Pada 26 Dec 2004, 16:10:02 -0800, ron4ld menulis (diringkas):
> 
> Konsep toko buku yang saya senengin itu seperti Borders
> http://www.bordersstores.com  yang saya sering sebut
> 'the booklovers paradise'. Pokoknya funky banget deh.
> Di toko2 buku lain biasa bukunya dibungkus plastik, tapi
> di Borders mereka dibuka semua, dan sekalian dikasi
> kursi kulit dan meja untuk mem-browse buku2 dengan bebas
> sambil dengerin musik jazz & classic.
> Disebelahnya ada cafe Gloria Jeans pula, jadi abis beli
> buku bisa santai ngopi sambil ngobrol2 diskusiin ttg books.
> 
> Di bagian CD musik para pencinta musik bisa self-serve dengan
> barcode reader untuk mendengar sampel 30 detik dari tiap album
> yg sudah didigitize ke mp3. Terus ada juga online katalog
> jadi bisa bebas nyari sendiri, dan kalau nggak ketemu bukunya
> bisa nanya ke staff yang ramah. Cool banget deh pokoknya.
> 
> However, satu yg saya pikirin pasti tentang harga sepertinya
> kalau diconvert ke Rupiah harga2 buku import ajigile mahalnya
> misalnya harga buku "The Elegant Universe" karya Brian Greene
> A$28 jadi kalau dikonversi ke Rupiah sekitar Rp 200 ribu ...
> mahal sekali ya....?
> 
> Bagaimana rekan2 sekalian, bagaimana dan seberapa sering
> anda2 beli buku di Indonesia? Saran... opini...? 
> 
> -ronald
> 

---akhir kutipan---

        Dengan rentang segmen penduduk Indonesia, menurut saya setiap
        "gaya hidup" punya kans untuk meraup konsumen. Karena tekanan
        pada gambaran toko buku di atas adalah layanan yang lebih baik
        dan nyaman dengan ongkos (yang barangkali) lebih mahal, tentu
        sasarannya adalah kelompok menengah ke atas. Jadi yang perlu
        diperhitungkan adalah antusiasme kelompok konsumen tersebut
        terhadap buku.

        Soalnya bagi beberapa orang lain yang memiliki antusiasme
        terhadap buku luar biasa namun duit terbatas, mereka lebih
        memilih beli borongan dengan harga lebih murah dan layanan
        sekadar untuk jual-beli seperti di Palasari (Bandung). Mereka
        yang datang di Gramedia misalnya, dan hanya membaca tapi tidak
        mau beli, saya pikir salah satunya adalah faktor dari kurangnya
        perpustakaan yang memadai di negara kita. Toko buku menjadi
        sasaran "pengganti" perpustakaan tersebut dan karena pengunjung
        datang untuk membaca (belum "membeli"), pemilik toko khawatir
        usaha mereka berubah menjadi taman bacaan. Jadi tidak tergerak
        untuk mengubahnya menjadi toko buku yang nyaman.

        Bagi pemilik usaha yang melihat toko buku melulu sebagai salah
        satu lahan bisnis, tentu yang lebih diincar adalah pemasukan
        ekstra dari kenyamanan yang ditawarkan. Sedangkan bagi yang
        lain, yang lebih melihat pada budaya baca buku, kemungkinan akan
        menyiasati agar lebih banyak lagi orang yang antusias dengan
        buku, dan dengan demikian secara jangka panjang tergerak juga
        untuk membeli.

-- 
amal

Documentation is the castor oil of programming.
Managers know it must be good because the programmers hate it so much.

Kirim email ke