Assalaamu'alaikum wr. wb.

Ali Abidin wrote:
 
> Kalau saya benar-benar ingin bertanya, maka saya akan harus bertanya untuk
> setiap kalimat yang ada dalam tulisan ini. :-)

Untuk itulah maka saya sertakan kalimat:
 Satu hal lagi: jika anda menolak atau tidak mengerti perkataan ini,
 that is OK. Dalam tasawuf, adalah normal bila kita tidak menerima
 sesuatu gagasan sebelum kita sendiri melihat atau merasakannya.
 Jalaluddin Rumi pernah berkata, "Kebenaran itu ada di dalam dirimu;
 bandingkan ajaran pembimbingmu dengan itu; bila sesuai, ikuti nasihat
 itu." 
 
> Tidak ada satupun yang bener-bener nyantol di kepala saya (dasar orang ndeso
> ya? :-) ... Tapi pembicaraan di sini rasa-rasanya hampir mirip dengan
> "Perbincangan Burung-Burung" dari fariduddin Attar yang pernah dikutipkan
> ringkasannya di milis ini.

Ya, tetapi orang cenderung menganggap kisah itu sekedar dongeng, bukan
kisah nyata yang disampaikan secara metaforik.
 
> Sudah ada petanya, saya harus tahu posisi saya saat ini di mana, dan juga
> tujuan kita mau kemana. Kalau saya tidak salah tebak, dalam peta ini posisi
> saya ada di pukul 6 ya? Tujuan kita tentunya ada di pukul 12. Nah, bila
> bener demikian maka berarti saya bisa jalan mundur (5, 4, 3, 2...), ataupun
> maju (7, 8, 9 ..). Apakah kedua arah tersebut memang bisa ditempuh? Kalau
> saya tidak salah mengerti, rasanya di luar islam bahkan banyak orang yang
> mampu berjalan mundur ke 5, 4, dst, lengkap dengan buku-latihan-latihan
> konsentrasi dll...

Kita memang berada pada posisi pukul 6, tetapi secara tak sadar
kadang-kadang mencapai pukul 8.

Bagi orang yang menganggap perjalanan itu mundur, maka peta perjalanan
itu bukan berbentuk lingkaran, tetapi garis lurus. Orang mondar-mandir
di garis itu. Ilustrasi berupa lingkaran tentu saja bermakna bahwa
meskipun kita berjalan kembali menuju asal, kita memperoleh
pengalaman-pengalaman baru yang bermanfaat dalam memuliakan diri kita.

Buku-buku petunjuk di kalangan non-Islam memang ada, tetapi setiap
aliran tariqat dari agama apa pun yang pernah saya jumpai, tak satu
pun yang merekomendasikan agar kita menempuh perjalanan tanpa
pembimbing, karena medan yang dilalui 'asing' dan penuh bahaya.
Membaca buku saja tidak cukup; tak seorang pun dapat menolong bila
kita tersesat atau salah pilih. Yang paling ketat justru aliran-aliran
dalam Islam: mursyid tetap diperlukan meskipun oleh orang yang sangat
berbakat sekalipun. 
 
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
RS



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke