Assalamu'alaykum wr. wb.

Pak Hasan.... ikutan cuap-cuap ya?
Tapi tolong dipahami saya hanya tukang dongeng. Jadi pendekatannya pun
pendekatan dongeng.
Siapa tahu aja bisa nyambung. Lumayan kan... mengangkat harkat & derajat
dunia dongeng.  :)

>
>Niat kita adalah mencari kebenaran. Cuma itu, tidak ada yang lain.

Alhamdulillah, semoga kehausan kita akan pengetahuan ini pertanda bahwa
Allah berkehendak memberikan kebaikan untuk kita.

>
>Saya belum mengerti maksud mbak Yani, yang mengatakan bahwa 'yang tak
>terhingga' yang dimaksudkan bukannya besaran tapi dimensi. Apakah dimensi
>dalam pengertian matematika/fisika, dimensi topologi atau dimensi fraktal?
>Apakah itu bukan suatu besaran ??????

Mungkin yangdimaksud dimensi adalah dimensi pencerapan. Atau bahasa
'jawanya' = paradigma. Kalau seperti itu, tampaknya matematika/fisika,
topologi atau fraktal adalah contoh-contoh dimensi.
Sehingga ketika disebut 'yang tak berhingga' artinya dimensi (paradigma)-nya
ttg Allah itu tak berhingga.

>
>Tetapi yang jelas Allah TIDAK PANTAS disamakan dengan Yang TakBerhingga.
>
>Penjelasan saya adalah sbb.
>Hal ini adalah didasarkan pada Teorema Cantor tentang denumerabilitas yang
>telah dibuktikan secara eksak!!  matematis. Singkatnya, teorema ini
>menunjukkan ADA himpunan yang KETAKBERHINGGAAN-nya LEBIH HEBAT daripada
>KETAKBERHINGGAN-nya bilangan asli ( 0,1,2,3,........ ). Jadi konsep
>KETAKBERHINGGAAN dapat DIBAGI menjadi 'hebat' dan tidak 'hebat', ia
>berhirarki.

Senang sekali kalau bisa dijelaskan lebih detil...

>Tetapi ALLAH ADALAH MAHA SUCI,  dan Yang Maha Sederhana menurut Mulla
>Shadra. Ia tidak bisa dibagi-bagi, Inilah salah satu konsekwensi
>KEMUTLAKAN ALLAH.
>
>          " Laisa kamitslihi syai'un wa-la huwa mitslu sya'in "
>   { Tiada menyerupai akan Allah oleh sesuatu dan tiada menyerupai Ia akan
>     sesuatu }
>
>Yang Benar adalah
>
>                           ALLAH ADALAH ALLAH

Dalam dunia dongeng, kalimat tersebut sering dinyatakan dengan DIA ADALAH
DIA.

Sedangkan Allah adalah salah satu dari wajahNya. Karena itu Allah termasuk
dalam asma al-husna.
Ayat "Laisa kamitslihi syai'un wa-la huwa mitslu sya'in" sesunguhnya
bercerita ttg DIA, bukannya ALLAH. Kenapa begitu? Karena diayat tsb
digunakan kata-kata amtsal (analogi). Dan amtsal sendiri hanyalah
analogi/perumpamaan, bukannya persamaan/kesetaraan.

DIA itu, diumpamakan saja tidak bisa.
Sedangkan ALLAH masih diberikan perumpamaannya di QS. An-Nur:35 dengan
cahaya langit & bumi.

Ini berarti, asma ALLAH adalah asmaNya yang paling dekat tapi, masih bisa
kita pahami (setidaknya perumpamaannya).

>
>Inilah prinsip IDENTITAS, suatu prinsip TERTINGGI dalam  ILMU WUJUD.

Rasanya Identitas itu ada terhadap sesuatu yang masih bisa diidentifikasi.
Lha... bagaimana kita bisa mengidentifikasi sesuatu yang perumpamaannya saja
tidak ada.

Karena itu dalam dunia dongeng, perwujudan tertinggi adalah TIADA.

>
>Beberapa waktu lalu, ada peserta milis ini yang bingung dengan penjelasan
>pak Sunarman atas hubungan Allah dengan Al- Qur'an, bingung dengan :
>'ketidaksempurnaan' al-Qur-an dibandingkan dengan Allah. Para filosof
>perenial seperti Muhammad Isa Nurrudin , menyebut al-Qur-an dengan MUTLAK
>YANG RELATIF, sebuah istilah yang problematik bagi sejemlah orang. Dengan
>bantuan teorema Cantor diatas, istilah MUTLAK YANG RELATIF dan penjelasan
>pak Sunarman, dapat dimengerti dengan mudah ( ??????? )
>Itulah pentingnya matematika/fisika.

???????? = ?
Pak Hasan, ?????? dong...

>
>Tetapi kita tidak bisa MENGAKSES LANGSUNG prinsip identitas tertinggi
>tersebut, yang penjelasannya ada dalam ilmu metamathematics, yang saya
>segan untuk membahasnya sekarang.
>Lalu, Bagaimana Yang Relatif bisa mendekati Yang Mutlak ???
>Balaghah Qur'an menjelaskannya, caranya adalah dengan memahami methapor,
>dimana kesimpulan terpenting filsafat bahasa postmodernisme adalah
>bahwa kunci untuk memahami wujud (baca: bahasa) adalah metapor.
>
>Allah menjelaskan DIRINYA sendiri dalam al-qur'an di sebuah surat YANG
>SANGAT MISTERIUS : an Nur 35.
>
>            Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi. Cahayanya.......
>
>Itulah metaphor, tentu Allah BUKANLAH cahaya seperti orang awam maksudkan.
>Kenyataannya, cahaya menurut fisika memang sungguh sangat menakjubkan.
>Seluruh alam dirembesi cahaya, informasi berjalan melalui cahaya, bahkan
>Lubang Hitam pun tetap mengeluarkan cahaya.

Betul, inilah contoh metaphor/analogi/amtsal. Di akhir ayat tsb ditegaskan,
"Wa yadhribullahu al-amtsaala linnas" (Dan Allah mengadakan
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia).

Karena itu kalimat, "Allah adalah Cahaya Langit dan Bumi" di awal ayat
menunjukkan bahwa Allah itu masih bisa di-metaphor-kan.

Di dunia dongeng, cahaya elektromagnetik itu disebut dengan cahaya bumi.
Padahal di ayat tsb, dikatakan bahwa metaphor Allah bukan hanya seperti
cahaya bumi, tapi juga cahaya langit.
Di Al-Qur'an, kata-kata setelah 'wa' (dan) itu juga menjelaskan sekaligus
menujukkan akibat dari kata-kata sebelum 'wa'. Sehingga terlihat, bahwa
cahaya bumi (elektromagnetik) adalah akibat dari cahaya langit.
Bahkan kalau dalam pemahaman saya, cahaya bumi adalah perumpamaan dari
cahaya langit. Dan cahaya langit barulah perumpamaan dari Allah.

Nah ini semua adalah kunci dari memahami ttg Allah. Bukan ttg DIA. Karena
DIA itu tak terpahami.
DIA itulah yang di dunia dongeng di sebut, Batinnya Allah.
Dan untuk yang ini, adalam suatu hadits bahkan rasulullah Muhammad saw
berkata, "Aku adalah orang yang bodoh ttg batinNya Allah".

Atau di hadits lain dikisahkan bahwa para sahabt bertanya, apakah di surga
kelak, kita akan bisa menyaksikan Allah. Maka Rasulullah saw ber-metaphor,
"Apakah berbahaya bila kita melihat bulan purnama?".
Itu berarti kita nanti akan menyaksikannya seperti menyaksikan bulan
purnama. Di mana bulan purnama itu waktu orbit dan waktu rotasinya sama.
Artinya, yang menghadap ke bumi selalu sisi yang sama, sehingga selalu ada
sisi yang gelap tak terlihat oleh manusia. Itulah batinnya Allah. Itulah
DIA. Gelap tak terpahami.

>
>Sekian lanturan yang semoga bermanfaat ini.
>
>Saya kembali lagi ke topik EKSAK, kata kunci postingnya mbak Yani.
>Sebuah kata yang SANGAT SULIT tetapi SANGAT INTI dalam matematika/fisika.
>Misalnya :
>Sudah ratusan tahun karya Euclid " The Element " dianggap karya matematik
>yang EKSAK (Baca sejarah matematik). Tetapi dalam perkembangannya, para
>matematikawan menemukan banyak ketidakeksakan-nya, misalnya dalam
>penyusunan aksiomanya dll. Dan SAMPAI SEKARANG pun BELUM ADA KESEPAKATAN
>di dalam matematika apa yang dinamakan Eksak itu. Misalnya Mahzhab
>Formalist dan Intuitionist SANGAT MENOLAK bukti-bukti teorema yang
>menggunakan "complete infinity" yang sering dipakai mahzhab platonis.
>Tetapi ini DAPAT diatasi dalam Metamathematics.. tema minat utama saya.
>
>Oleh karena itu saya terkejut membaca tulisan-nya mbak Yani, yang
>mengesankan bahwa mbak Yani dapat menganalisa tasawuf dengan eksak,
>tetapi karena mbak Yani masih jauuuuuuh...... ya sudah,
>berarti kesan saya tidak tepat.
>( O ya saya belum sempat lihat website-nya, terima kasih kalau ada
>  yang bersedia mengirimkan langsung ke saya )

Mungkin maksudnya begini Mas Hasan.
Eksak berarti struktur pengetahuannya ada dan runtut. Gaib berarti
pegetahuannya ada tapi tidak runtut. Runtut berarti ada sebab & akibat.
Angka 10 dinyatakan eksak, bila sudah ada 9. 9 ada bila sudah ada 8, dst.
Tapi angka 10 itu dinyakatan bilangan gaib, ketika 1 s/d 9 tidak ada, tidak
komplit atau tidak berurut.

Matematik/fisik sejauh ini disebut eksakta, karena struktur keberadaannya
dan runtutannya relatif paling komplit. Meski tetap ada wilayah yang
matematik/fisik tak mampu menjangkaunya.

Nah masalah eksakta ini, tampaknya tidak hanya monopoli ilmu-ilmu spt
matematik/fisika.
Bahkan di dunia dongeng pun dinyatakan tidak ada yang tidak eksak. Tidak ada
yang mutasyabihat. Semua muhkamat.

>
>Sudah sejak lama para pakar ingin mengeksak-kan filsafat ( tasawuf tentu
>lebih sulit lagi ). Misalnya adalah HUSSERL, tetapi usaha dia gagal,
>sehingga muncullah filsafat dekonstruksi-nya DERRIDA yang antitesis dengan
>husserl.
>Tetapi sekarang usaha husserl dilanjutkan dengan sangat aktif, misalnya di
>ILLC universitas amsterdam dan di universitas bonn.

Cerita dong.....

>
>Saya melihat kuncinya adalah di I'jaz Qur'an dan metamathematics, yang
>jika disintesakan akan menghasilkan HIKMAH PUNCAK yang adalah metodologi
>yang bisa menurunkan semua ilmu, dengan kepastian tertinggi, keeksakan
>sejati, seperti haqul yaqin dalam tasawuf.
>Akankah Allah mengizinkan seorang cendekiawan muslim merealisasikannya,
>atau-kah menunggu Imam Mahdi akhir zaman ???

Ke-eksakan itu disesuaikan dengan kebutuhan. Kebutuhan eksakta kita belum
sampai perlu menghasilkan HIKMAH PUNCAK. Karena bila hal tsb diturunkan
sekarang, besok mestinya sudah Kiamat. Karena kisah kehidupan manusia ini
adalah untuk bercerita ttg itu.

>
>Segala Puji Bagi Allah dari awal hingga akhir.
>
>Wassalam

Wa'alaykumussalam wr. wb.

>aHassan
>
>
>
>On Tue, 1 Jun 1999, Yani Qoyimah wrote:
>
>> Hendra Nur Arifin wrote:
>>
>> > Assalamu'alaikum wr wb.
>> >
>>
>> Wa'alaikumsalam Wr.Wb
>>
>> Saya sudah mengira, bahwa tanggapan saya bisa menjadi polemik
>> yang panjang................
>> Untuk itu saya tidak bisa berpanjang lebar. Karena memang saya
>> bukan ahlinya (jadi murid-pun masih belum dapat berdiri dengan
>> tegak). Masih jauuuuuuuh.........
>> Dan memang saya tidak suka berdebat.
>> "Perbedaan di antara umatku adalah Rahmat" (Sabda Rasul).
>> Perbedaan bukan berarti saling bertentangan atau berlawanan, bisa
>> jadi saling berdampingan.
>>
>> Saya hanya memancing kita semua untuk MERISET.
>> Tasawuf bukan hanya teoritis, bukan hanya ilmu otak, tapi sangat
>> dalam.........
>>
>> Oh ya, yang saya maksudkan "tak terhingga" bukanlah besaran
>> (besaran hanya sebagai perumpamaan di alam fisika, hukum di alam
>> fisika dan metafisika adalah paralel), tapi DIMENSI. Dimensi
>> manusia terbatas sedangkan dimensi ke-Tuhanan adalah tak
>> terbatas.
>>
>> > Ibu Yani, apakah Tharikat yang Haq itu sekarang ini hanya SATU
>> > atau bisa
>> > BEBERAPA?
>> > dan apa saja kriterianya?
>> > Terimakasih
>> >
>>
>> Seperti pernah saya kutipkan sebelumnya, bahwa :
>> Sinar matahari itu berjuta-juta jumlahnya. Tapi sebenarnya sinar
>> matahari itu SATU juga.
>> Jalan kepada Allah itu UNIVERSAL. Jalannya melalui RasulNya
>> masing-masing.
>> Tapi, The Link of God itu SATU.
>> Kalau kita ketahui banyak aliran tasawuf & thariqat di dunia ini,
>> tapi sebenarnya mereka membawa SATU, Kalimah Allah.
>>
>> Kalau ingin mengetahui tentang konsep ini silahkan baca di :
>> http://www.geocities.com/ResearchTriangle/Thinktank/5346/
>>
>> Via japri juga boleh.......
>>
>> > Wassalamu'alaikum wr wb.
>> >
>>
>>
>>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke