BismilLahirRahmaanirRahiim Assalaamu'alaykum ww. [Judul topik yang romantis ini diilhami dari lagu "Love is blue"]. Para guru, para salik dan rekan-rekan yang terhormat, berikut saya ingin mengutarakan unek-unek yang terpendam. Sama sekali bukan maksud saya untuk menggurui atau pamer, justru bisa jadi pemikiran saya ini keliru sehingga perlu dikoreksi, Insya Allah. Mungkin agak ngalor-ngidul. Namun, menurut saya, mudah-mudahan tetap berada dalam arus besar perbincangan dan pencarian kita.Intinya, adalah inilah kegalauan yang saya alami dan penemuan sesuatu di tengah kegalauan itu. Maaf kalau agak panjang. Kegalauan ------------- Tak salah jika mas Ahmad Fauzi pernah memposting (meski baru tulisan pertama) mengenai kegalauan banyak manusia. Bisa jadi kegalauan tersebut bukan hanya dirasakan oleh manusia melainkan juga oleh suatu budaya. Oleh banyak pakar dan pemikir, kegalauan tersebut diakibatkan oleh keterasingan (istilah kerennya = alienasi) manusia dari inti / jati dirinya sendiri yang mulia dan agung. Begitu jauhnya banyak manusia dari jati dirinya tersebut melahirkan budaya-budaya yang justru meletakkan manusia pada kehinaan dan kenistaan. Semisal, seks bebas, kekerasan / kekejian, narkotika / obat-obat bius, minuman keras, konsumtivisme, penindasan industri, etika bisnis / monkey bisnis...dan lain-lain (yang jika ditulis di sini akan menghabiskan biaya pulsa...he..he...he..). Beberapa pakar melihat hal tersebut sebagai proses kedewasaan manusia dalam mencari jati dirinya. Akan tetapi, pakar lain melihat sebagai produk kekeliruan filosofi manusia dalam memandang kehidupannya. Pokoknya, yang jelas! semua itu ada dan tidak jauh dari sekitar kita. Lihat saja, wajah-wajah yang terpampang di banyak video clip (barat - indonesia), iklan film / video, internet, majalah....atau yang berderet-deret menunggu di halte bis, pasar, mall, kampus, dll. Banyak pandangan mata yang nanar, kosong, lelah. Sebenarnya agama-agama besar mengajarkan kearifan dalam memandang kehidupan ini. Akan tetapi ajaran-ajaran luhur itu harus bertarung habis-habisan menghadapi serbuan budaya modern yang telah memberikan begitu banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Malahan, beberapa fatwa harus menundukkan dirinya pada derasnya tuntutan modernisasi. Bagaimana pun juga, angin sejuk dari para "pendaki-pendaki yang agung" tetap berhembus dari celah-celah bukit dan gunung tinggi merasuki banyak kota-kota yang sibuk dan pengap. Angin sejuk ini tercium oleh beberapa orang yang merasakan keresahan dan mereka mulai mencari aroma wangi tersebut. Beberapa dari mereka turut "mendaki gunung-gunung tinggi". Beberapa dari mereka tetap tercekat pada kehidupan kotanya namun meletakkan hatinya di "awan-awan" tinggi. Budaya "new age" segera menarik perhatian kehausan jiwa. Meski harus diakui gerakan ini menimbulkan kegalauan tersendiri dan seringkali terbatas pada terapi ketentraman tanpa memberikan penjelasan-penjelasan yang hakiki. Hidup adalah Syahdu -------------------------- Cara pandang mekanistis dan konsumtivistis (...? sorry saya kesulitan untuk mencari istilah yang pas....jadi rada ngawur aja...he..he...:-) menyebabkan hidup ini menjadi kering dan galau. Bukan hanya kapitalis, sosialis, marxis...atau is yang lain, yang Pancasilais juga bisa terjangkit cara pandang ini. Karena ini memang bukan ideologi melainkan persepsi. Banyak kita mendengar petuah dari para bijak untuk menyisihkan persepsi materialistis manusia dan memberikan nuansa spiritual. Beberapa petuah tersebut terjebak pada kekakuan formalitas agama. Di lain pihak terperangkap pada pembebasan formalitas agama. Pengalaman-pengalaman yang saya tangkap tadi membuat saya berpikir dan memandang kehidupan ini sebagai sesuatu yang syahdu. Saya memandang dunia ini dan hiruk-pikuk kehidupannya dengan kesyahduan tersendiri. Hal ini sedikit bisa mengobati kegalauan hati dan mengubahnya menjadi sepercik senyum kasih. Menyingkirkan rasa benci dendam dan mengubahnya menjadi rasa welas iba. Syahdu adalah.... --------------------- Saya tak tahu persis apa arti syahdu. Itu tersirat begitu saja. Menurut saya perumpamaan terbaik untuk menjelaskan perasaan syahdu adalah perasaan seorang ibu pada anaknya. (bahkan mungkin saja perasaan seekor induk binatang pada anaknya). Dalam diri ibu ada perasaan welas asih, iba, harapan, kebaikan, maaf, pemeliharaan. Seberapa pun buruk kelakuan sang anak, ibu tetap akan memandangnya dengan welas asih dan menaruh harapan akan kebaikan pada diri anak. Kebaikan atau keburukan menjadi relatif karena proses pemeliharaan dan kasih. Memang tidak terlalu tepat, tapi...ya itulah yang bisa saya coba gambarkan. Peumpamaan lain, agaknya, bagaikan seorang guru memandang muridnya. "Play Back" Kehidupan dari Balik Jendela Bis --------------------------------------------------------- Duduk di samping jendela bis cepat dalam suatu perjalanan jauh memunculkan nuansa tersendiri dalam benak. Peristiwa di luar jendela bis yang berlalu dengan cepat bagaikan "snap shot" kehidupan yang diputar cepat. Ribuan wajah, perasaan, peristiwa yang kaya warna silih berganti tanpa suara sehingga kita harus menterjemahkan apa yang terjadi dari mimik wajah, senyuman, kernyitan dahi dan gerakan-gerakan bisu lain. Putaran "film kehidupan" ini akan mendapat momen yang dahsyat bila kita membayangkan bahwa barangkali seperti itulah alam padang mahsyar. Dimana manusia diingatkan kembali akan perannya di dunia. Kita tidak bisa "mengedit"nya sedikit pun. Di pengadilan Allah Yang Maha Agung tak kan melewatkan sedikitpun "snap shot". Sungguh tak ada yang sia-sia atau terlupa. Jutaan manusia menggeliat penuh perjuangan dalam menempuh jalan hidup yang singkat namun rumit. Jutaan harapan ditaruh pada setiap tetes keringat dan jengkal langkah. Yakinlah tak ada sesuatu yang sia-sia. Kesenangan, kebencian, rindu, dendam,....semuanya akan mendapat perhitungan Yang Maha Adil. Seandainya kita diberi kesempatan untuk bisa melihat kembali VCD kehidupan kita. Syukurlah, setidaknya kita bisa duduk di samping jendela bis. Terpekur. Terlepas dari riuhnya dunia luar. Menanti penuh kerinduan akan terminal tujuan yang sedang kita tempuh. Merenungi betapa syahdunya hidup ini. Pagi yang Syahdu ---------------------- Berdiri pada suatu pagi buta di sudut perempatan kota saya memberikan perasaan syahdu pada hidup ini. Belasan pedagang kue berjejal-jejal di toko kue untuk menitipkan dagangannya. Mereka menghitung sendiri dan mencatat pada buku titipan. Pemilik toko (Cina) percaya bahwa mereka menulis dengan benar dan akan menyetorkan hasil jualannya sore nanti. Betapa syahdunya kepercayaan antar mereka untuk saling memberikan penghidupan. Pedagang stiker dan poster mulai memampang dagangannya di emper samping toko kue tadi. Mula-mula yang di pajang adalah topi anak-anak, poster Bob Marley, stiker PAN, poster ayat kursi dan tak ketinggalan gambar Sarah Azhari yang tersohor itu berdampingan dengan stiker bayi "no problem". Betapa syahdunya perjuangan mas pedagang dalam mencari penghidupan tadi sampai-sampai ia harus mencampurkan beragam gambar. Seekor anjing putih lucu lari lepas dari rumah pemilik Salon seberang jalan. Mungkin semalaman ia terkurung di halaman yang sempit. Kini ia lari ke sana ke mari. Majikannya berteriak-teriak sambil memerintah pembantu rumah untuk ikut membantu menangkap. Si anjing ternyata bandel juga. Beberapa saat, terdengar suara keras, mungkin bel mobil, si anjing lari ketakutan menuju majikannya. Si majikan dengan gembira membopong anjing sambil menepuk-nepuk kegirangan. Betapa syahdunya persahabatan mereka. Betapa banyak hal menjadi syahdu jika kita mau melihatnya dengan senyum, welas asih, harapan, kebaikan, maaf,.....dll. Allah swt. mungkin Maha Syahdu karena Dia Maha Kasih. Maaf agak ngelantur. Terima kasih jika posting ini dibaca hingga akhir. Wassalaamu'alaykum ww. Jaret Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
