SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA Naskah asli: Henry Bayman http://home.att.net/~nungan/sufism/ Diterjemahkan: R. Sunarman AKIBAT-AKIBAT HILANGNYA IMAN Begitulah permulaannya, bagaimana akhirnya? Akibat akhir apa yang dapat terjadi dari lenyapnya iman kepada Allah? Formula Nietzsche berakibat pada kegilaan; bagaimana akibatnya jika sebagian besar manusia berhenti beriman kepada Allah? Sangat besar kemungkinannya: kesombongan, terlalu percaya diri, perilaku metafisik menimbulkan akibat dalam dunia fisik. Usulan filosofis yang disampaikan oleh seorang ahli dari menara gadingnya, jika diterima dan dilaksanakan oleh orang yang berkecerdasan lebih rendah dan bahkan dengan nurani yang lebih keruh, membawa hasil konkrit dalam dunia fisik. Ada buah dari benih itu, dan dengan mengenal buah kita dapat menilai mereka. Buah itu segera membeberkan apa yang tersembunyi di dalam benih yang tidak dapat diketahui tanpa menanamnya. Formula Nietzsche telah ditanam lebih dari seabad. Ia telah menjadi suatu standar, materi pokok, bagian integral dalam perkakas intelektual di Barat. Selama ini, ia telah berpeluang untuk tumbuh dan berbuah. Seabad setelah Nietzsche, di mana posisi kita sekarang? Sejarah abad ke-20 diwarnai dengan meningkatnya pembunuhan dan pemusnahan. Penemuan senjata yang paling tersembunyi pada akhir Perang Dunia II telah menjamin bahwa hanya ada sedikit orang yang selamat pada akhir perang berikutnya, dan mereka yang tersisa akan iri hati kepada yang mati. Hanya dua bom atom yang kita miliki pada tahun 1945. Kini, setengah abad kemudian, kita bukan hanya punya sepuluh, bukan hanya seratus, tetapi ratusan ribu bom atom yang untuk sementara ditumbuhi jamur. Jangan tertipu; senjata itu masih ada di sana, semua negara sangat bernafsu memilikinya, dan masih tersedia bahan untuk membuat ribuan lagi. Bom Hidrogen masih dalam kepompong, rudal balistik masih dalam silo dan tak berfungsi, tetapi jika saatnya tiba, mereka akan siap untuk digunakan. Bersamaan dengan perkembangan daya bunuh yang luar biasa ini [pembunuhan merupakan istilah yang tepat karena korbannya adalah orang-orang sipil yang tak berdosa], abad yang akan segera ditinggalkan ini telah menyaksikan kebrutalan yang tak terhingga dalam sejarah. Manusia telah saling membantai di dalam kamar gas, dalam oven, dalam kam konsentrasi, dengan siksaan, bukan dalam jumlah ribuan tetapi puluhan ribu. Mengutip penyair Turki M. A. Ersoy, "sepenuh benua mendidih menjadi pusaran air panas." Dari jumlah 70 juta orang yang mati dalam kedua Perang Dunia; 50 juta mati atau hilang dalam bertugas selama "periode damai" sejak perang berakhir; 6 juta orang Yahudi dibantai dalam kam pemusnahan; jutaan lagi diantar ke kemiskinan; puluhan juta mati dalam jaringan kerja paksa Soviet (pemusnahan ini begitu besar hingga jumlah yang pasti tak dapat disebutkan, diperkirakan antara 15 dan 66 juta); jumlah yang serupa mati di Cina; pelembagaan penyiksaan oleh hampir semua negara di dunia; kebrutalan dan kekerasan yang semakin meningkat dalam metode penyiksaan; hilangnya belas kasih kepada wanita, anak-anak dan kaum lanjut usia, keharusan melakukan penyiksaan tanpa perasaan pada orang yang sebenarnya harus kita kasihi, teror-teror abad ke-20 jauh lebih kejam dari yang tampak pada film-film horror. Apa yang terjadi merupakan fiksi yang tak terlukiskan bagaimana imajinatifnya. George Steiner menancapkan paku di kepala: "Kam konsentrasi dan kematian dalam abad ke-20, di tempat manapun, di bawah r�jim apapun, adalah Neraka yang nyata. Semuanya adalah neraka yang muncul dari dalam tanah ke permukaan bumi... Hilangnya kemanusiaan membuka pusaran yang diisi dengan kediktatoran modern." Kita perlu memahami mengapa hal ini terjadi, apa yang terjadi. Iman kepada Allah, digabung dengan penerapan yang benar dari moralitas dan pemurnian diri, tiada alasan untuk mempertahankan Diri Dasar. Takut dan cinta kepada Allah tak dapat ada tanpa iman kepada-Nya terlebih dulu. Takut kepada Allah akan mengekang Diri Dasar, mencegahnya dari terlalu condong kepada hal-hal yang negatif. Cinta kepada Allah menaikkan Diri ke arah yang positif (yaitu Allah dan Sorga). Ketika iman kepada Allah lenyap, dorongan dari bawah (takut) dan tarikan dari atas (cinta) runtuh, dan gaya tarik itu kalah dengan gaya tarik Neraka. Ego lepas dari kendali dan berubah menjadi lorong vulkanik yang tiap hari melewatkan letupan magma. Dalam kondisi tertentu [akibat ketiadaan iman] Diri Dasar menjadi syaitan sejati. Tidak lagi berbeda apakah orang di bawah pengaruh ini tetap menyadari keadaan sementara ia menyangkal keberadaan of Allah, Syaitan, Sorga dan Neraka; penyangkalannya membuat dia lebih mudah menjadi sasaran hukum tak dikenal mengenai sifat manusia ini. Manusia memang selalu melakukan kekejian, tetapi pada abad ini dilakukan dalam derajat dan skala yang lebih besar. Sebelumnya, agama-agama mengendalikan nafsu ego manusia dan menganjurkan kebajikan karena semua ini merupakan makhluk-makhluk kecil Allah. Seorang Muslim sejati, misalnya, akan terharu dengan Abu Bakar yang berkata: "Tuhanku, masukkan aku ke dalam Neraka-Mu dan besarkanlah diriku hingga memenuhinya, agar tiada lagi tempat yang tersisa bagi penderitaan orang lain." Jadi, pada masa lalu, mayoritas manusia memiliki kasih sayang, bahkan bagi binatang, anak kucing sekalipun; mereka bahkan melindungi semut, serangga, dari pembunuhan; sementara kita menimbun senjata untuk membunuh anak-anak kita sendiri. Inilah hasil nyata dari lenyapnya iman kepada Allah. Tanpa iman itu moralitas tak dapat ada, dan tidak dapat diterapkan secara benar. Peringatan-peringatan Nietzsche yang ditulis pada awal bukunya, telah terbukti dengan balasannya. Bukan kebetulan bahwa orang yang sama yang meramalkan kematian iman kepada Allah juga orang yang cukup cerdas untuk memperhitungkan akibatnya. Inilah hasil-hasilnya: - Jika tiada iman kepada Allah, cinta dan kasih sayang cenderung untuk lenyap menguap. - Jika tiada iman kepada Allah, orang menjadi cenderung melakukan kekerasan dan kekejian satu sama lain dalam skala dan derajat yang makin meningkat. - Jika tiada iman kepada Allah, manusia mulai menimbun senjata pemusnah global untuk menghabisi anak-anak mereka sendiri dan sepenuh biosfir, alam itu sendiri. - Jika tiada iman kepada Allah, manusia tidak mempunyai alasan untuk menahan diri dari merusak segala sesuatu. - Jika tiada iman kepada Allah, nurani tak dapat hadir dalam bentuk sepenuhnya; tempatnya diambil alih oleh nafsu yang terjahat dan brutal dalam manusia. Apakah Allah yang disalahkan atas semua ini? Apakah ada satu kalimat perintah agar kita melakukan ini? Sejak kapan "Engkau tidak boleh membunuh" dibalik menjadi "Engkau harus..."? Atau apakah ini berasal dari ego kita yang melakukan pembalikan ini? Bukanlah Allah yang menginginkan ini. Allah menempatkan kita di bumi sebagai penjaga, tidak berlaku semena-mena satu sama lain dan terhadap makhluk lain. Jika kita mematuhi perintah-Nya, kita akan hidup dalam harmoni dengan-Nya, dengan kita sendiri, dengan orang lain, dengan alam, dan dengan semua makhluk. Jika tidak, semuanya akan menjadi semakin buruk, dan akhirnya kita akan membakar bumi, mengubahnya menjadi bara api. Kita akan bersama-sama menjadi pembunuh anak-anak kita sendiri. Ini bukan Allah, tetapi diri egotistik kita yang menentukan hasilnya. Orang yang melupakan Allah tak dapat mengenal anak-anaknya pula. Jean-Paul Sartre, meskipun ia seorang atheis, menyebut "Lubang berbentuk Allah" dalam jiwa manusia yang ditinggalkan oleh kematian iman. Tetapi ia merasa perlu untuk menolak Allah apakah Dia ada atau tidak, ia berpikir bahwa gagasan mengenai Allah mengingkari kebebasan manusia; dan ini merupakan masalah Nietzsche juga. Pertanyaan yang penting adalah: kebebasan untuk apa, tepatnya. Jika ada perintah "amar ma'ruf nahi munkar," apa yang kita minta lagi selain kebebasan untuk melakukan kemunkaran? Dan kebaikan apa yang mungkin dihasilkan dari mengendorkan kemunkaran? Jika kebebasan manusia tidak menghasilkan kebaikan, nilai apa yang mungkin kita punyai? Apakah kita menuntut kebebasan untuk membantai enam juta manusia seperti Hitler atau puluhan juta manusia seperti Stalin? Apakah konsentrasi kemunkaran yang lebih kecil diabaikan karena kecilnya? Bukankah kebrutalan yang tak terperikan ini semata-mata merupakan akumulasi dari kemunkaran yang kecil-kecil? Jika seseorang hidup dalam kepompong kelalaian, dengan mudah ia mengabaikan hal-hal kecil ini. "Lubang berbentuk Allah" hanya dapat diisi lagi dengan Allah; bukan sesuatu yang lebih kecil. Semua kitab suci mengajarkan cinta dan kasih sayang. Taurat, Zabur, Injil semua mengajarkannya. Jika tindakan manusia tidak dilandasi cinta, takut kepada Allah mencegah orang dari melakukan kejahatan yang terburuk. Al Qur'an merupakan versi wahyu Allah terakhir yang lengkap. Seperti pendahulunya, iapun mengajarkan damai dan cinta. Semua perbuatan yang merugikan manusia disebut "dosa." Bahkan jika seorang beriman menjadi ekstrim, misalnya ia tidak mau menyentuh sesuatu yang terlarang (misalnya tidak mencuri). Ini merupakan prakondisi bagi keselamatan kita di bumi. Kita tak dapat merusaknya namun berharap untuk selamat. Barangkali, dalam masa Nietzsche, akibat dari tak beriman belum begitu tampak. Barangkali masih dapat dikatakan bahwa suatu kepercayaan metafisik masih belum berbeda dari tidak percaya. Tetapi kini kita tidak lagi memiliki 'kemewahan' itu. Segala sesuatu kini tampak jelas. Manusia pada puncak peradaban, sains, dan teknologi, tak berbeda lagi dari manusia gua yang mengenakan dasi dalam hal kemampuannya untuk melakukan kerusakan ia bahkan lebih buruk. "Kebencian tidak berhenti karena kebencian; kebencian berhenti karena cinta" merupakan ajaran semua agama, jantung semua agama adalah cinta. Kita tak dapat memadamkan api dengan api, melainkan dengan air; air kedamaian, air kehidupan. Iman kepada Allah, dan kepatuhan kepada perintah Allah adalah air itu. Jika iman itu mati, maka Kiamat akan segera tiba. Manusia dengan daya rusaknya, cepat atau lambat akan berpesta gila-gilaan. Pendeknya, ketiadaan iman kepada Allah hanya berarti satu: bunuh diri manusia secara masal. Nietzsche berkata: "Lenyapkan kepatuhanmu, atau dirimu sendiri! Yang kedua ini adalah nihilisme; tetapi bukankan yang pertama juga nihilisme? Itulah tanda tanya kita." Dalam "The Twilight of the Idols," Nietzsche mengamati: "Kita telah melenyapkan dunia yang sejati [dunia yang ideal Plato, Allah pada agama Kristen]. Dunia apa yang tersisa? Barangkali dunia semu? Tentu bukan! Bersama dengan dunia sejati, kita juga telah mengancurkan dunia semu!" Nietzsche tidak hanya menarik garis batas antara Allah (Necessary Being) dan alam semesta (Contingent Being) sebagaimana dibahas dalam Tasawuf dan filsafat Islam, membeberkan keberadaan alam semesta sebagai "tempat berpijak segala yang ada." Lebih mengerikan dan mungkin tak disengaja, ia menunjukkan bahwa dengan menutup pintu yang dilalui cahaya Allah, kita merusak proyeksi cahaya itu ke dalam alam semesta. Selama pintu itu tertutup, kedamaian, cinta dan hikmah bukan melimpah, tetapi kurang, dan manusia menjadi selalu makin korup, kejam dan kasar-dalam ilmu jiwa: abnormal. Tempat menjadi semakin gelap, hingga kesadaran kolektif alam semesta berubah menjadi bencana berskala global. Hal inilah yang menjadi kebalikan dari bagaimana seorang murid Tasawuf harus menempatkan tujuan Allah bagi manusia: "Aku menciptakan alam semesta bagi manusia, dan manusia Ku-ciptakan bagi diri-Ku sendiri." Pemahaman dan penerapan formula ini merupakan alasan keberadaan agama itu sendiri. Inilah yang oleh Nietzsche dan para pengikutnya diabaikan tanpa sadar. Jika Nietzsche adalah nabi atheisme, "Thus Spoke Zarathustra" adalah kitab sucinya. Namun masih tersisa satu pertanyaan yang mendasar, mengapa Nietzsche tidak puas dengan hanya kematian Allah; mengapa ia merasa perlu untuk mencari lebih dari itu dengan Zarathustra dan Superman? Alasannya ialah, ia tak dapat berhenti, dan manusia tak dapat berhenti; jiwa sucinya, meskipun tercekik, selalu berupaya untuk bersuara. Kebesarannya berada dalam fakta bahwa ia menyadari adanya sesuatu yang lebih tinggi, lebih besar, di luar konsepinya, meskipun ia tak mampu menerangkannya dalam sebuah istilah. Upayanya tergambar dalam simbol Zarathustra. Ia mencoba untuk menemukan jalan keluar dari nihilisme. Dalam tradisi kemanusiaan, ia meremehkan Allah "ada di luar sana" dalam upaya untuk memuliakan manusia. Tetapi bagaimana jika Allah tidak hanya ada di luar manusia, tetapi juga ada di dalam manusia? Dengan menolak kemahaberadaan Allah, Nietzsche juga tidak sengaja meremehkan manusia. Manusia dengan begitu dipisahkan dari cahaya ilahi dan hanya semata-mata berupa cangkang atau pembungkus luar. Ia dipisahkan dari sumur jiwanya. Dalam "The Gay Science," Nietzsche berkata bahwa manusia tidak boleh mengalir menuju Allah, melainkan harus berkumpul seperti air di dalam bendungan; ia tidak dapat melihat bahwa Allah itu pula yang mengalir ke dalam manusia, memeliharanya dari dalam, sehingga jika manusia membendung kedatangan Allah, pada akhirnya akan kering kedua sisi bendungan itu. Dengan demikian ia menyangkal kemungkinan manusia melakukan realisasi-diri, dan mengalahkan tujuan misinya. Tetapi manusia sebagaimana yang ada merupakan makhluk yang tidak sempurna, dan akan selalu mencoba untuk menyempurnakan diri; atheis atau bukan, inilah keadaan manusia. Perjuangan yang disebutkan Nietzsche telah diterapkan dalam semua aliran spiritual, di mana Tasawuf Islam merupakan kulminasinya. Dari "Birth of Tragedy" hingga tamat, inilah tragedi Nietzsche, dan tragedi ini menjadi bagian dari abad ke-20. Aldous Huxley meniru Nietzsche "Kebutuhan sejati manusia adalah untuk menemukan jalan bagi dirinya." Kematian Allah telah meracuni hidup kita sedemikian jauh hingga ia menjadi konsep definitif dalam pemikiran modern, dan inilah "the highest time" dalam istilah Zarathustra, yang kita mulai membicarakannya dalam Tasawuf. Nietzsche mencela Kristen dalam aspek supranatural karena lebih mementingkan ruh dari pada alam, karena menyangkal alam dan kehidupan dunia. Ia cukup jenius untuk melihat dikotomi ini: "Tradisi Islam lebih cocok dengan akal dan selera kami dari pada Roma dan Yunani... karena berasal dari instink yang mulia, karena mengiyakan kehidupan..." Dengan kata lain, ia melihat bahwa pasangan yang berlawanan itu di sini didudukkan dalam cara yang berbeda, dan bahwa hak tubuh diakui sebagaimana hak jiwa. Seandainya ia diberi waktu sedikit lagi, mungkin ia juga telah menyadari bahwa pergeseran nilai yang dicarinya ternyata telah diterapkan dalam Islam. Pangkal upayanya bukanlah untuk meninggalkan semua nilai, tetapi untuk meningkatkan moralitas konvensional dengan segala kepalsuan, kontradiksi dan kemunafikannya, untuk menembus konsep Kristen tentang baik dan buruk; dan "buruk" dalam Kristen tidak pernah ada dalam Islam. "Nietzsche bukanlah anti-moral dalam arti umum, ia hanya anti-moral dalam Kristen, Buddha, atau penolakan lain yang keras. Ia ingin menembus Baik dan Buruk untuk mencapai perlawanan yang pantas [menurut pikirannya] antara baik dan Buruk" yang pas dengan kategori dalam Islam. Sejalan dengan kaitan ego/kekuasan yang dibahas di atas, ia mencoba merumuskan isi kategori-kategori itu semata-mata dalam hal kekuasaan; tetapi selain itu, bekas profesor yang tak bisa tidur dan sakit-sakitan itu, dalam derita tetapi juga dalam cinta kepada dunia, mungkin dapat dimaklumi kemarahan atas kelemahannya; ia hanya bereaksi melawan kelemahannya sendiri. Baginya, hidup adalah kekuatan; karena itu oposisinya terhadap Buddhisme tidak kurang dari terhadap Kristen, demikian pula terhadap semua agama yang menyangkal atau meloloskan diri dari dunia. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
