>From: "Jaret Imani" <[EMAIL PROTECTED]>
>Assalaamu'alaykum ww.
>
>Saya gembira sekali membaca penjelasan pak Sunarman mengenai topik
tersebut. Siapa pun yang mengajukan pertanyaan tersebut, sebenarnya
kegalauan itu dirasakan juga oleh diri saya. Memang saya bukan golongan
orang-orang seperti kang Sejo, pak Suto dan yang lain-lain, yang kata
pak Wargino, "Orang yang sederhana yang biasanya mulus sekali jalannya
untuk menggapai tangan Illahi." Alih-alih menggapai kemudahan, yang
sering saya rasakan adalah "inner conflict" karena terlalu banyak
bertanya dan menjawab dengan mengandalkan akal (rasional) ketimbang hati
(spiritual).
>

Orang-orang macam kang Sejo, pak Suto, kiai Bejo dkk, walau mereka orang
yang tidak tahu istilah-istilah
keren seperti qanaah, zuhud, wara, ihlahs, sabar, tawakal dsb... tapi
hal-hal semacam itu sudah menjadi
'pakaian' bagi mereka. Sedangkan tukang jahitnya pakaian-pakaian
kebesaran itu belum tentu mampu
memakainya sendiri (lulusan sekolah bikin baju kali......teori
lagi.........hi..hi...hi....).

>Adakah cara, wahai pak Sunarman yth, mensimplifikasi cara memandang
sesuatu sehingga tidak hanya sekedar dengan akal (rasional) semata namun
juga dengan hati (spiritual). Namun tanpa terjebak dalam perangkap
spekulasi dan syirik.
>
>Misal, mengapa setiap bangun tidur, kita disunnahkan untuk mencuci
tangan sebelum mencelupkannya dalam bak air, mengapa saat mengenakan
sesuatu kita disunnahkan mendahulukan yang kanan sebelum yang kiri (atau
sebaliknya), mengapa...mengapa yang lain.
>
>Tentunya saya mohon shadaqah ilmu dari rekan-rekan yang lain.
>

Sekedar tambahan pendapat mas barangkali bermanfaat:
Upaya mendapatkan jawaban pengertian dari sudut pandang syariah juga
baik untuk memenuhi
tuntutan akal  yang selalu minta jawaban atas segala yang dilihat maupun
didengarnya.

Tapi tidak kalah pentingnya adalah melakukannya sendiri secara ihlash,
insya Allah kefahaman
akan datang kedalam hati kita.

Saya pribadi juga mempunyai hal serupa dengan anda tatkala saya tanyakan
kepada ahlinya
(tentang syariah) pikiran puas dengan jawaban itu, tapi ada bagian lain
yang kurang sreg.

Lalu saya tanya kepada seseorang yang lain:
Pak mengapa anda selalu puasa sunah Senin-Kamis?
Orang itu menjawab dengan sederhana tapi yakin :"Enggak tahu mas....lha
Rasulullah
juga selalu melakukan itu", jadi saya ya ikut-ikut beliau saja semoga
dapat berkah.
Pertanyaan yang lain saya tanyakan:
Mengapa anda suka sekali membaca sholawat nabi?
Dengan sederhana juga dia menjawab: "Wah anda ini tanya yang
susah-susah... saya
juga tidak tahu mas, yang saya tahu karena Allah menyuruh begitu... ya
saya ikut".
Saya ini siapa to mas..mas... semua kebutuhan saya sudah dipenuhi oleh
Allah SWT
kalau saya diperintah tapi tidak melakukan, wah  takut kuwalat.

Di sini saya melihat dua pendekatan, yakni pendekatan teoritis dan
empiris.
Keduanya tidak salah (menurut saya), tapi saya sendiri lebih puas dengan
cara yang kedua.
Lakukan saja dengan ihlash walau tanpa pemahaman secara teoritis(bukan
berarti tidak didukung
syariat lho), insya Allah kita akan diberi kefahamaman plus amal
kebaikan (pahala) plus hikmah,
plus perubahan diri ke arah positif plus...... (banyak plusnya).

Sedang cara pertama(teoritis) hanya sekedar menghilangkan dahaganya akal
akan jawaban
pertanyaan itu. Untuk selanjutnya ada dua kemungkinan, pertama sadar dan
ingin melakukannya,
yang kedua mungkin hanya berhenti sebagai pengetahuan saja.

Wallahu a'lam bishowab,
Kurang lebih mohon maaf,
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino




---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke