Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiimi "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya.Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)." (QS. 30:19) Ternyata sulit juga mentafakkuri, bagaimana bisa dulu itu kita sesungguhnya tidak ada. Non-exist. Padahal kini kita eksis, sadar, berfikir, menganalisa, memahami, berkehendak dan bertindak. Aneh dan tak terpahami rasanya, kondisi non-exist itu. Sungguh ajaib Allah menjadikan dari sesuatu yang mati, kini bisa hidup dan menghidupi. Dan memberikan kematian bagi suatu kehidupan. Karena itu mungkin kita lebih cenderung menilai eksistensi kehidupan seseorang dari sejauh mana tingkat kesadarannya. Batu, non-exist karena kita anggap tidak memiliki kesadaran. Komputer, meski kita sebut mesin pintar, tetap hanyalah sebuah mesin yang akan mati bila dicabut powernya. Walaupun sudah ada Artificial Intelligent (AI), tetap masih jauh dari kecerdasan yang sesungguhnya. Apalagi dari yang namanya kesadaran. Ketika menonton The Matrix, suatu gagasan ttg kesadaran tiba-tiba menyeruak. Di situ dikisahkan AI ternyata bisa menghasilkan sebuah dunia (matrix) yang jenius, berfikir, menganalisa, memahami, mengontrol , memperbudak, dsb layaknya kehidupan yang kini kita rasakan. Mungkin ini hanya sebuah cerita film. Hanya fiksi yang berangkat dari khayal manusia. Tapi sayang rasanya melewatkannya untuk melihat ayat Allah apakah yang ada di situ? Buat saya gagasan ini menarik, karena saya pernah diberitahu bahwa manusia terlahir dengan bekal jasad, jiwa, ruh plus hawa nafsu dasar (qorin?). Baginda Rasulullah saw memberitakan, "Tidak ada seorang bayi yang dilahirkan melainkan telah disentuh oleh syaithon. Bayi itu menangis, menjerit karena sentuhan syaithon tsb kecuali Putera Maryam dan ibunya" (H.R Bukhari, Muslim & Ahmad). Kemudian sepanjang kehidupannya, hawa nafsu itu berkembang biak sehingga melahirkan wujud-wujud tersendiri. Apa yang kini kita kenal dengan kibir, dengki, ujub, riya adalah contoh dari wujud-wujud itu. Bagi yang memberitahu saya itu, saya ini tidak tampak sendirian. Melainkan didampingi oleh puluhan bahkan ratusan wujud-wujud tsb yang masing-masing menjadi sebuah personal. Jasad kita ini, adalah medan interaksi dari seluruh wujud tersebut. Imam Al-Ghazali mengumpamakannya dengan sebuah negara kota. Wujud-wujud tsb mengambil posisinya masing-masing. Ada yang sebagai raja, prajurit, pedagang, budak, dsb. Tapi semuanya sedang mencari kesempatan untuk melakukan kudeta untuk duduk di singgasana raja. Karena, siapa yang duduk di singgasana tsb, maka dialah yang menguasai dan mengendalikan negara tsb. Dalam diri kita, singgasana tsb adalah hati (qolb). Tapi di antara seluruh penduduk kota tsb, sesungguhnya ada seorang yang paling pantas menjadi raja. Karena hanya dialah yang benar-benar bisa menjalankan fungsi seorang pemimpin yang adil. Dalam diri kita, putera mahkota ini adalah si An-Nafs (nafs al-muthmainnah). Yang disumpah oleh Allah di QS. 7:172. Sayangnya putera mahkota ini kini dalam keadaan lemah tak berdaya. Mungkin dia kini hanya menjadi bagian kelompok marginal di kota tsb. Mungkin juga sedang dalam penjara dengan pengawalan ketat. Dan repotnya lagi, sang putera mahkota itu, tidak menyadari bahwa dia harus menjadi raja. Apa kaitan gagasan The Matrix itu dengan dongeng di atas? Kaitannya adalah relasi antara kesadaran dengan jati diri (an-nafs). Saat ini, saya merasa sadar sesadar-sadarnya. Paham sepaham-pahamnya. Tapi ternyata saya dihadapkan pada fakta, bahwa saya tak memiliki perangkat kesadaran langit. Perangkat kesadaran yang membuat saya bisa mengimani hal-hal yang ghaib. Beriman kepada Allah, rasul, kitab-kitabnya, malaikat, Hari Akhir, qodho & qodar, tentu bukan sekedar hapalan ttg rukun Iman kan? Karena Iman itu harus di tashdiq bi al-qolbi, qawlu bi al-lisaan, wa 'amalu bi al-arkan. Bagaimana saya bisa men-tashdiq (membenarkan dengan kualitas tertinggi) dengan qolb, sementara apa itu qolb, masih absurd buat saya. Kesadaran macam apa yang ada dalam diri saya saat ini? Lebih tepatnya, kesadaran siapakah ini? Jadi sampailah saya pada pertanyaan, apakah saat ini yang saya sebut dengan kesadaran? Siapakah sesungguhnya saat ini yang berfikir, mengerti, berlogika, berkehendak, bertindak, dan menulis posting ini? Siapakah saya saat ini? The Matrix memberikan sebuah gagasan, bahwa hawa nafsu dan syahwat itu pun bisa memiliki kesadaran. Karena itu sangat boleh jadi, kita saat ini bukanlah KITA yang sesungguhnya. Kita saat ini, barulah kombinasi interaksi dari puluhan wujud dalam diri kita. Dimana jati diri kita (an-nafs), hanya memberikan kontribusi kecil dalam interaksi tsb. Kalau meminjam istilahnya Pak Sunarman, kita saat ini, adalah resultan dari berbagai gaya. Di mana gaya sejati, belum memberikan tarikan positif yang signifikan. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
