

Tetapi ada masalah lebih lanjut. Setelah menyatakan kematian Allah,
penuhanan-diri Nietzsche muncul sebagai akibatnya; meskipun
megalomania ia mungkin tidak bermaksud demikian. Masih ada akibat
berikutnya: jika Allah telah mati, dan Nietzsche adalah Allah, maka
Nietzsche pun mati! Mati, namun hidup! (Ingat, ia menyebut dirinya
sendiri sebagai terlucuti, terpidana). Akibat akhir ini membuktikan
bahwa ia melakukan 'bunuh diri mental', dan ia menjadi perwujudan atau
penguburan akalnya sendiri: pikiran yang terberai dan mati dalam tubuh
yang hidup. Karena itu, dapat dilihat pada kasus Nietzsche, diri
egotistik menyatakan pemberontakan final dan dengan sepenuhnya
menguasai pikirannya, yang dibawa ke titik kelelahan. (Itulah yang
menyebabkan Sirhindi berkata bahwa membantu Diri Dasar merupakan mala
petaka terbesar). Ibarat perkakas yang telah habis masa pakainya [=
usang], ia rusak yang dibuang setelah segala upaya untuk memperoleh
keselamatan dikalahkan oleh akalnya dengan menggunakan kata: "Allah
telah mati." Kegilaan Nietzsche ibarat penyakit sifilis parah, tetapi
ini, jika benar, hanya mempercepat prosesnya. 

Sayang, beginilah akhirnya, karena Nietzsche telah menyimpulkan bahwa
dorongan diri merupakan motivasi; dalam ilmu jiwa Sufi, sebuah metode
utama untuk memahami Diri Dasar.



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke