[EMAIL PROTECTED]

> >Setalah saya mempelajari milis yang masuk ke address, nampaknya hampir
> >semuanya bingung akan penjelasan2 (Tasawuf Akal Otak dan Akal Hati), memang
> >dalam hal ini kita tidak buruh2 menyalahkan siapa2, karena semuanya dalam
> >keadaan kebingungan.
> >
> >Bagi kita yang masih awam dalam menelusuri perjalanan Tasawuf, setidaknya
> >harus memadukan dua sisi ilmu sebagai pedoman untuk mengarahkan daya
> >nalar akal otak dan akal hati, untuk bisa mengarungi samudra tasawuf yang
> >kebanyakan membahas bagian2 stuktur tubuh yang dalam penciptaan-Nya
> >berasal dari unsur2 ghoib (unsur yang bersifat kelangitan dan keakheratan).

> >Jadi kesimpulannya agar tidak berandai-andai, bak membayangkan seseorang
> >yang berada dibalik pintu tertutup rapat dalam ruang yang gelap pula,
> >sehingga
> >gampang sekali membuat kita terpeleset dalam perkiraan, dan akhirnya mele-
> >set dari jalur yang sebenarnya, jadi sebagai syarat utama seseorang pejalan
> >tasawuf terlebih dulu harus mempelajari  Ilmu pengetahuan tersebut diatas

Budi Utomo wrote:
 
> Wah kalau ini merupakan syarat, dan anda katakan harus....
> Saya mungkin adalah orang prtama yang menyatakan diri tidak
> memenuhi syarat untuk bersuluk.


Dari pengalaman saya di ruang-ruang kelas, kebingungan seorang pelajar
dapat dihilangkan dengan alat peraga, baik berupa benda tiruan maupun
benda asli, bisa juga dengan simulasi. Sayangnya, dalam tasawuf kita
mendapat kesulitan dalam menyediakan alat-alat peraga itu karena
menyangkut sesuatu yang abstrak. Kalaupun kita membedah otak, kita
tidak bisa menunjukkan mana yang disebut akal dan pikiran, kalau kita
membedah hati atau jantung kita tidak bisa menunjukkan mana yang
disebut jiwa muthmainnah, nafsu ammarah dll.

Tasawuf merupakan ilmu yang hanya dapat sepenuhnya dipahami melalui
PENGALAMAN PRIBADI. Agar dapat mengetahui panas atau dingin, kita
sendiri harus mengalaminya, dan ini tidak dapat diwakili orang lain.
Penjelasan dengan kalimat apapun tidak akan mampu menggantikan
pengalaman itu. Sebaliknya, kalau kita sendiri sudah merasakan panas
dan dingin itu, kita pun tidak mampu menjelaskan seluruhnya kepada
orang lain. 

Bagi rekan-rekan yang masih bingung, jangan terlalu resah, jangan pula
menghujat orang-orang yang berpendapat lain. Kalau anda tahan,
simpanlah kebingungan itu sampai akhir hayat, tetapi ini juga berarti
bahwa anda tidak akan sampai ke tujuan. Kalau tidak tahan, silakan
melakukan perbuatan nyata, lakukan perjalanan itu, jangan berhenti
pada diskusi mengenai peta perjalanan. Meskipun bermanfaat, peta
perjalanan tidak mutlak untuk dipahami terlebih dahulu sebelum
melakukan perjalanan, karena kita berjalan dengan dibimbing oleh orang
yang sudah mengetahui seluk-beluk perjalanan itu. Apa-apa yang kita
ragukan pada saat mempelajari peta, akan menjadi jelas ketika kita
mengalaminya. Ekstrimnya, tanpa pengetahuan akan peta pun kita sudah
dapat memulai perjalanan karena sambil berjalan, pembimbing kita akan
menerangkan segala sesuatunya; ia adalah private guide yang sangat
paham tentang wilayah tujuan kita. Bukan hanya itu, ia juga sangat
considerate dan bertanggung-jawab: ia selalu bersama kita pada saat
kita butuhkan, ia selalu mengawasi kita agar selamat dalam setiap
ancaman bahaya dan kesesatan.

Mohon maaf, hanya sejauh itulah yang saya tahu mengenai perjalanan
tasawuf.

Wassalamu'alaikum
RS



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke