On Thu, 6 Jan 2005 17:29:20 -0500, boy avianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Dari membaca komentarnya pak Andika di weblognya:
> 
> http://andika-lives-here.blogspot.com/2005/01/wartawan-it-di-media-indonesia-perlu.html

Saya cuplik dari mediaindo:
"...Dengan DivX, kita bisa menyimpan ratusan jam program TV dalam satu
keping cakram kosong...."
Dari kalimat itu, wartawan TIDAK SALAH. Dia hanya menyebutkan "program
TV" dan hanya menyebutkan "cakram kosong". Kalau program TV-nya hanya
1 menit masing2 dan cakram kosongnya adalah blue-ray disc? [blue-ray
disc akan mulai dipasarkan tahun ini --janji dari Panasonic]

Cuplikan lain:
"...Namun, DivX masih harus bersaing dengan teknologi lain seperti MPEG-4..."
Nah, ini baru SALAH, karena DivX sebenarnya memakai teknologi MPEG-4.
Kalimat itu kontradiktif dengan apa yang dia tulis di bagian bawah
artikelnya:
"...Sebenarnya DivX sendiri asalnya dari Microsoft MPEG4 yang telah di-hack..."

Saya tidak tahu darimana si wartawan memperoleh istilah "di-hack".
Pada saat penyusunan standar MPEG-4, dibuat semacam "reference
software". Yang source code-nya banyak tersedia saat itu adalah
reference software dari Momusys (Eropa) dan Microsoft (saya juga
punya). Orang2 yang terlibat dalam MPEG-4 kemudian mengimplementasikan
MPEG-4 codec dengan caranya masing2 (tetapi tetap berbasis dokumen
MPEG-4) sehingga ada ASF, DivX, Real, QuickTime, dll yang saling tidak
kompatibel satu sama lainnya. Sangat berbeda dengan MPEG-1/2 yang
menyamakan semua implementasi.

Kirim email ke