AMANAT MUI DAN PP MUHAMMADIYAH

Ali Yafie berpesan amanat ini harus disebarkan kepada umat Islam lainnya.
Amanat ini merupakan pesan moral yang lebih kuat dibandingkan fatwa atau
hukum lainnya. Bagi yang ingin mencetak seruan ini ke printer agar bisa
dibaca oleh ummat Islam yang tidak mempunyai akses Internet, telah
disediakan satu file berformat Rich Text di alamat:
http://www.geocities.com/Tokyo/Island/9574/archives/fatwamui.zip (295.196
bytes)

JAKARTA -- Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengamanatkan
kepada umat Islam untuk dengan ikhlas dan niat ibadah kepaada Allah memilih
salah satu dari parpol yang secara sungguh-sungguh menonjolkan calon
anggota legislatif (caleg) yang beragama Islam dan berakhlak mulia. Amanat
ini disepakati lebih dari 40 ormas Islam tingkat nasional. 

Selain MUI, PP Muhammadiyah juga mengeluarkan seruan serupa yang
ditandatangani Pejabat Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr H A Syafi'i Ma'arif
dan Sekertaris HM Muchlas Abror. Seruan itu terdiri atas tiga hal. Pertama,
menganjurkan umat menggunakan hak pilih pada Pemilu 7 Juni mendatang dengan
sebaik-baiknya dan bertanggung jawab sesuai dengan hati nurani serta hak
asasinya sebagai warga negara. 

Kedua, umat Islam wajib memilih salah satu parpol peserta pemilu yang
mewakili kepentingan umat Islam dan betul-betul memperjuangkan reformasi.
Ketiga, umat Islam diimbau jangan memilih parpol yang mayoritas calegnya
tidak membawa aspirasi dan memperjuangkan kepentingan umat Islam. 

Pernyataan MUI dan Ormas Islam serta Muhammadiyah tersebut berkaitan
pemberian suara dalam Pemilu 7 Juni 1999. Amanat MUI ditandatangani Ketua
Umum MUI KH Ali Yafie dan Sekretaris Umum Nazri Adlani kemarin di Masjid
Istiqlal Jakarta. 

Hadir dalam pembacaan pernyataan MUI bertajuk 'Amanat Umat Islam' itu,
antara lain Ketua Umum Al Irsyad Geys Ammar, Ketua Umum PUI KH Cholid
Fadhullah, Sekretaris DMI Adang Syafaat, serta perwakilan ormas Islam lainnya. 

Amanat ini, menurut Ali Yafie, sebagai wujud hak demokrasi dari rakyat yang
beragama Islam. ''Jadi bukan untuk menaburkan rasa kebencian kepada siapa
pun. Apalagi, selama ini umat Islam tidak mempunyai rasa benci kepada
kelompok manapun. Dan, dengan siapa pun umat Islam bisa bekerja sama,''
ujarnya. 

Kecuali, lanjutnya, memang ada pihak-pihak yang nyata-nyata membenci umat
Islam. ''Umat Islam berhak melakukan pembelaan, karena kita tidak bisa
membiarkan harga diri kita diinjak-injak begitu saja,'' tegasnya. 

Ali Yafie membantah bahwa amanat ini dimaksudkan untuk menjegal PDI
Perjuangan yang banyak calegnya berasal dari non-Muslim. ''Amanat umat
Islam ini tidak ditujukan kepada seseorang atau sekelompok partai tertentu.
Tapi, saya hanya ingin memberitahukan garis-garis terpenting sebagai
pegangan bagi seorang Muslim,'' paparnya. 

Lebih lanjut, Ali Yafie mengharapkan rakyat Indonesia mengetahui hakikat
dari pemilu. Pada hakikatnya pemilu itu bukanlah memilih partai atau
gambar, hal itu sebagai media saja. Tapi yang lebih penting, pemilu itu
memilih wakil-wakil yang bisa dipercaya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. 

Sedangkan bagi umat Islam, menurutnya, aspirasi itu ada yang bersifat
duniawi yang menyangkut kesejahteraan ekonomi, kemajuan pendidikan, dan
lainnya. Tapi tak kalah pentingnya, adalah aspirasi keagamaan. Kedua
aspirasi ini hanya dapat diperjuangkan melalui wakil-wakil yang seiman
dengan umat Islam. ''Orang yang tidak seiman dengan kita (Muslim), tidak
mungkin memperjuangkan aspirasi keimanan kita,'' tegas mantan Rois Aam PBNU
ini. 

Karena itu, lanjut Ali Yafie, bagi seorang Muslim yang tidak memilih
pemimpinnya dari kalangannya sendiri sudah dipastikan bertentangan dengan
hati nuraninya. ''Selama dia beriman pasti akan menyalurkan aspirasinya
kepada orang-orang yang seiman,'' paparnya. 

Ali Yafie berpesan amanat ini harus disebarkan kepada umat Islam lainnya.
Amanat ini merupakan pesan moral yang lebih kuat dibandingkan fatwa atau
hukum lainnya, tambah Kiai asal Sulsel ini. 

Amanat untuk memilih caleg beragama Islam itu, menurut Sekretaris Umum MUI
HA Nazri Adlani, berdasarkan Surah Ali Imran ayat 28, yang berbunyi:
Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir itu sebagai
pemimpinnya. 

Menurut Nazri, dari ayat itu sudah jelas bahwa umat Islam harus memilih
caleg yang akan duduk di DPR RI, DPRD I, dan DPRD II nanti dari orang-orang
yang seiman dan ber-akhlakul karimah. 

Di samping kewajiban memilih caleg beragama Islam, pernyataan amanat Umat
Islam itu menghendaki agar bangsa Indonesia, khususnya umat Islam
menggunakan hak pilihnya secara benar dan bertanggung jawab sesuai dengan
hati nurani memilih parpol yang dapat memperjuangkan aspirasi dan
kepentingan umat Islam, bangsa, dan negara. 

PP Muhammadiyah dalam seruannya minta umat berhati-hati sebelum menentukan
parpol pilihannya. ''Sebagian pemilih belum mengerti latar belakang calon
wakil rakyat yang akan mereka pilih. Karena itu, saya menyarankan agar
mereka berhati-hati memilih parpol untuk menentukan wakilnya baik di
tingkat II, tingkat I, maupun tingkat pusat,'' kata Pejabat Ketua PP
Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif ketika dihubungi Republika kemarin. 

Syafi'i mengakui Muhammadiyah memutuskan mengeluarkan seruan setelah
melihat kondisi objektif masyarakat menjelang hari pencoblosan.
Muhammadiyah berharap masyarakat hendaknya mengerti latar belakang calon
wakil rakyat yang ingin mereka dukung. ''Ini penting sebab Pemilu 7 Juni
mendatang adalah sarana penting pelaksanaan kedaulatan rakyat. Pemilu
pertama di era reformasi ini sangat menentukan masa depan umat dan
bangsa,'' tandasnya. 

Syafi'i tidak mau menyebut partai mana saja yang tidak tepat untuk dipilih
umat Islam. Sebagai pimpinan salah satu organisasi dakwah, ia mengaku tidak
mau menyebut langsung partai-partai itu. ''Kalau itu saya lakukan, itu
sangat vulgar. Muhammadiyah adalah lembaga dakwah dan bukan gerakan
politik. Tapi, tanpa saya sebut, masyarakat saya pikir sudah tahu karena
parpol-parpol itu sebenarnya sudah cukup well understood,'' ujarnya. 

Umat Islam, ungkap Syafi'i, harus mewaspadai hal ini. Pengalaman selama 40
tahun pemerintahan otoriter di era Demokrasi Terpimpin Soekarno dan
Demokrasi Pancasila Soeharto sudah cukup menjadi pelajaran bagi umat Islam
untuk waspada. Ini sudah cukup menjadi alasan historis. 

''Terlebih saya melihat adanya kekuatan-kekuatan kecil yang kembali ingin
mendominasi panggung politik Indonesia seperti pada dekade 1970-an sampai
awal 1980-an. Dan, indikasi ini sangat jelas,'' katanya. 

Selain itu, tambah Syafi'i, umat harus bisa menilai apakah tindak tanduk
partai tersebut selama ini selalu mengedepankan nilai-nilai demokrasi
secara jujur dan konsisten atau tidak. Dalam hal ini, Syafi'i kembali tidak
mau menunjuk nama-nama parpol secara langsung. Ia hanya memberikan sejumlah
isyarat. 

''Masyarakat sebenarnya tentu tahu partai-partai mana saja yang sejak
semula memperjuangkan nilai demokrasi secara konsisten. Bisa saja partai
tersebut dulunya kurang baik tapi sekarang mereka sudah menunjukkan iktikad
untuk berubah. Asal partai-partai ini betul-betul berubah,'' katanya. 

Seruan serupa juga dikemukakan Wakil ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB)
Hartono Mardjono. Dalam kampanye di Tangerang, ia menyatakan umat Islam
saat ini sedang menghadapi bahaya besar berupa upaya sekularisasi yang
dilakukan oleh sejumlah parpol. Bahkan, upaya tersebut juga dilakukan
sejumlah tokoh reformis yang dapat menjual suara umat Islam kepada pihak
lain. ''Ini bahaya besar yang harus segera diatasi,'' tegasnya. 

Menurutnya, PDI Perjuangan saat ini banyak calegnya non-Muslim. ''Bagaimana
kalau wakilnya non-Muslim akan menyampaikan aspirasi 90 persen rakyatnya
yang Muslim. Ini yang paling bahaya,'' tegasnya.

----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/sabili
http://www.egroups.com - Simplifying group communications





---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke