SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA Naskah asli: Henry Bayman http://home.att.net/~nungan/sufism/ Diterjemahkan: R. Sunarman SUPERMAN Nietzsche berkata dalam Zarathustra, "Manusia adalah tali yang direntangkan antara hewan dan superman, bahwa tali di atas jurang yang dalam." Ia menggambarkan manusia sebagai sesuatu yang tidak lengkap. Dalam hal ini, ia bersesuaian dengan ilmu jiwa Sufi dan mistik aliran manapun. Tetapi di titik inilah gagasan Nietzsche mulai menunjukkan potensi terbesarnya, proyeknya terbukti mengalahkannya sendiri karena is selalu berpegang pada "kematian Allah." Tanpa Allah, tak akan ada Superman, tak ada manusia yang sadar akan Allah, tak ada wali, tak ada manusia yang dekat dengan Allah. Tanpa cahaya dan tuntunan, orang hanya mungkin dekat kepada syaitan. Dalam beberapa hal, Nietzsche menyadari jalur menuju Sufi atau "sahabat Allah": ia berbicara "perang melawan diri sendiri, atau, pengendalian diri." Nabi berkata "Perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri. Dalam "Human, All Too Human," Nietzsche mengakui keberadaan "diri yang lebih tinggi." "Latihan penderitaan, penderitaan besar; tidakkah anda tahu bahwa latihan ini sendirilah yang telah menghasilkan pemuliaan manusia sejak dulu? Ia bertanya "Jenis manusia apa yang perlu untuk dikembangkan?" "Jenis ini lebih bernilai ini telah seringkali kita temukan, tetapi hanya secara kebetulan, sebagai pengecualian, tidak pernah dengan kesengajaan." Ia berbicara tentang spesies manusia yang lebih tinggi, setengah wali, setengah jenius.." Zarathustra, khususnya, menunjukkan betapa dekat Nietzsche mampu mendekati kebenaran ilmu jiwa Sufi dalam beberapa hal. Terjebak dalam angan-angan seperti mimpi, itulah perjalanan dan pengakuan spiritual Nietzsche. Ia menulis sebagian besar darinya dengan sangat cepat dalam keadaan seperti "trance", dan membuat rinciannya kemudian; isi bawah sadarnya ditumpahkan ke atas kertas bagaikan dam yang jebol. Dalam istilah Jungian, model "orang tua yang bijak" tercermin pada dirinya dalam tokoh Zarathustra, dan dalam Ecce Homo, Nietzsche sendiri mengaku semata-mata sebagai inkarnasi atau 'perantara' atau jurubicara dari tokoh tersebut. Namun ia tampak hanya mampu mencerna sebagian; sebagaimana ditulis C.G. Jung, karena ketiadaan ilmu jiwa modern, ia tidak menunjukkan pemahaman dalam banyak hal dari apa yang tertuang melalui tangannya. "Thus Spoke Zarathustra" diwarnai dengan symbolisasi Diri Dasar (disebut nafsu ammarah dalam Tasawuf). Tidak mengherankan, aspek Zarathustra ini hampir tak teramati, seperti kata Jung, "Di dunia Barat, kita tidak mempunyai filsafat tentang Diri", dan bahkan manusia sekualitas seperti itu tidak mampu menangkap makna simbol-simbol ini (ia menyebut Dasar sebagai manusia inferior atau manusia bayangan). Karena Nietzsche terlalu memikirkan masalah mengalahkan diri sendiri dan Superman, citra Diri Dasar dan Diri Mulia tetap terbungkus dalam bentuk simbolik yang cukup rumit, tetapi bukan tidak dipahami dalam ajaran tasawuf. Orang kerdil atau badut yang meloncat ke atas tali sirkus berupaya untuk menjadi Superman, mengakibatkan jatuh atau mati; "Manusia Terburuk" yang membunuh Allah karena ia tidak tahan terhadap pengungkapan keburukan pendangannya; ular hitam besar yang menggigit gembala muda pada lehernya - semua ini merupakan gambaran Diri Dasar. Jika gembala itu menggigit kepala ular, yaitu mengalahkan Diri Dasarnya, ia tertawa seperti orang yang belum pernah tertawa - ia menjadi Superman atau Diri Yang Disucikan. Dalam "The Way of the Creative One," ketika Nietzsche menulis: "Engkau sendiri akan selalu menjadi musuh terbesar yang engkau temui," ia mengacu pada diri egotistik. Dalam bab yang sama, "jalanmu melintasi dirimu sendiri dan tujuh syaitanmu" merupakan perwujudan aneh dari tujuh tingkatan diri dan "spirits of gravity" menarik seseorang turun, mencoba untuk menghambat dan membalik perkembangan spiritual seseorang dalam tasawuf. "Engkau harus siap membakar dirimu dalam apimu sendiri; bagaimana engkau dapat menjadi baru jika engkau tidak terlebih dulu menjadi abu" lagi-lagi merupakan kelahiran kembali Diri serupa dengan kelahiran kembali burung Phoenix. Pada akhir bab itu, "Aku mencintai ia yang berusaha menyempurnakan diri, dan berhasil" merupakan acuan lain dari transendensi diri dan Superman, yang juga mirip dalam hal ini dengan Diri Muthmainnah dalam Tasawuf. Tampak jelas bahwa Nietzsche telah mengalami kemajuan dalam menemukan kembali "Manusia Sempurna" dalam Tasawuf Islam. Namun ia tidak pernah mencapai tujuannya karena ia telah mengalahkan tujuannya sendiri dengan menerima "Allah telah mati." Karena itu ia melenyapkan 'spesies mulia', Superman atau �bermensch, sebagai ideal [tujuan] ke arah mana kita melakukan perjalanan. Roket yang ditembakkanya ke bintang-bintang ternyata salah arah dan jatuh kembali ke tanah: "'Manusia harus menjadi lebih baik dan lebih jahat - begitu yang aku ajarkan. Orang yang paling jahat sangat penting bagi keutamaan superman." Ia menuduh kebaikan sebagai "moralitas kemunduran": "Suatu moralitas kebajikan, suatu moralitas yang bersih dari pamrih, tetap merupakan pertanda buruk dalam segala hal... Yang terbaik ialah ketiadaan ketika pamrih mulai menghilang... Manusia itu tiada lagi ketika ia menjadi baik." Menyebut Zarathustra "penghancur moralitas" dan menyebut diri sendiri 'immoralist', ia menulis dalam The Gay Sains: "Engkau tidak perlu lagi berdoa, tidak perlu lagi sembahyang... engkau tidak punya pelindung dan teman abadi... tiada lagi bagimu pemberi pahala dan pemberi balasan, tiada hari pengadilan - tiada lagi alasan mengenai apa yang terjadi, tiada lagi cinta dalam apapun yang terjadi padamu..." Seperti Dr. Frankenstein, Nietzsche berupaya menciptakan manusia super, tetapi ia hanya berhasil dalam meciptakan monster. Dalam Zarathustra, ia membiarkan kucing keluar dari karung: "Saya kira anda akan menyebut manusia hebatku - syaitan." Dalam The Antichrist, ia mendefinisikan kebahagiaan sebagai "bukan damai, melainkan perang", dan mencela Kristen dengan menggambarkan manusia yang kuat sebagai manusia yang menyebalkan." Bertolak dari sudut pandang vertikal ini, "pengendalian diri sendiri"-nya hanya dapat menggantikan dalam satu arah: ego hanya dapat berkembang dalam arah horizontal. Ketiadaan arah vertikal ini, satu-satunya yang ada padanya untuk mengaku superioritasnya melalui kehendaknya untuk berkuasa. Karena itu setiap individu saling menguasai satu sama lain, dan moralitas bersama menjadi mustahil. Terkurung dalam jebakan Diri Dasar, dengan keburukan dan kekejaman sebagai penuntun, dengan tujuan yang disangkal, dengan elevator dan bahkan tangga yang tersedia, maka 'superman' bukan menjadi wali atau sufi, melainkan menjadi seorang Hitler atau Stalin. Anggurnya berubah menjadi cuka, obat-kuatnya berubah menjadi racun. Tentu saja ia menjadi gila. 'Superman'-nya menjadi kacau; campur aduk antara tingkatan tinggi dan pementingan diri, "Diri yang Disucikan," dan keburukan Diri Dasar - suatu campuran yang tercemar, bukan air yang murni, bening dan berkilau. Namun bagaimana pun, tak dapat disangkal bahwa Nietzsche mempunyai potensi yang besar di dalam dirinya. Seandainya ia tidak jatuh ke dalam Guru yang tidak kompeten, ia pasti telah menghasilkan buah, pikiran dan jiwanya telah menyatakan kedamaian, dan telah mulai bergerak dalam arah yang sama (bukan saling berlawanan). Mungkin ia sendiri telah menjadi seorang 'superman' dalam istilahnya sendiri. Nietzsche menyadarinya. Ia menulis: "seandainya aku mempunyai Guru...!" tetapi itu tidak terlaksana. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
