SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF
PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA

Naskah asli: Henry Bayman 
http://home.att.net/~nungan/sufism/
Diterjemahkan: R. Sunarman

ALLAH SEBAGAI PENYEBAB AWAL

Pemikiran yang keliru mengenai Allah mungkin terjadi hanya karena
ke-tak-terhingga-an ciptaan-Nya. Salah satu kekeliruan dalam hal ini
ialah menyebut Allah sebagai Penyebab Awal, tenaga penggerak di balik
hukum alam. Namun Allah yang telah menciptakan dunia dan kemudian
membiarkannya mengatur diri sendiri dengan hukum alam telah
memisahkan-Nya dengan tembok yang Dia sendiri tidak dapat menembus,
dan hal ini menghilangkan kemampuan-Nya untuk memenuhi doa-doa. Allah
yang demikian terlalu jauh, terlalu tak terjangkau hingga tidak
'bermanfaat' bagi manusia.

Dalam realita, manusia sendirilah yang membuat rintangan-rintangan
bagi dirinya sendiri dari menerima Allah, dengan pemikiran demikian.
Sekurang-kurangnya ada dua kesalahan dalam cara berpikir itu. (Yang
ketiga telah disebutkan dalam analogi Pembuat Jam.) Pertama, bahwa
Allah digambarkan sebagai inisiator dengan rangkaian urutan
sebab-akibat yang tak terhingga, dan bila tidak ditangani dengan baik,
ada bahaya bahwa Allah ditempatkan sebagai penyebab lain dari
sebab-sebab. Karena seperti akibat, sebab pun merupakan ciptaan Allah,
argumen ini mereduksi Allah menjadi makhluk. Ini merupakan kesalahan
yang sama dengan yang terjadi pada pertanyaan: "Jika Allah menciptakan
alam semesta, siapa yang menciptakan Allah?" yang di sini Pencipta
direduksi pula menjadi makhluk - sebuah kekeliruan logika.

Dalam dunia fisik pun ada wilayah-wilayah yang diketahui ahli fisika:
hukum alam biasa tidak berlaku. Diketahui pula adanya "black hole",
materi dimampatkan hingga mencapai berat jenis tak terhingga dan hukum
fisika mengenai ruang-waktu tak berlaku. Sebagai Pencipta dari black
hole dan bagian lain alam semesta, Allah dapat diberi hak, minimal
atas "black hole" dengan memisahkan-Nya dari kelompok dan
kaidah-kaidah benda fisik. 

Kesalahan kedua dalam argumen Penyebab Awal adalah bahwa Allah dikenai
hukum alam. Jika Tuhanmu adalah Tuhan pemberi mu'jizat dan keghaiban,
dia terkurung dalam lingkaran hukum alam yang tak dapat dielakkannya,
dan dirampas kemampuannya untuk mencampuri urutan normal dalam
sebab-akibat. Tetapi, bagaimana jika Allah adalah Pencipta Hukum yang
menetapkan hukum alam semesta sejak semula? Cara berpikir yang benar
adalah: Allah menciptakan keduanya: alam fisik (benda dan energi), dan
hukum alam yang mengaturnya. Dengan demikian, Pencipta menciptakan
aturan yang mengikat ciptaannya. Berkata bahwa aturan itu mengikat
Pencipta, sama saja dengan berkata mobil itu mengemudikan
pengemudinya.

Jadi, bagaimana cara berpikir yang baik? Setiap saat, Allah memelihara
hukum-hukum alam yang memungkinkan alam semesta fisik dapat terbentuk.
Alam ini tunduk kepada Allah, bukan sebaliknya. Hukum-hukum ini
merupakan ekspresi dari cara Allah memutuskan untuk mewujudkan alam
semesta, tetapi alam ini tak dapat dikatakan mengikat Allah.

Sekiranya Allah telah menerapkan hukum-hukum alam sebagai cara-Nya
dalam menciptakan alam semesta, ini tidak berarti kesewenang-wenangan
terhadap dunia materi. Kaidah Newton tentang gravitasi, misalnya,
menentukan bahwa jika suatu benda dilemparkan ke atas, ia akan jatuh
kembali, tetapi ini tidak membatasi orang untuk melemparkan benda ke
atas saja; benda itu dapat juga dilemparkan ke arah lain. Semata-mata
karena ini hanya generalisasi, kaidah-kaidah sains mencakup berbagai
kemungkinan fenomena, dalam tiap kasus berlaku satu [atau seperangkat]
hubungan matematika. Materi dan energi memiliki banyak 'derajat
kebebasan' yang tidak bertentangan dengan kaidah sains. Melihat alam
semesta sebagai suatu mesin berkemungkinan tunggal berarti
penyederhanaan yang kelewat batas. Hanya masa lalu-lah yang menjadi
pengetahuan manusia, bukan masa depan.

Perhatikan bahwa pada dasarnya Allah dapat mencampuri cara kerja alam
semesta dalam bentuk yang tidak ajaib namun juga tidak mudah
dimengerti. Allah dapat membawa hasil yang pada keseluruhannya sesuai
dengan hukum alam hanya dengan mengatur urusan-urusan sedemikian rupa
hingga menghasilkan sesuatu yang dikehendaki-Nya, tanpa harus
menyimpang dari hukum-hukum alam. Kemaha-kuasaan tidak selalu berarti
kekuasaan untuk menciptakan mu'jizat, tetapi juga berarti kekuasaan
untuk tidak memerlukan mu'jizat untuk menghasilkan sesuatu hasil. Pada
setiap saat, kejadian-kejadian yang tak terhingga banyaknya terjadi di
seluruh alam semesta, yang tidak dapat dimonitor oleh manusia
sekaligus, atau, meskipun bisa, tidak mampu memperhatikannya. Hanya
Allah-lah yang memiliki pengetahuan tak terhingga semacam itu; manusia
tak dapat mengatakan dengan tepat bagaimana Allah memperoleh suatu
hasil; kapan, di mana dan bagaimana Dia mengubah parameter-
parameternya. Setiap pengaruh lokal bisa dibuat melalui suatu
interaksi non-lokal yang jika disebarkan ke segenap alam semesta,
masing-masing akan menjadi terlalu kecil untuk dapat diamati. Kita
boleh menyimpulkan, bahwa dalam kebanyakan kasus, Allah menentukan
hasil menurut "aturan main," tanpa perlu melawan hukum alam. Adapun
dalam perkecualian yang jarang, ini bukanlah melawan hukum alam,
tetapi lebih berupa pembuktian dari hukum itu sendiri, tepatnya karena
hal itu memang dikecualikan. Rupanya Allah tidak akan membatalkan
hukum yang telah ditetapkannya kecuali dalam kasus-kasus tertentu.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke