Assalamu'alaikum Wr. Wb. Aji Darmaji wrote: > Beberapa waktu lalu Bapak pernah menyinggung masalah manipulasi berbagai > jenis energi yang tersedia di alam semesta Energi yang bersifat ghaib; > karena tidak dapat dilihat dengan mata. Seperti energi dari api atau air > bahkan Malaikat dan syaitan. > > Tentunya Bapak dapat menceritakan mekanisme [cara] pemanfaatan energi > tersebut. Kita dapat membedakan energi metafisik menjadi dua: positif dan negatif. Dalam Islam, energi positif dan segala bentuk pengejawantahannya kita asosiasikan dengan malaikat, dan energi negatif dengan syaitan. Kedua jenis energi itu saling berebut pengaruh terhadap manusia. Hakikat manusia pada khususnya dan alam semesta pada umumnya, adalah pertarungan antara kedua jenis energi itu. Kita 'kan biasa melakukan wudhu. Salah satu cara memanipulasi energi metafisik positif dari air agar membersihkan jiwa kita adalah dengan memusatkan pikiran kita pada efek yang ditimbulkan oleh gerakan kita dalam membasuh. Kalau pikiran kita membayangkan energi-energi negatif pada diri kita terkelupas dan terbasuh oleh air wudhu itu, maka PASTI energi-energi buruk itu terkikis. Seberapa banyak yang terkikis, tergantung dari kemampuan pikiran kita berkonsentrasi. Tetapi di samping itu kita perlu menyadari bahwa energi-energi buruk yang baru juga datang, baik melalui makanan maupun melalui pikiran buruk. Bagaimana kesudahannya, tergantung dari imbangan antara energi yang datang dan energi yang kita buang. Doa dan shalat juga merupakan perwujudan dari manipulasi energi metafisik agar kotoran jiwa kita terlepas. Salah satu alasan mengapa kita dianjurkan untuk berjamaah dalam shalat adalah untuk menghasilkan sinergi [energi kumulatif yang lebih besar daripada jumlah energi-energi yang timbul dari energi perorangan] yang pengaruhnya berimbas pada semua anggota jamaah. Untuk mudahnya, bayangkan tiap manusia dalam shalat berjamaah seperti batu batere yang disusun secara seri [dalam shaf] dan paralel [dari shaf-shaf]. Dengan perumpamaan itu tentunya anda dapat memahami mengapa orang harus berdiri teratur dalam shaf yang lurus, dan harus saling berdempetan. Sekiranya batere itu dijajarkan tak teratur dan tidak berdempetan, dapatkah dihasilkan stroom kumulatif? Dalam rangkaian batere itu, tentunya tidak semua batere sama kondisinya: ada yang masih baru dan tinggi tegangannya [mereka yang sangat khusyu'], ada yang tegangannya hampir kosong [mereka yang tidak khusyu'], dan ada pula yang berada di antara keduanya. Namun, ada juga kemungkinan adanya batere yang mati [orang yang wudhunya batal atau tidak sempurna]; batere macam ini menyebabkan rangkaian tertentu menjadi 'mati'; ia bukan hanya tidak bermanfaat, melainkan ia berpengaruh negatif dengan menyia-nyiakan energi batere lain yang dipasang seri dengannya. Imam yang mempunyai kemampuan untuk mendeteksi adanya batere yang mati ini pasti akan menyuruhnya untuk berwudhu [kembali]. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. RS --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
