BismilLaahirRahmaaanirRahiim Assalaamu'alaykum ww. Rekan-rekan yang baik, semoga Allah swt. tetap melimpahkan hidayah-Nya pada kita semua. Episode "Kera Sakti" semalam mengenai "pemusnahan ilmu Sun Go Kong", menurut saya, adalah episode paling menarik. Bukan cuma menimbulkan keharuan dan sarat dengan hikmah, bahkan salah satunya hampir serupa dengan pengalaman saya pribadi. Begini..... Kami berenam adalah mahasiswa seangkatan yang menempuh ujian akhir sarjana (yudicium). Ujian akhir ini sangat istimewa karena kami adalah 6 mahasiswa abadi terakhir dari angkatan kami. Ujian ini pun dilaksanakan secara istimewa (terpisah) pada akhir masa perkuliahan yang disyaratkan. Artinya, bila kami tidak lulus maka DO-lah. Maklum kami telah menjadi mahasiswa selama 7 tahun plus 1 semester dispensasi. Kami menyebut ujian ini sebagai "cuci gudang". Mengapa kami begitu lama kuliah....? Macam-macamlah alasannya. Saya sendiri karena asyik bekerja selagi mahasiswa. Ada yang karena asyik pacaran...dst. Yang paling menarik dari kasus kami adalah salah seorang rekan, sebut saja Badu, yang telah menempuh ujian sarjana sebanyak 6 kali dan belum juga lulus.(Saya sendiri sudah 2 kali ujian) Apakah Badu pernah punya konflik pribadi dengan salah satu dosen...? Menurutnya, tidak juga. Yang pasti dari 6 mahasiswa "cuci gudang" ini, Badu lah yang paling siap uji. Maklum hampir selama 2 tahun ini tak ada pekerjaan lain selain belajar..belajar..belajar. Beruntung, kami masih punya rekan-rekan yang menaruh simpati atas persoalan kami. Mereka senantiasa memberi support pada kami dan mendekati dosen-dosen untuk memperlancar proses ujian kami.Bagaimana pun kami harus lulus sarjana dan terhindar dari DO. Kalau toh masih belum lulus juga maka kami harus memperjuangkan nasib di tingkat universitas. Beberapa minggu sebelum ujian, tanpa sepengetahuan kami, rekan-rekan kami pergi mengunjungi kyai kami. Mereka menanyakan apa yang bisa dibantu untuk menolong 6 orang "pesakitan" ini supaya bisa lulus ujian dan lolos dari ancaman DO. Kemudian kyai kami memberikan beberapa saran untuk dilakukan, yang satu sama lain berbeda sesuai dengan "persoalan" yang dihadapi masing-masing orang. Nah...yang paling menarik dan paling gampang adalah syarat yang harus dilakoni oleh Badu.....yaitu....ia tidak boleh belajar lagi sampai hari ujian. Pokok-e dia harus "turu wae". Ketika hal ini disampaikan ke Badu, ia "complain" kok syaratnya tidak "konstruktif". Logikanya adalah supaya lulus ujian ya harus belajar bukannya tidur. Sayangnya, pak kyai kami tidak memberikan alasan mengapa ia menyarankan begitu. Kami sendiri sewaktu mendiskusikan saran pak kyai tersebut juga tidak habis mengerti. Karena tidak memuaskan, Badu menolak saran itu. Pokoknya ia ingin lulus dan mantap dalam menempuh ujian. Hari ujian tiba. Kami mendiskusikan pelaksanaan saran kyai kami. Ada yang melakukan, termasuk saya. Ada yang tidak. Salah satunya Badu. Sampai detik itu ia masih juga membuka-buka buku. Malahan memberikan beberapa pertanyaan buat saya. Sungguh menarik, ternyata ada satu pertanyaan yang diujikan. Tentu saja tidak terlalu sulit buat saya untuk menjawab, lha wong masih "anget". Kebetulan.....? Insya Allah tidak. Hari itu juga hasil ujian diumumkan. Dari 6 "pesakitan" hanya 2 orang yang lulus, yaitu saya dan Arie. Yang lain keok. Meski senang, kami sedih juga karena 4 orang rekan kami yang lain masih harus berjuang melalui jalan-jalan yang lebih rumit. Setelah ujian, kyai kami barulah memberikan jawaban rahasia atas syarat-syarat yang beliau anjurkan. Menarik untuk di"sharing" di milis kita mengenai alasan pak kyai mengapa beliau menyuruh Badu untuk tidak belajar dan tidur melulu padahal ujian memerlukan belajar bukan tidur. Jawaban ini pula yang terus saya ingat dan kembali teringat sewaktu menonton episode "pemusnahan 72 ilmu kera sakti" semalam. Yaitu, untuk meng-nol-kan diri. Membuat diri kosong - tak perdaya sehingga muncul kepasrahan pada apa pun hasil yang akan diperoleh. Juga untuk menundukkan rasa sombong-takabur yang menganggap mampu menyelesaikan ujian yang akan dihadapi. Lho...bukankah Badu selama ini terkenal sebagai orang yang tawadhu. Ia pun sering kali merendah bahwa barangkali ia tak cukup mampu untuk menghadapi ujian sarjana. Jawabannya, setelah belajar dengan tekun sekian lama bisa muncul penyakit sirr yang tak tampak yaitu kesombongan. Kesombongan tak selalu tampak secara lahir, semisal mengatakan diri sendiri lebih baik ketimbang orang lain. Kesombongan bisa bersembunyi jauh dalam nafsu yang rahasia. Salah satunya menganggap mampu menyelesaikan sendiri persoalan yang muncul dan tak mengharap bantuan siapa-siapa. Setelah beberapa kali ujian dan tak lulus Badu belajar semakin giat...dan...efeknya penyakit "rahasia" ini pun semakin mengeras. Ini dapat menghilangkan kepasrahan dan ketertundukan pada keMaha Kuasaan Allah swt. Betul, kita berdoa. Betul kita bermunajat pada Allah. Betul kita tidak menyatakan diri sendiri lebih baik dari orang lain. Betul kita mengatakan bahwa kita adalah murid. Namun, Allah swt Maha Tahu segala rahasia. Tanpa disadari, jauh di dalam relung yang gelap, kita berbisik halus bahwa kita bisa melakukan sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Kita jadi tidak pasrah. Kita jadi tidak rela menerima hasil. Kita jadi tak melihat kemungkinan selain lulus. Hal ini harus digempur dengan meng-nol-kan diri. Membuat diri tak perdaya sehingga muncul kepasrahan dan pengakuan bahwa hanya Allah swt. yang menentukan segalanya. Maaf, kalau terlalu panjang. Semoga bagi-bagi ini ada manfaatnya bagi kita semua. Wassalaam Leo Yuliawan ps. Salam buat rekan-rekan yang berperan dalam pengalaman di atas. (kali aja mengikuti milis ini - maklum termasuk kelompok murid juga sih...?) Yani, Langgeng, Amien, Irfan. Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
