On Thu, 16 Dec 2004 10:30:07 +0100, Ikhlasul Amal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Waduh! > Terus terang saya baca penjelasan Pak Budi di atas sambil > meringis dan sedikit terhenyak. > > * meringis karena kita seperti hendak digebuki dari semua > penjuru. Kita sendiri, Bangsa Indonesia (maaf, ini bukan > generalisasi), masih ogah bahkan untuk belajar Bahasa Indonesia > yang baik dan benar. Seorang teman yang pulang dari Kuala > Lumpur mengungkapkan ekspresinya, "Benar-benar tidak habis > pikir jika dulu kita pernah 'membantu' Malaysia." Maksud dia > adalah sekian ratus mahasiswa Malaysia yang dulu belajar di > Indonesia. Apakah hal tersebut akan terjadi juga beberapa > tahun lagi jika kita kunjungi Hanoi dan Phnom Penh, > negara-negara yang dulu kita bantu berdamai? ... Kalau sentilan saya di awal belum cukup, coba yang ini ... Baru saja saya membantu anak saya menggunakan Google Image untuk mencari alat musik tradisional Indonesia. Yang membuat saya kaget, di beberapa URL yang saya peroleh, sekarang alat musik ini disebut alat musik tradisional Malaysia! Gamelan Bali diajarkan di sebuah Universitas di Malaysia dengan dosen(?)/peneliti tamu dari luar negeri. Apa nggak nangis kita ... Ilmu, Bahasa, dan sekarang Tradisi kita diambil pula. Sebentar lagi, kita tidak punya identitas lagi. PS: adik saya baru saja pindah kerja dari Bandung (dulu ex IPTN) ke Malaysia. Kerjanya? di perusahaan *komponen pesawat terbang* -- budi
