On Fri, 7 Jan 2005 18:08:05 +0700, Idban Secandri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > karena bahasannya berat dan nggak dimengerti sama jurnalis/wartawan > jadi sikampret itu dijadikan nara sumber ;)
Naa, makanya ... lu lu pada ... harus instrospeksi. Ngaca, kenapa segenap wartawan dari seluruh penjuru dunia lebih suka mengangkat kermit jadi tokoh digital daripada salah satu dari Anda. 1. Anda belum terbiasa menjawab pertanyaan orang awam. Orang awam perlu jawaban yang awam. Sederhanakan semua jawaban sehingga nenek Anda pun bisa ngerti. Dan nggak usah kayak orang autis (kecuali kalau memang autis), menjelaskan sesuatu harus serba persis, serba konsisten. Misalnya kalau ditanya kenapa VoIP bisa lebih murah daripada telepon biasa, jangan repot2 cerita tentang suite protokol IP dan beberapa alternatif di dalamnya yang bikin asyik sendiri. Jawab aja kenapa menyewa rel kereta untuk mengirim barang jauh lebih mahal daripada mengirim paket yang dimasukkan ke gerbong bersama paket lain, dan dikirimkan melalui rel yang sama. 2. Anda hanya mau memberi jawaban yang benar. Kalau seorang wartawan memerlukan info, Anda tidak harus menunggu sampai semua info anda valid untuk diberikan. Kalau tidak punya jawaban, berikan pendekatan. Kalau tidak punya pendekatan, berikan ilustrasi. Apa pun. Wartawan akan sangat berterima kasih, daripada pulang dengan tangan kosong. Belajar hal2 semacam ini misalnya dari Enrico Fermi. 3. Anda belum biasa ramah. Mungkin si kermit itu cengengesan, tapi orang cengengesan nggak bikin orang takut untuk mendekat. Memang orang Jepang itu lebih terkenal kedisiplinannya dan kerja kerasnya daripada keramahannya. Tapi wartawan nggak perlu orang Jepang dan orang sukses. Mereka perlu orang yang nggak nakutin untuk diajak bicara. Jadi ... selama Anda masih menjadi diri Anda ... Anda akan jadi orang yang sukses dalam frame Anda. Mungkin Anda akan membawa bangsa ini menuju kemandirian dan kemajuan. Tapi Anda nggak bisa menyalahkan wartawan yang kemudian memilih mewawancarai kermit, piggy, dll, dan bukannya Anda. Dan bahwa Anda nggak akan terpilih jadi tokoh digital selamanya ... saya kira itu memang bagian dari idealisme Anda. Jangan menyalahkan wartawan -- mereka punya dunia sendiri. -- Kuncoro Wastuwibowo http://kun.co.ro/
