Assalaamualaikum Wr. Wb.

    Mas Agus Haryono, dalam posting yang bersubject "Kyiai Ikhlas dan
Ko-edukasi" Anda menulis: "Semoga tidak membosankan tulisan-tulisan cerita
yang sedang saya postingkan ke milis ini. Bila kurang berkenan, tolong
diberitahu. Dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
    Kalau saya sih selalu senang membaca tulisan-tulisan Anda.  Gaya bahasa
Anda dan pesan yang hendak disampaikan kebanyakan sangat menarik.  Jadi,
insya Allah jerih payah Anda selama ini tidak sia-sia.  Hanya saja, saya
yang bodoh ini terkadang bingung untuk mendeteksi mana tulisan Anda yang
fiktif dan mana yang true story.  Apakah tulisan itu karya Anda sendiri atau
Anda mengutip dari buku.
    Untuk posting yang ini, saya akan memberi komentar tambahan berdasar apa
yang umum terjadi di lingkungan saya dan di beberapa kota lain.

-----Original Message-----
From: Agus Haryono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 09/���� ������/1420 06:31 �
Subject: [Tasawuf] Bersatu dalam Menuntut Ilmu


>Assalamu'alaikum wr.wb.
- - - - - - - deleted - - - - - - -


>Kiai Fatah dan Kiai Masduki adalah dua orang di antara sekian orang kiai
>yang hidup di desa Tambakberas. Bersama-sama, kesemua kiai itu
>menghidupkan kegiatan keagamaan dan mengelola pesantren di desa
>tersebut, sebagai amanat kiai Wahab Chasbullah.

~~~~~~~~~~~~~
Kejadian ini sering terjadi di beberapa tempat.

---------- deleted --------
>Kiai Fatah menjadi agamawan penuh, dalam artian tidak memiliki pekerjaan
>apapun selain menjadi kiai di pesantrennya. Kiai Masduki adalah petani
>yang mengerjakan sawahnya sendiri dengan susah payah, dan mengusahakan
>pekarangan rumah yang ditanaminya dengan tanaman kebun.

~~~~~~~~~~~~~~
    Di tempat yang saya ketahui kejadiannya kadang terbalik, Kyai Fatahnya
pendidik sekaligus pengusaha.  Dan Kyai Masdukinya sudah pensiun, atau
pekerjaannya dikelola anaknya.

>Kaia Fatah mengajar di madrasah, menggunakan peralatan sekolah dengan
>jam pelajaran teratur. Balaghah (retorika) adalah mata pelajaran
>kesayangannya, juga usul fiqh. Lain dari itu, tidak mau ia
>mengajarkannya di sekolah. Paling-paling di luar jam sekolah, sebagai
>pengajian 'weton' yang diikuti para santri tanpa memandang kelas sekolah
>masing-masing. Semacam kuliah umum atau 'courses' menurut bahasa program
>purna sarjana di universitas modern.
>
>Kiai Masduki sebaliknya tidak mengajar di kelas. Ia mengajar di suraunya
>sendiri, menunggu santri yang akan mengaji kepadanya. Seperti dokter
>praktek yang menunggu kedatangan pasien.

~~~~~~~~~~~~
    Kyai Masduki, di tempat saya, hanya mengajar di rumah, dan pada jam-jam
pengajian dia sudah ditunggu dan dinanti-nanti oleh murid-muridnya.:-)

>Lima kali sehari ia buka praktek. sehabis salat Subuh pada dini hari,
>sehabis salat Zuhur di tengah hari, sehabis salat 'Asar di sore hari,
>sehabis salat Maghrib di senja hari, dan sehabis salat Isya' di malam
>hari.

~~~~~~~~~
    Kyai Masduki, yang di lingkungan saya, mengajar paling banyak sekali
saja dalam sehari.  Setelah salat subuh dan salat Maghrib, beliau biasanya
sibuk dengan Tuannya dan tidak suka diganggu, kecuali untuk hal-hal yang
darurat sifatnya.

>Siklus kehidupan ini tidak mengenal nilai waktu secara modern, tidak
>dibatasi oleh pagaran waktu yang umum digunakan di luar. Pangajian siang
>berhenti kalau kereta api ke jurusan kota Babat melalui desa
>Tambakberas. Kalau peluit kereta tidak kunjung terdengar pengajian tidak
>selesai secara cepat.

~~~~~~~~
    Kyai Masduki yang ini benar-benar menerapkan management waktu, kapan
memulai kapan harus berhenti selalu diperhatikan dari waktu ke waktu.

>Tiap santri yang mengaji menunggu giliran masing-masing. Kalau tiba
>gilirannya, akan meletakkan teks yang ingin dipelajarinya di atas meja
>yang terletak di muka sang Kiai. Kiai Masduki akan membaca halaman yang
>dibuka santri, wlaupun teks itu diletakkan secara terbalik, sang Kiai
>membaca teks itu dari atas, santrinya memberikan catatan di bawah baris
>yang dibaca.

~~~~~~
    Kyai Masduki, yang di tempat saya, punya jadwal tertentu untuk tafsir,
hadis, Ihya dll.  Di majelis itu orang  membaca kitabnya dan sang Kyai hanya
menjelaskan kalau dianggap perlu, atau kalau ada yang tanya.  Kesalahan
pembacaan fathah, kasroh, dhommah dll. akan secara reflek dikoreksinya.
    Beliau juga mempunyai majelis dzikir: burdah, pembacaan manaqib, dll.


>Habis sebuah subyek dibacakan dan diterangkan, sang Kiai beralih kepada
>sanrti yang lain. Lagi-lagi seperti dokter yang berpraktek. Kalau dokter
>tidak menampik pasien yang berpenyakit apa pun, Kiai Masduki tidak
>pernah menolak santri yang membawa kitab teks apa pun.

~~~~
Pada saat tertentu orang datang membacakan kitab apa saja kepada dia, dia
akan membenarkan bacaan yang keliru, mungkin juga menjelaskan isinya, atau
hanya kelihatan duduk terpekur mendengarkan saja.

>Kiai Fatah pandai berpidato, bahkan termasuk orator yang memikat hati.
>Bermacam-macam ilustrasi sejarah dikemukakannya untuk mneggambarkan
>pesan yang disampaikannya secara hidup. Banyak lelucon diceritakannya
>untuk mencegah datangnya kantuk para hadirin, dan banyak hafalan ayat
>Al-Qur'an dan hadith dan sya'ir-sya'ir Arab dilontarkannya untuk
>meyakinkan orang banyak.
>
>Kiai Masduki, sebaliknya, mungkin tidak pernah berpidato di muka umum
>seumur hidupnya. Kalaupun 'berperan' dalam majelis-majelis keagamaan di
>muka umum, paling-paling hanya untuk membacakan do'a penutup atau
>memimpin tahlilan.

~~~~~
    Hampir sama, di tempat saya Kyai Masdukinya juga pandai bicara cuma
stylenya seperti orang yang lagi memberi penyuluhan.  Dalam bicara, ia
hampir tidak menggunakan kata-katanya sendiri.  Pidatonya sarat dengan
ayat-ayat Quran, Hadis, Atsar, syair, dll.
- - - - - deleted ---

>Tidak heranlah jika mereka tidak pernah menyerang pihak lain, berusaha
>sejauh mungkin tidak menyakiti hati golongan lain, dan lebih-lebih lagi
>bersikap toleran dalam persoalan yang menyangkut kepentingan umum.


    Benar..., mereka berdua mungkin terlalu sibuk dengan aib-aibnya sehingga
tidak sempat menyerang pihak lain.  Kyai Masduki sering kelihatan menghadiri
pengajian Kyai Fatah, dan pada hal-hal yang penting Kyai Fatah akan secara
diam-diam datang ke rumah Kyai Masduki untuk memohon nasihat-nasihatnya.
Meski banyak orang tahu bahwa pada banyak hal Kyai Masduki lebih alim, namun
ia selalu mendukung usaha dakwah Kyai Fatah dan mengikuti anjurannya.

"Betapa banyak wali yang masyhur, karena berkah dari wali yang mastur
(tersembunyi)"


>Kiai Fatah telah tiada. Kiai Masduki sudah renta (tetapi tetap mengajar,
>walau pun tidak lagi ke sawah). Dapatkah mereka wariskan pola kehidupan
>saling berbeda tetapi sama-sama semangat 'menuntut ilmu' itu?

~~~~~~~~~
Mudah-mudahan mereka berdua sekarang telah memiliki kader-kader yang selalu
rukun dan siap untuk meneruskan perjuang beliau berdua.  Amin...

>Wassalamu'alaikum wr.wb.
>
husein anis
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke