boy avianto wrote: > layarnya jadi tertutup jari dan jadi kotor akibat sidik jari. OK, ini > bukan contoh 'kultur' sebenarnya 'fisiologis', tapi paling tidak > menggambarkan kesulitan mendapatkan konsep antarmuka universal. > Mungkin tidak ya?
*Dreaming of Universal Translator ala Star Trek* Kapan ya? Sebenarnya banyak orang yg pengen tau apa bisa isi brain itu diupload? Kan skr udah ada alat2 medis seperti CT scan dsb yang menangkap gelombang2 otak. Gimana kalau gelombang2 otak ini bisa ditangkap dan di-interpret sebagai computer commands? Atau bisa juga dipikir seperti ini: human communicate through spoken and written words. Brain tells the mouth to utter words to be able to communicate to other person. Gimana kalo gelombang2 otak ini bisa ditangkap dan diencode oleh electronic device menjadi TCP/IP packet dan ditransfer ke electronic device yang laen kemudian packetnya didecode kembali ke gelombang otak? Prinsipnya mirip2 dengan VoIP. VoIP: suara->IP packet->suara. Cuman skr ya tinggal nunggu para peneliti dan insinyur nyelesaiin researchnya tentang decoding brain signals. Banyak psikolog dan kaum skeptics yang skeptis terhadap ESP (Extra-Sensory Perception). Sebenernya di Indonesia kan banyak yg punya ilmu2 kayak gini hehehe Saya setuju sama IMW, hal2 metafisika spt ini belum bisa dijelaskan secara ilmiah aja oleh scientists.
