saya sangat menikmati cerita-cerita yang ditulis ulang oleh saudara Haryono.  
Tapi gimana kalau nama pengarangnya juga dicantumkan? Apakah itu ceritanya Ahmad
Shobary, atau Emha Ainun Najib, atau siapapun.  Menurut saya akan lebih 
representatif, karena suatu tulisan mencerminkan ide penulisnya.  
Terimakasih.....
______________________________ Reply Separator _________________________________
Subject: [Tasawuf] Kiai Bejo
Author:  [EMAIL PROTECTED] at MIME
Date:    7/8/99 9:38 AM


Assalamu'alaikum wr.wb.
     
Judulnya "Kiai Bejo"
     
Meskipun Kiai Ali Yafie tak berkenan hadir dalam Munas dan Konbes NU di 
Bandarlampung, saya masih tetap terheran-heran melihat "simpanan" kiai 
NU sebanyak itu tumplak-blak hadir dalam momen penting tersebut. Ini 
merupakan kesempatan pertama saya melihat kiai sebanyak itu sekaligus. 
Para kiai itu, seperti biasanya, memakai jubah putih dan surban putih. 
Atau sarung putih, kemeja lengan panjang (tak berleher) putih, dan 
pecinya pun putih. Pokoknya, serba putih.
Tanpa pandang bulu, para kiai itu saya salami dengan ketakziman yang 
merata. Orang boleh tak setuju, tapi saya tetap membungkuk dalam 
menyalami para kiai itu, dan juga mencium tangan-tangan mereka. Menciumi 
tangan kiai tidak akan pernah rugi karena tangan orang-orang yang paling 
dekat dengan Allah itu penuh berkah. Setidaknya, ini menurut tradisi NU.
     
Siang itu, ketika bertemu dengan orang berpakaian serba putih, saya 
membungkuk hormat sambil memberi salam, "Assalamu'alaikum, pak Kiai," 
kata saya.
Seorang wartawan, sahabat saya, menyikut sambil berbisik, "Dia bukan 
kiai. Ngawur," kata sang wartawan.
Wah, malu juga awak. Rupanya, seperti halnya tak semua yang kuning 
adalah emas, tak semua oang berpakaian serba putih adalah kiai. 
Pengetahuan saya tentang dunia kiai memang amat terbatas. Tapi saya 
berjanji tak akan lagi membuat kesalahan serupa dalam Munas itu. Saya 
mencoba berhati-hati..
Lagi pula, sahabat wartawan itu sudah hampir menjadi pemandu saya. Saya 
"taruh" dia di depan, dimana  saja, kapan saja. Tapi sekali lagi, suatu 
saat, saya toh "kepleset"". Ketika siang itu sidang komisi berjalan 
dengan panasnya, saya melenggang dari komisi A ke komisi B.
Lupa pada "protokoler" - sebagaimana disepakati teman wartawan itu - 
saya berjalan di depan. Di luar ruangan, ketika saya jumpai seorang 
kakek berdiri sendirian di tangga, saya cuma menegurnya dengan "halo" 
-biasa-biasa saja. Sedangkan wartawan kita itu saya lihat membungkuk 
dalam-dalam, menciumi tangan orang tua itu dan bicaranya pelan. Hormat 
betul sikapnya.
Mulanya saya mengira ia kebetulan bertemu mertua atau paman, yang lama 
tak ditemuinya. Tapi ketika kemudian kami duduk di ruangan sidang komisi 
B, dia bertanya, "Kenal orang itu tadi?"
"Tidak," sahut saya.
"Dia kiai besar. Di kalangan sesama kiai, dia dikenal sebagai wali Tanah 
Jawa."
"Siapa namanya?" tanya saya penasaran. Dan ketika wartawan kita 
menyebutkan namanya, kontan saya menghambur ke luar. Nama itu sudah lama 
saya dengar. Tapi tak pernah terbayangkan oleh saya bahwa penampilan 
beliau sesederhana itu. Celana panjang biasa, kemeja biasa, bersandal 
jepit, tanpa peci. Rambutnya bahkan seperti tak disisir.
Di dunia NU memang dikenal konsep tentang kiai 'indannas dan indallah. 
Bagi yang tak paham bahasa Arab, jangan gusar. Kedua istilah itu cuma 
menunjukkan adanya perbedaan tajam antara kiai yang megutamakan 
simbol-simbol luar agar dikenal baik sesama manusia, dan kiai yang 
merasa tak perlu berbuat begitu karena "inti" kekiaiannya merupakan 
urusan langsung dia dengan Allah.
Kiai kita ini jelas termasuk kategori kiai 'indallah tadi. Ia tak peduli 
orang lain tak mengenalnya sebagai kiai. Urusan pokoknya menolong orang. 
Dirinya sendiri tidak ia abaikan.
Orang pun percaya, siapa yang berurusan dengan kiai kita ini akan selalu 
bejo (beruntung). Berkah Allah bisa diminta lewat perantaraan dia. Oleh 
karena itu, saya menamakan kiai Bejo.
Di luar ruangan, Kiai Bejo tidak tampak. Saya cari di komisi A dan C. 
Tapi kiai itu tak ada di sana. Panitia pun tak tahu ke mana perginya. Ia 
mirip Nabi Khidir, atau Ki Ageng Pandan Alas, pendekar ciptaan S.H. 
Mintardja dalam Naga Sasra dan Sabuk Inten itu. Ia nyentrik. Urakan. 
Danmuncul kapan saja ada keruwetan. Kemudian amblas lagi. Entah ke mana.
     
Sia-sia saya mencarinya hari itu. Saya ingin menemuinya, untuk 
pertama-tama minta berkah. Kemudian minta maaf karena saya tak 
mengenalnya. Saya takut kesiku (kualat). Sebab, selama ini saya pun 
rupanya sudah terbiasa menilai orang hanya dari penampilan luarnya. Pagi 
esoknya, seorang menteri datang memberi ceramah. Bertemu dengan menteri 
juga merupakan kejadian langka bagi wong cilik seperti saya. Tapi 
berhubung menteri tidak bisa memberkati, saya putuskan untuk lebih baik 
mencari Kiai Bejo. Biar di lubang semut sekalipun, saya akan tetap 
mencarinya. Apa boleh buat, jadinya tak bisa menatap wajah menteri.
Doa shalat Subuh saya pagi itu saya tambahi satu pasal lagi, yakni pasal 
permintaan kepada Allah agar dipertemukan dengan Kiai Bejo. Syukur, kalau 
di Munas itu juga. Lebih syukur lagi kalau bertemu hari itu. Dengan 
perasaan enteng, saya melangkah menuju Islamic Centre. Udara panas. Di 
bawah sebatang pohon kecil, jauh di pojok gedung, saya lihat seorang 
kakek bersandar terkantuk-kantuk pada batang pohon itu. Alhamdulillah. 
Kiai Bejo. Tanpa peduli sopan-santun, saya betot tangan orang tua itu dan 
saya ciumi sejadi-jadinya. Anehnya, ia tetap merem, terkantuk-kantuk. 
Seolah tak terjadi sesuatu pun atasnya.
"Maafkan saya Kiai," kata saya.
"Dan kau tak perlu mencariku di lubang semut," sahutnya.
Saya terbengong-bengong. Tapi Kiai Bejo malah mendengkur, membiarkan 
saya tetap siaga menunggu, berjam-jam lamanya.
     
Wassalamu'alaikum wr.wb.
     
     
--------------------------------------------------------------------- 
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] 
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] 
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] 
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>From [EMAIL PROTECTED]
m
Return-Path: <tasawuf-return-1928-Rohmah_Astiwi=jkt-necsei1.ccgw.nec.co.jp@indog
lobal.com>
Received: from mailsv3.nec.co.jp (mailsv3.nec.co.jp [10.7.68.92])
     by gmsjp35.gms.nec.co.jp (8.8.8+2.7Wbeta7/3.6W/CCGW-NEC/98110313) with ESMT
P id MAA05926
     for <[EMAIL PROTECTED]>; Tue, 6 Jul 1999 12:06:07 +0
900 (JST)
Received: from TYO9.gate.nec.co.jp ([192.168.1.201]) by mailsv3.nec.co.jp (8.9.3
/3.7W-MAILSV3-NEC) with ESMTP
     id MAA23318 for <[EMAIL PROTECTED]>; Tue, 6 Jul 1999
 12:06:06 +0900 (JST)
Received: from merpati.indoglobal.com (merpati.indoglobal.com [202.146.0.241])
     by TYO9.gate.nec.co.jp (8.9.3/3.7W99062811) with SMTP id MAA21896
     for <[EMAIL PROTECTED]>; Tue, 6 Jul 1999 12:05:34 +0
900 (JST)
Received: (qmail 20421 invoked by uid 508); 6 Jul 1999 02:54:31 -0000
Mailing-List: hubungi/contact [EMAIL PROTECTED]
Precedence: bulk
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
X-Provider: http://www.indoglobal.com
Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
Received: (qmail 20315 invoked from network); 6 Jul 1999 02:54:06 -0000
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 08 Jul 1999 09:38:54 +0700
From: Agus Haryono <[EMAIL PROTECTED]>
X-Mailer: Mozilla 4.05 [en] (Win95; I)
MIME-Version: 1.0
To: [EMAIL PROTECTED]
Content-Type: text/plain; charset=us-ascii
Content-Transfer-Encoding: 7bit
Subject: [Tasawuf] Kiai Bejo
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)



Kirim email ke