Budi Utomo wrote:

> Saya juga sudah mengunjungi homepage-nya Subud.
> 
> Apa yang saya tangkap disana, sepertinya setiap manusia dalam mencari dan
> berbakti kepada Tuhannya tidak perlu atau tidak harus beragama.
> 
> Dengan jalan 'tertentu' pun kemungkinan bisa 'sampai'.
> 
> Apakah pendapat saya ini benar?
> 
> Mohon saran dari Abah dan rekan-rekan.


Assalamu'alaikum wr wb,

Saya rasa, anda menangkap kesan itu dengan benar.

Kita perlu melihat kenyataan bahwa di luar jalur Islam, orang pun
mempunyai cara tersendri untuk mencari Tuhannya hingga dapat berserah
diri kepada-Nya. Sebagian mengaitkan tariqat itu dengan satu agama
tertentu, sebagian mengaitkan dengan beberapa agama, dan sisanya tidak
mengaitkannya dengan agama apapun sehingga terkesan mereka itu 'tidak
beragama'. Dua bagian yang terakhir ini sulit untuk dimengerti oleh
kita yang telah terbiasa dengan mempelajari satu agama saja. 

Pada umumnya kita masih bersilang pendapat mengenai apa yang disebut
"Tuhan" itu, dan ini akan terus berlangsung sebelum kita sendiri
menemukan-Nya atau selama kita hanya merasa tahu mengenai Tuhan
berdasarkan konsepsi angan-angan atau olah pikir. Karena dalam hal
sasaran pencarian pun kita masih bersimpang siur, maka dapat dimaklumi
bahwa berbagai jalan yang tersedia sangat membingungkan. Selama kita
sendiri belum mengetahui dengan haqqul yaqin, maka sebaiknya kita
tidak menilai apakah suatu cara itu akan sampai atau tidak. 

Saya punya satu tip untuk mengetahui apakah seseorang itu layak kita
ikuti bimbingannya menuju Allah. Logikanya, ia hanya pantas menjadi
pembimbing jika ia sendiri sudah 'bertemu' dengan Allah. Orang yang
demikian ditandai oleh karakternya, yaitu memiliki sifat-sifat
keutamaan Allah sebagaimana yang diuraikan dalam asma-ulhusna. Ketika
bertemu orang itu, timbul kekaguman kita akan kemuliaannya:
perilakunya menyenangkan, mengagumkan dan menimbulkan keinginan agar
kitapun ingin memiliki karakter seperti itu. Ia berpembawaan agung,
bijak, berwibawa, tetapi juga lembut dan penuh kasih. Seperti Allah,
ia membantu (memberi) tanpa mengharapkan imbalan. Kita merasa senang
dan tenteram bila berada di dekatnya. Biarpun kita datang kepadanya
dengan membawa sepikul masalah, beban itu hilang ketika bertemu
dengannya. Dia pun menguasai makna kitab-kitab suci dengan baik.

Tasawuf merupakan aliran yang mengaitkan pencarian itu dengan ajaran
Islam [meskipun kadang-kadang mengacu pula kepada ajaran agama lain];
tetapi mengambil jalur yang pasti, yaitu orang diarahkan untuk memeluk
Islam dengan benar. Biarpun ketika masuk aliran ini seseorang dalam
keadaan kafir, dalam perjalanan itu ia akan menjadi Islam.

Aliran Subud tidak mempersoalkan agama; Subud memang mengaku tidak
mengajarkan agama. Dalam pandangannya, agama hanyalah wadah atau
bentuk luar yang tak perlu dipersoalkan; yang penting isinya. Orang
Islam yang masuk dibiarkan tetap Islam, orang Kristen dibiarkan tetap
Kristen, orang Buddha dibiarkan tetap Buddha, orang tak beragama
formal tetap dibiarkan demikian. Dalam aliran itu orang bukan diberi
pelajaran atau indoktrinasi, tetapi sekedar diajar untuk berbuat nyata
menurut metode mereka, hingga orang dapat menemui Tuhannya [apapun
Tuhan itu menurut konsepsi pikirannya masing-masing] dan jiwanya
ditundukkan agar hanya patuh kepada Tuhannya itu. Inilah yang mereka
sebut sebagai Islam [berserah diri] secara hakikat, terlepas dari
apakah anda setuju atau tidak dengan penyebutan ini.

Masalah 'sampai' atau tidak, sebenarnya tergantung dari kita sendiri.
Kalau kita mampu menempuh suatu jalan, maka atas bimbingan Tuhan yang
kita cari itu, kita pasti sampai. "Bila hamba-Ku datang kepada-Ku
berjalan, Aku akan datang kepadanya berlari". Tetapi pada kenyataannya
banyak orang yang berhenti di tengah perjalanan karena kehabisan
kemauan. Orang masih saja tidak rela melepaskan BELENGGU kenikmatan
duniawi; padahal ini merupakan syarat mutlak agar kita dapat menemui
Tuhan kita.

Kita sering mendakwa diri mempunyai cara [demikian pula: agama] yang
paling sempurna dan dapat mencapai tempat yang lebih baik dengan lebih
cepat. Kalaupun dakwaan itu benar, kita jangan sampai lengah dengan
kenyataan, bahwa meskipun kita punya jalan bebas hambatan dan kita
melaju di atasnya dengan BMW terbaru, belum tentu kita menang bila
berpacu dengan orang lain yang hanya melewati jalan tikus dan hanya
mengendari sepeda rongsok, dalam mencapai sesuatu tujuan. Terlalu
banyak parameter yang menentukan suatu keberhasilan, dan dalam hal ini
jangan melupakan perkenan Allah. 
 
Wassalamu'alaikum wr wb,
RS



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke