SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF
PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA

Naskah asli: Henry Bayman 
http://home.att.net/~nungan/sufism/
Diterjemahkan: R. Sunarman

MIMPI BURUK DARI KEGILAAN

Nietzsche, yang berkata: "Allah telah mati," akhirnya menjadi gila.
Dalam pendahuluan mimpi buruk yang dikarakterkan pada Zarathustra,
Nietzsche memberi kita pandangan yang langka dan mengenai keadaannya:

"Aku telah membelakangi semua kehidupan, begitulah mimpiku. Aku
menjadi penjaga malam dan penjaga kuburan di atas kastil kematian di
pegunungan yang sunyi. Di atas sana aku menjaga peti matinya... Hidup
yang telah dibunuh, melihatku keluar melalui peti mati kaca. Aku
mencium bau keabadian yang berdebu: pengap dan berdebu jiwaku. Dan
siapa yang dapat menghidupi jiwaku di sana?"

"Kegemerlapan tengah malam selalu melingkupiku; kesendirian meringkuk
di dekatnya; dan ketiga: keheningan kematian adalah kawanku yang
terburuk. Aku memegang kunci-kunci, kunci yang paling berkarat dari
semua kunci; dan aku tahu bagaimana menggunakannya untuk membuka
gerbang yang paling berisik. Seperti raungan kemarahan yang jahat,
suara itu berlari melalui lorong panjang ketika daun pintu digerakkan:
burung ini berteriak kasar mengerikan. Namun yang lebih mengerikan
adalah saat ketika kesunyian itu datang kembali, dan aku duduk sendiri
dalam kesunyian yang tak setia itu."

"Begitulah waktu berlalu dan merangkak, jika waktu itu masih ada...
Tetapi pada akhirnya hal itu terjadi dan membangunkanku. Tiga kali,
pukulan menimpa gerbang itu seperti halilintar; bunyinya bergema dan
menggonggong tiga kali; lalu aku mendekati gerbang. Aku berteriak:
"Alpa, siapa yang membawa abu ini ke gunung ini? Alpa! Alpa! Siapa
yang membawa abu ini ke gunung ini?" Dan aku menekan kunci, mencoba
mengangkat pintu gerbang dan mendesakkan diri; tetapi tak mampu
menggesernya sedikitpun. Kemudian deru angin mengoyak daun pintu itu;
menimbulkan bunyi jeritan keras bernada tinggi, dan membentuk peti
mati hitam di depanku."

"Di antara raungan dan jeritan itu, peti mati itu pecah berhamburan
dan memuntahkan ribuan tertawaan. Dari seribu senyuman kanak-kanak,
malaikat, burung hantu, orang tolol, dan kupu-kupu sebesar anak
manusia, ia mengejek dan mencibirku. Kemudian aku sangat ketakutan; ia
mencampakkanku ke tanah. Aku berteriak ketakutan sekuat tenaga. Dan
teriakanku membangunkanku, dan aku sadar kembali."

Seperti yang ditunjukkan Professor Jung dalam analisisnya atas impian
ini: "Sungguh mengerikan mengungkapkan kegilaan Nietzsche... Kegilaan
adalah rahasianya, pemusnahan total pikirannya... [Mimpi itu dengan
lemah dikarakterkan sebagai musuh-musuh Zarathustra.] Siapakah
musuhnya itu? Nalurinya sendiri; musuhnya adalah dirinya sendiri. Ia
memimpikan dirinya sndiri, kasusnya sendiri, kegilaannya sendiri."

Setelah memandang Allah dengan kematian dan syaitan dalam pikirannya,
mimpi Nietzsche berbentuk suatu penerjunan ke neraka. Sejak zaman dulu
manusia berupaya untuk menguasai ketidaksadaran, untuk membongkar
rahasia-rahasianya dan untuk memperalatnya, menggunakan kunci-kunci
berkarat dari keinginan berkuasanya. Namun, ketidaksadaran selalu
terbukti kokoh dari upaya untuk menguasainya: ia mempunyai hidup,
kehendak sendiri. Keinginan untuk berkuasa bertentangan dengannya.

Ketidaksadarannya dalam mempertanyakan: "Siapa yang membawa abu ke
atas gunung?" menemukan jawaban: Nietzsche sendirilah yang membawa abu
pikirannya yang terbakar. Dan peti mati hitam [baik warna hitam maupun
peti mati merupakan simbol kematian] adalah Nietzsche pula, yang dari
dalamnya keluar ribuan tawa, tawa kegilaan Nietzsche. (Para pengamat
Zarathustra menemukan: "Bukankah engkau sendiri peti mati itu?")  Ia
mencoba untuk membuka gerbang ketaksadarannya; tetapi ketaksadarannya
juga mendorong gerbang itu dari sisi yang lain, dan menghambur ke
depan dengan raungan, menyapu lembaran tipis pikirannya,
membanjirinya, menenggelamkannya dalam isinya. Inilah yang terjadi
pada akhirnya. Ia menjadi salah satu dari "yang tidak mati", pikiran
yang mati dalam jasad yang hidup, tawa kegilaan dalam sebuah peti
mati.

Bangkit dari ketaksadaran seperti itu, apakah spontan atau terinduksi,
menjadikan orang tak berdaya seperti sebuah perahu di tengah badai
samudera. Dalam kondisi ini, hanya ada satu jalan: menjangkarkan diri
dengan kokoh ke dasar samudera: Dasar dari semua makhluk yang juga
Dasar semua ketaksadaran. Allah, dan hanya Allah yang dapat menolong
dari bencana ini. Dengan berlindung dalam Allah, dengan memusatkan
pikiran pada Allah, seseorang dapat ditolong dari tenggelam sebelum
badai mereda. Tetapi jika kita menolak Allah seperti Nietzsche, maka
tiada sesuatu yang kokoh yang tersisa sebagai pegangan, dan tiada
jalan keluar dari neraka kegilaan. Nietzsche, yang menganggap
Zarathustra dan dirinya sendiri "ahli jiwa yang tak tiada tara," tidak
terbukti kebal. 

Jika kita mengira Allah itu mati, kita ambil bagian dalam kegilaan
Nietzsche, meskipun hanya sebagian atau secara tak sadar. Jika kita
ingin menjauhi keyakinannya; jika kita ingin menghindari petualangan
ke arah yang tidak kita ketahui, kita lebih baik mengikuti petuah
berikut:

  Orang yang langkah-langkahnya engkau ikuti,
  Tujuannya akan engkau capai pula.

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke