Oleh: Muhammad Zuhri
 
RESTORAN METROPOLITAN

        Hari itu hari Ahad. Si 'Ubaid diajak melihat-lihat keadaan kota oleh
kawan barunya yang memiliki sebuah mobil mewah. Menurutnya, berekreasi ke
tempat-tempat yang resmi dikunjungi orang itu perlu. Boleh jadi bisa
mengendorkan syaraf yang bertegangan tinggi. 
        Si 'Ubaid tidak habis mengerti, syaraf mana yang bisa dikendalikan
oleh kebisingan yang tak menentu arah. Baginya, paling banter hanya bisa
untuk mengalihkan perhatian seseorang dari masalah yang benar-benar penting.
Kalau salah orientasi, bisa terjaring oleh setumpuk keinginan yang mubadzir.

        Sungguh, ia dibimbing oleh kawannya mengunjungi sebuah plaza yang
memajang barang-barang aneh, dari yang berukuran mini sampai berukuran
monster. Semua dikemas mewah dengan komposisi warna yang belum pernah
dilihatnya dalam mimpi. 
        Si 'Ubaid tidak mengerti mengapa barang-barang sebanyak itu dipajang
di gedung yang berukuran raksasa. Barangkali sedang ada pameran
besar-besaran, atau memang dijual belikan tetapi dengan cara yang lain.
Berjam-jam ia terseret arus pengunjung yang tak habis-habisnya memenuhi
ruangan. Setelah hampir mabok kecapaian, ia dibawa masuk ke sebuah restoran.

        Di sana ia bisa menyaksikan pasangan-pasangan Bani Adam dari
berbagai warna kulit dan postur tubuh. Ada seorang wanita yang tubuhnya
dibungkus kain hitam, hingga tinggal matanya saja yang masih tampak bergerak
kemana-mana. Ada pula wanita yang sengaja menelanjangi bagian tubuhnya yang
layak disembunyikan, padahal tak ada seorangpun yang mempedulikannya. 
        "Di sini segalanya serba self-servis. Silahkan memilih makanan yang
kau sukai," ujar kawannya. 
        "Apa semua dijamin halal ?" 
        "Kalau tidak halal, pasti sudah dilarang oleh yang berwajib". 
        "Kok Anda tahu ?" 
        "Restoran ini di Indonesia, masa Anda tidak tahu ?" 
        Dengan sejuta was-was si 'Ubaid mulai menggigit-gigit makanan yang
belum pernah dikenal namanya. Perasaannya merayap-rayap kemana-mana dan
fikirannya sibuk menangkis seribu praduga. Jangan-jangan, jangan-jangan...!
Ya, kehidupan di dunia ini memang penuh dengan jangan-jangan. 
        Sesampainya di rumah si 'Ubaid merasa kurang enak badan. Ia telah
berdosa kepada dirinya sendiri. Mengapa ia memakan sesuatu yang belum jelas
identitasnya. Tetapi itu semua telah terjadi. Semua telah menjadi sebuah
kenyataan. Ia tak akan sanggup menghapuskannya, meski dengan dalil apapun.
Oo, betapa malang dirinya. 
        Satu-satunya yang bisa dilakukan hanya beristighfar, memohon ampunan
Tuhan dan berjanji tidak akan mengulangi semua perbuatan yang dapat
menggelapkan akalnya. 
        Tiba-tiba perutnya merasa mulas. Diambilnya minyak angin. Dilaburnya
sekujur tubuh dengan cairan panas itu. Namu perutnya masih saja mual.
Sakitnya kian menyodok dada. Dan, byur, isi perutnya tumpah ke lantai. Semua
masukan dari restoran metropolitan yang berupa gambar-gambar bugil, alkohol,
loba, tamak, spekulasi dan manipulasi, serentak keluar dari dalam tubuhnya. 
        Alhamdulillah! Si 'Ubaid merasa lega. Ketika semua pintu kemungkinan
telah tertutup, masih didapatkannya sebuah pintu yang tetap terbuka buat
siapa saja. Ya, buat siapa saja. Meskipun dosanya sebanyak buih di lautan,
atau sebanyak pasir di gurun sahara. Pintu itu adalah pintu taubat. Pintu
yang memungkinkan seseorang untuk lahir kembali ke dunia dengan cara hidup
baru yang kualifaid. 
        "Saya baru tahu, bahwa taubat merupakan mu'jizat terbesar yang
pernah diturunkan Robbul 'alamin kepada hambaNYA", bisik si 'Ubaid mengagumi
Keagungan-NYA. 

Harian Terbit, 9 April 1996. 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke