Maaf, ini panjang. Maaf juga untuk yang sudah tahu. Yang belum tahu,
mudah-mudahan bisa menambah ilmu. Ada info dari rekan saya bahwa
Jepang sedang mengusulkan EWS yang melingkupi Samudra Hindia juga.
-----------------------
TOKYO â The Japanese government is studying several options for a
proposed early tsunami warning system for countries surrounding the
Indian Ocean, government sources said Thursday.
One option being considered by Japan would lay water manometers at the
bottom of the Indian Ocean to monitor changes in water pressure. Data
obtained from the manometers would be sent to the proposed alert
center via a satellite. The second option calls for seismometers
already set up in Japan to detect earthquakes in the Indian Ocean,
while the third method would require new seismometers to be set up in
coastal areas of the Indian Ocean, the sources said.
-----------------------
Dari berbagai ulasan di media dan milis, saya lihat sensor merupakan
komponen yang harus ada untuk mendeteksi tsunami. Selain jenis sensor
di atas, ada lagi sensor baru yang menggunakan laser (lihat artikel di
bawah).
_____ begin of article ______________
Tsunami sensor
Oleh : Bambang Widiyatmoko
Pusat Penelitian Fisika LIPI, Komplek PUSPIPTEK Serpong, Tangerang.
Gempa dasyat yang telah terjadi di tanah air menimbulkan tsunami dengan
tenaga penghancur yang hebat dan memorak porandakan kehidupan di propinsi
Aceh dan sekitarnya. Rasa ikut berduka yang mendalam kami sampaikan kepada
para korban bencana ini.
Dalam kesempatan ini penulis hanya akan mengungkapkan sedikit
mengenai bagaimana mendeteksi dan mengukur besarnya gelombang Tsunami
memakai laser Tsunami sensor (Sakata method) dan kemungkinannya dibuat
sendiri di Indonesia.
Tsunami selama ini dideteksi dengan sensor yang terbuat dari kristal
(Oscilator). Prinsip dari sensor ini adalah apabila kristal oscillator
berosilasi pada frekuensi tertentu mendapat tekanan dari arah sumbu
oscilasinya maka frekuensi oscillator akan berubah. Perubahan frekuensi ini
sebanding dengan tekanan yang diberikan, dimana tekanan ini juga sebanding
dengan tingginya tsunami. Prinsip ini sudah lama dipakai misalnya untuk
memantau tsunami disekitar Jepang dan samudera Pasific. Banyak kendala yang
dihadapi yaitu tsunami sensor harus dipasang jauh dari pantai, sehingga
perlu pengiriman supply listrik kedalam sensor. Disamping itu jarak tempuh
(beberapa Km) juga akan memberikan gangguan noise yang besar saat sampai di
pemantau (darat).
Dr Sakata peneliti ahli Tsunami dari Disaster Prevention
Research Institute, Japan, telah menciptakan metode baru dengan memakai
laser. Methode ini sangat sederhana dan sangat sensitive sebagai sensor
Tsunami maupun sensor tekanan. Disamping itu alat ini terbebas dari noise
karena yang terkirim ke sensor yang berada jauh dari pantai adalah cahaya
laser (melalui Fiber optik) sedang seluruh perangkat elektronik diletakkan
di darat.
Prinsip dari sensor ini adalah sebagai berikut:
Sensor utama berupa dua buah "optical cavity" dengan "Free Spectral Range"
sama. Masing masing Cavity ini terbentuk dari dua buah cermin yang
terpisahkan dengan jarak Lc dan dipasang bersilang (Sumbu X dan sumbu Y).
FSR didifinisikan sebagai FSR=C/2nLc, dimana C adalah kecepatan cahaya, n
adalah indek bias udara dan Lc adalah jarak antara dua cermin. Cavity ini
hanya akan memberikan peak transmisi bila frekuensi laser bersesuaian
(beresonansi) dengan FSR dari cavity. Kemudian Cavity dimasukkan kedalam
tabung selinder yang terbuat dari bahan tak berkarat (Stenless) dimana
masing masing cermin dikunci dengan dinding tabung.. Bentuk bagian dalam
dari selinder adalah ellips sehingga ada beda tebal dari dinding selinder.
Apabila diding tabung terkena tekanan akibat gelombang Tsunami maka Lc akan
berubah yang mengakibatkan FSR dari cavity berubah. Perbedaan tebal dinding
juga mengakibatkan perbedaan perubahan panjang dari cavity 1 dan cavity 2.
Perubahan ini yang dideteksi lebih lanjut dengan beat frekuensi dari dua
laser yang maisng masing frekuensinya terkunci (Locked) pada dua cavity
tersebut. Perubahan frekuensi sebesar 12MHz dideteksi untuk setiap perubahan
tsunami 1 cm. Untuk jarak antara dua cermin sebesar 10 cm, maka FSR dari
resonator kira kira sebesar 6 GHz, sehingga akan bisa mendeteksi tsunami
yang tingginya mencapai 5 m. Besarnya tsunami yang dapat dideteksi bisa
diperbesar dengan memperbesar jarak 2 cermin atau memperetebal dinding
tabung. Jarak sensor ke darat dapat mencapai 50-100 km tergantung daya laser
yang dipakai. Dengan jarak sensor 100 Km dari pantai juga memungkinkan utuk
memberi peringatan lebih dari puluh menit ke darat bila dibagian sensor
terjadi tsunami.
Sejauh ini tsunami sensor bukan merupakan produk yang banyak
terjual dipasaran karena biasanya pemakai adalah pemerintahan (badan
penelitian), sehingga harganya cukup mahal. Penulis telah ikut menyelesaikan
protype kedua dari Laser tsunami sensor yang sekarang terpasang di salah
satu pengamatan tsunami Jepang di Hiratsuka. Dari segi teknologi sensor ini
bukanlah hal yang susah sehingga 100% bisa dibuat (dirakit) di Indonesia.
Tentu hal ini membutuhkan support dari pemerintah untuk semaksimal mungkin
memanfaatkan potensi SDM dalam Negeri. Memang seperti tertulis pada harian
Kompas beberapa hari yang lalu, bahwa masalah Tsunami bukan hanya sensor,
tapi sensor juga merupakan komponen penting dari system monitoring Tsunami.
____ end of article ____________