On Sun, 17 Oct 2004 00:39:40 +0700, Reno S. Anwari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> MRT dan LRT di Singapura, tanpa awak, tepat waktu. Fully automated.
> Pokoknya gua ampe terbengong-bengong ngeliatnya. Kok bisa gitu ya?
> Sistemnya juga jarang down, kabarnya.

Kalau di tokyo, biasanya tepat waktu (karena listriknya tidak pernah
mati). Akan tetapi, biasanya ada saja yang mengganggu sistem yang
teratur seperti ini. Misalnya, gempa yang bisa menunda perjalanan
beberapa menit, atau yang parah kalau ada yang bunuh diri (biasanya
diumumkan ada "kecelakaan")..*ough*..saya pernah menunggu 1 jam lebih.
Kalau yang insidentil atau jarang terjadi, misalnya taifu (angin
topan). Dua minggu lalu beberapa jalur subway kebanjiran karena ini
(jadi wajar kalau Jakarta sebaiknya tidak membuat subway).

Kereta2 yang jenis baru di tokyo ada yang sudah semi automated
(beberapa KRL di jalur2 bisnis) dan full automated (monorel). Yang
semi automated masih perlu awak untuk menjaga kemungkinan2 ada
kejadian kecil, seperti orang terserempet kereta, untuk membantu
orang2 berkursi roda yang akan naik/turun kereta, memastikan pintu
dalam keadaan "clear" sebelum berangkat terutama saat rush hour,
dll...awak ini yang memutuskan apakah kereta sudah siap berangkat.

Sensornya seperti apa, kurang tahu. Kemungkinan dipasang diantara rel
(ada beberapa kotak2 misterius) atau radio (ada antena2 yang dipasang
di beberapa tiang listrik). Papan pengumumannya juga bisa menyesuaikan
tergantung jenis perjalanan kereta (special express, express, rapid,
local, dll). Jadi, stasiun yang hanya dilewati tidak akan dicantumkan
di dalam papan elektroniknya. Saya rasa membuat algoritmanya mudah
(kalau ada sensornya).

Kalau untuk sistem KRL/bus jakarta bagaimana sebaiknya?
Sebaiknya full manual dulu... :-) karena masih harus mengurusi anak2
sekolah yang naik di atap gerbong.

Kirim email ke