On Mon, 07 Feb 2005 10:41:21 -0800, DiaN <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mungkin kalo memang ingin mengembangkan jurnal lebih baik fokus > difikirkan > > - Siapa editor > > - Siapa invited author untuk edisi-edisi pertama > > - Apa insentif buat penulis he he he he (cum, honor ? atau souvenir > ?) > > Konon, jurnal semacam Nature dan Science bisa bergengsi karena > 'rejection rate'-nya tinggi. 90% kalau saya tidak salah? (CMIIW). Jauh > lebih banyak paper yang ditolak daripada dipublikasikan. Nah, untuk > mendapatkan pengakuan 'cum', khususnya bagi para dosen di Indonesia, > bagaimana caranya agar seperti jurnal2 bergengsi tsb.?
Untuk cum di Indonesia, jurnal yg diakui adalah jurnal yg diakreditasi oleh Dikti. Sepertinya salah satu syaratnya harus punya ISSN (artinya jurnal itu rutin terbit. Faktor lain adalah format dari artikel yg disajikan sebaiknya mengikuti format yg diakui oleh tim "penilai cum" misalnya harus ada Pendahuluan, metdologi, kesimpulan, daftar pustaka dsb. Itu kalau mau diterapkan insentif bagi penulis adalah pengakuan untuk Cum. he he he > > Mengenai siapa2 yang menjadi editor, invited author, dsb. bagaimana > kalau kita pilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, MISAL-nya: > - telah mempublikasikan X paper bertema TI di jurnal internasional > - telah menulis Y buah buku bertema TI dengan oplah lebih dari W > eksemplar > - telah menulis Z artikel teknologi di media massa internasional / > nasional Saat ini disamping sudah dipbulikasikan, salah satu parameter adalah "citation" berapa kali artikel yg bersangkutan diacu. IMW
