Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
>1. Langkah pertama untuk mendengarkan Allah adalah menenangkan diri dan
>menutup pengembaraan pikiran. Dalam tasawwuf kami menggunakan Dzikir untuk
>memusatkan pikiran. Aliran lain menggunakan bentuk meditasi atau pemusatan
>yang lain untuk mengendalikan pikiran. Pikiran merupakan alat yang hebat,
>tetapi seperti setiap alat, ia hanya bermanfaat bila dikuasai dan
>dipergunakan dengan benar. Siapa yang menguasai pikiran anda? Apakah anda
>yang mengendalikan alat, ataukah alat itu yang mengendalikan anda? Sebagai
>alat, pikiran harus di bawah kendali anda. Jika tidak, anda tidak akan
dapat
>membedakan antara Allah dan imajinasi anda.
Sidharta Gautama mengibaratkan pikiran itu kuda liar; ia begitu perkasa
tetapi sungguh sulit untuk dikendalikan; ketika kita mampu menjinakkannya,
ia akan sangat bermanfaat bagi kita. Shalat, dzikir, meditasi dan
bentuk-bentuk ritus yang lain merupakan upaya yang dirancang untuk
menundukkan dan menjinakkan pikiran hingga mencapai kondisi khusyu'.
Kondisi khusyu' itu ibarat sebuah PC yang baik dan dioperasikan dengan baik
pula, di mana CPU single processor adalah pikiran kita. Makin sederhana dan
makin jelas perintah yang kita berikan kepada PC itu, makin baik dan makin
cepat ia membawa hasil. Di sini CPU hanya patuh melaksanakan input yang kita
berikan; ia tidak mengerjakan apa-apa yang tidak kita perintahkan.
Bayangkan, kita mengetik email melalui keyboard dan pada saat yang bersamaan
seseorang datang, memengang mouse lalu seenaknya sendiri mengklik tombol
SEND ... ini merupakan cara pengoperasian yang mengacaukan tujuan kita.
Kalau ini sering terjadi, maka sepatutnya kita mematikan fungsi mouse ketika
kita mengetik.
Ini sekedar ilustrasi, bahwa ketika kita memerintahkan pikiran kita untuk
'mendengarkan Allah', kita perlu pula memblokir jalan-jalan masuk yang
dapat dilalui pengganggu kekhusyu'an.
Kalau prinsip ini sudah dipahami, maka selanjutnya tinggal masalah PRAKTEK.
Kalau kita ingin dapat mengemudikan mobil, kita harus BERLATIH.
>Allah ada di sini, di sekeliling kita dan di dalam diri kita. Dengan
>mengesampingkan pembatasan logika pikiran kita, kita dapat mulai ambil
>bagian lebih aktif dalam simfoni Penciptaan yang akan datang.
Untuk mengenali telinga, mula-mula kita melihat telinga orang lain, telinga
di luar tubuh kita, tetapi kemudian kita menyadari bahwa kita sendiri
memiliki telinga. Begitu pula mengenai Allah, mula-mula kita mengetahuinya
berada nun jauh di sana, tetapi kemudian kita perlu menyadari bahwa Allah
berada lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Hati kita merupakan
reflektor agar pesan Allah dapat ditangkap pikiran. Jika hati kita selalu
membersihkan cermin [hati] itu hingga selalu mengkilat, maka citra Allah itu
akan sangat jelas memberi kesan kepada pikiran kita.
Simfoni penciptaan?
Allah manciptakan alam semesta ini bukan hanya pada permulaan, tetapi terus
melakukan penciptaan itu tanpa henti. Segala sesuatu akan habis atau musnah
termakan usia, dan untuk menggantikannya diperlukan penciptaan baru. Namun
dalam penciptaan lanjutan itu, Allah tidak turun tangan sendiri; Dia
mendelegasikannya kepada para khalifahNya di bumi. Kita-lah khafilah itu,
kita menjalankan fungsi kita masing-masing dalam peran yang kecil, dan
bersama dengan orang-orang lain membentuk simfoni penciptaan. Kita mencipta
dengan menggunakan pikiran; segala sesuatu yang tercipta ini terlahir dari
batin kita. Bila kita terpanggil untuk menciptakan kebaikan, sudah pasti
kita akan cenderung untuk membersihkan hati kita.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)