Assalamu'alaikum wr wb. Bolkiah wrote: > > Kenapa gue musti selalu di > > belakang, terpuruk2 padahal gue pengen denger ceramah imam? Sementara > > yang di depan mungkin ngantuk2 dan manggut-manggut seperti anggota > > MPR? Terus apakah di Mekah kalau orang thawaf, yang campur2 > > cewek-cowoknya pas saat sholat tiba2 cowok2 baris di depan dan cewek2 > > di dorong ke belakang?" > > Yang saya alami saat di Mekkah memang barisan untuk wanita telah ditentukan > dan umunya di belakang lelaki. > Buat yang lagi tawaf dengan suami istri biasanya telah mengantisipasi > kemungkinan wanita akan diminta di baris belakang. Menurut syariat, dalam shalat, wanita harus di shaf di belakang lelaki, atau di sampingnya tetapi dipisahkan dengan tabir. Tentu aturan ini mengandung maksud baik, tetapi kita tidak tahu karena tidak dijelaskan. Kita hanya dapat menduga-duga dan mengambil hikmahnya. Salah satu hikmah yang saya lihat adalah bahwa shalat itu memerlukan suasana khusyu', sedangkan kehadiran wanita dalam jangkauan pandangan lelaki cenderung membuyarkan suasana itu. Hal ini terutama sangat signifikan di Arab [tempat aturan itu dikeluarkan], yang karena pola makanannya, lelaki cenderung mudah kesetrum dan ampernya naik jika inderanya bertemu dengan wanita. Bayangkan, seorang lelaki bertegangan tinggi sedang ruku' dan hidungnya hampir bersentuhan dengan pantat bahenol wanita di depannya... Khusyu' ... sungguh khusyu' ...! Kalau masalah khusyu' dalam shalat itu yang menjadi alasan, mengapa ketika khotbah sebalum shalat wanita sudah disuruh ke belakang? Ya, tentunya ini masalah teknis saja: biar tidah usah usreg ketika khotbah selesai dan shalat akan dimulai. Lagi, kalau hanya masalah khusyu' dalam shalat itu yang menjadi alasan, maka dalam lingkup yang kecil di mana lelaki mempunyai filter yang kuat dan tidak terganggu shalatnya oleh kehadiran wanita di dekatnya, maka tentu saja aturan itu boleh dilanggar. [Tapi, kita belum tahu rahasia lain dibalik aturan itu, bukan?] Kenyataannya, di Masjidil-Haram sekalipun, peraturan itu tidak dapat selalu diterapkan, terutama dalam shalat Jum'at di musim haji di mana jumlah jamaah terlalu banyak untuk dapat diatur. Boro-boro mau ngatur begitu, wong saya pernah sujud bukan dengan meletakkan dahi di lantai, tetapi di punggung orang di depan saya yang juga tidak dapat membungkuk karena sesak. Wassalamu'alaikum wr wb. RS
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
