Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Masih dalam rangka mengikuti ajakan agar menceritakan kecintaan kepada
Rasulullah SAAW pada bulan Rabiul Awwal ini. Saya teringat suatu prosa
pendek yang pernah saya baca, prosa tersebut sangat menyentuh. Sayangnya
sudah saya odhal-adhel (obrak-abrik) di mailbox ternyata nggak ada lagi
prosa tersebut, oleh karena itu saya coba rekonstruksi  berdasarkan ingatan.
Saya cuman mengingat napas dari prosa tersebut tapi tidak mampu mengingat
seluruh detailnya.  Kalau ada rekan yang mengetahui prosa asli tersebut
barangkali bisa juga dikirimkan ke milis ini. 

Di bawah ini adalah hasil rekonstruksinya...
================================

BILA RASULULLAH SAAW MENJENGUK KITA

Bayangkan apabila Rasulullah SAAW tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah
kita... 
Apa yang akan kita lakukan? 
Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau dan mempersilahkan
beliau masuk ke ruang tamu kita. 
Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah SAAW sudi
menginap beberapa hari di rumah kita.

Tapi barangkali kita meminta Rasulllah SAAW menunggu sebentar di depan pintu
karena kita teringat video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita
tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam. 
Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang
kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juag memindahkannya
ke belakang. 
Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang
samping dan kita meletakkannya di ruang tamu. 

Bagaimana bila kemudian Rasulullah SAAW menginap di rumah kita? 
Barangkali kita teringat bahwa anak kita lebih hapal lagu-lagu barat
daripada menghapal Sholawat kepada Rasulullah SAAW. 
Barangkali kita menjadi malu bahwa anak-anak kita tidak mengetahui
sedikitpun sejarah Rasulullah SAAW. 
Barangkali kita menjadi malu bahwa anak kita tidak mengetahui satupun nama
keluarga Rasulullah dan shahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai
anggota Power Ranger. 
Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar menjadi ruang Shalat.
Barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki
koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah SAAW. 

Belum lagi koleksi buku-buku kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi
kaset kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi karaoke kita dna anak-anak
kita.
Kemana kita harus meyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati
junjungan kita? 

Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak
pernah ke masjid. 
Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib keluarga kita sibuk di
depan TV. 
Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu
kita untuk mencari kesenangan duniawi. 
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan
sholat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca
AlQuran

Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga
kita.
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAAW menanyakan kepada kita
siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah SAAW bertanya tentang nama dan
alamat tukang penjaga masjid di kampung kita.

Bayangkan apabila Rasulullah SAAW tiba-tiba muncul di depan pintu rumah
kita... 
Apa yang akan kita lakukan? 
Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilakan beliau masuk dan
menginap di rumah kita? 
Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke
rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.

Maafkan kami ya Rasulullah .........



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke