Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Someone yang ingin namanya tidak disebut, menulis:

> Pertama saya tertarik pada makanan, mungkin Pak sunarman banyak pengetahuan selain 
>terjemahan tersebut, didalam terjemahan tersebut disebutkan bahwa ada makanan 'murni' 
>dan tidak murni. Mungkin Pak Sunarman bisa menjelaskan kepada saya tentang hal 
>tersebut dilihat dari apanya. Bila dilihat dari yang paling kecil, menurut 
>pengetahuan saya semua benda yang saya bisa saya lihat bahannya sama yaitu atam, atau 
>inti dikelilingi oleh elektron kata para ahli atau yang saya terima dari sekolah 
>dulu, kemudian besarnya atau apanya ya inti sehingga mempengaruhi banyaknya elektron 
>yang mengililingi. Kemudian atam-atam tersebut bergabung-gabung satu sama lain dengan 
>suatu energi tertun katanya. Sehingga yang ada  adalah ada materi dan enegi.
> Dan kemudian orang makan, hanya mengambil energi yang mengikat-ikat atam-atom tsb. 
>dan mengambil sedikit unsur-unsur yang di perlukan tubuh.
> Apa bedanya makanan yang datang dari yang hewan atau tumbuh-tumbuhan, apakah 
>energinya yang dari tumbuh-tumbuhan masih murni, atau gimana ya ?

------
Dalam pandangan orang awam, makanan hanya dilihat dari energi fisik
yang dihasilkannya, tetapi kalangan spiritual memperhatikan pula
energi spiritual yang dibawa makanan itu. Makanan yang murni adalah
yang mengandung energi spiritual yang mendorong orang untuk melakukan
perbuatan positif, sedangkan makanan yang tidak murni menimbulkan
dorongan untuk melakukan tindakan yang tidak membangun. Menurut
kalangan Theosofi, golongan makanan tak murni adalah daging atau darah
binatang, minuman yang memabokkan, dan sayuran yang ofensif (cabai,
lada, bawang merah dll.) Konon, makanan yang paling murni secara
spiritual adalah tanaman yang ditanam
sendiri. 

Ada suatu kisah, seorang petani membajak sawah sambil mendendangkan
lagu cinta kepada anak-anak dan isterinya. [Ini untuk menggambarkan
dedikasi yang tulus dari petani itu kepada keluarganya ketika
melakukan pekerjaan]. Akibatnya, hasil panen petani itu menghasilkan
rasa cinta kasih dalam hati keluarganya. Biarpun hasilnya sedikit,
keluarganya puas. 
Kisah lain: seorang isteri memasak makanan untuk keluarganya dalam
keadaan terbenam di dalam rasa kasih sayang kepada anak dan suaminya.
Maka masakannya, meskipun rasanya sedikit ngalor-ngidul, menimbulkan
rasa puas pada keluarganya.
Dari kedua kisah itu kita dapat mengambil analogi: bagaimana kalau
kita, orang Islam, sambil bekerja mencurahkkan dedikasi pekerjaan itu
demi Allah...


> Oya ada lagi, ini dipandang dari sudut Islam, apa bedanya hewan yang di sembelih 
>dengan nama Alloh dengan hanya yang mati biasa apanya yang membedakan, atau energinya 
>juga atau apanya atau ?.
---
Energi fisiknya sama. Energi spiritualnya lain. Penyebutan nama Allah
ketika menyembelih hewan itu menetralkan energi buruk yang merupakan
bawaan dari hewan.


> Lagi Pak, makanan yang dibeli dengan uang haram dengan makanan yang di beli dengan 
>uang halal padahal makanannya halal bila dilihat dari hukum Islam, dilihat dari 
>apanya juga.
---
Energi fisiknya sama. Energi spiritualnya lain. Energi buruk yang
berasal dari uang haram menyatu dengan makanan yang dibeli dengan uang
itu. Ketika dimakan, energi buruk itu akan menyatu dengan orang yang
memakannya. Bukan hanya makanan; apapun yang dibeli dengan uang haram
itu seolah-olah api yang siap membakar apa saja. 
Untungnya, energi buruk dari uang haram itu dapat hilang bila uang
tersebut atau benda-benda yang dibeli dengannya - disedekahkan tanpa
pamrih.
Konon, sebagian sufi melakukan kegiatan 'pemutihan' itu. Mereka
membujuk para koruptor, perampok, penipu, pemeras dll untuk
menyerahkan hartanya untuk dipakai demi kemaslahatan umat manusia
tanpa mereka sendiri turut menikmati se-sen pun.
 
> Seperti hewan korban, apa hubungan antara hewan kurban dengan yang berkorban, bila 
>sekedar korban dan tidak ada hubungan apa-apa hewan korban dengan yang berkorban, 
>mengapa tidak memakai uang atau apasaja yang diperlukan oleh orang miskin. Atau hanya 
>sekedar taat kepada perintah, tetapi tidak tahu apa maksudnya. Bila saya amati 
>orang-orang yang berkorban pasti memikirkan uang, misalnya berapa harga sapi, 
>kambing, dll.
---
Seperti kita ketahui, sasaran kurban tidak sama dengan sedekah.
Sedekah dipakai untuk membersihkan [menetralkan energi negatif pada]
rezki (harta) yang kita peroleh, sedangkan kurban dimaksudkan untuk
membersihkan [menetralkan energi negatif pada] jiwa orang yang
mempersembahkan hewan korban.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
RS


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke