On Sat, 2005-02-12 at 04:33 +0000, ahutapea wrote: > Nah itu masalahnya 'mas, kita waktunya mepet banget. Rencana "go live" > saja sudah mundur 2x jadi ngak punya kebebasan waktu untuk install > satu-satu dan nunggu untuk identifikasi masalah.
wah, ya emang susah ini :( > > Kita udah ngetes di mesin lain (bukan proliant) untuk intall linux dan > oracle yg hasilnya tidak ada masalah. Lho berarti udah pernah POC dong, walau anda sendiri, bukan dari vendor. Wah ya kalo gitu memang kemungkian besar problem di hardware atau device driver yang salah. Ini Oracle-nya pakai file system Linux (ext3fs) atau raw partition untuk file databasenya? > RHEL 2.1 > Kenapa ngak pake 3.0? IASnya masih versi 9.1r1 yg tidak (atau belum) > certified/support untuk RHEL 3.0 terpaksa yg mesin untuk Oracle DB > dipasang RHEL 2.1 untuk keseragaman untuk memudahkan kita support. Dan > lagipula juga dari pihak aplikasinya belum banyak clientnya yg make > RHEL 3.0 jadi kita ngak berani juga. memang betul, kudu start dulu dari yang supported, tested, dan banyak tetangga yang pakai. Performance itu nomor sekian setelah supportability kalo mau dipakai buat business enterprise. > Sebetulnya kita sudah minta itu dan memang RHEL 2.1 + Proliant dan RHEL > 2.1 + Oracle sudah certified. Kemungkinannya (dan juga penghiburan > diri) kita cuman dapet "bad batch hardware" aja tapi ngeliat di forum > HP banyak juga yg dapet masalah seperti kita dengan "no bullet proof > solution". Make sense. BTW, kalo Proliant-nya sendiri dipakai buat aplikasi lain bagaimana? Cuman ada satu aja yah? > Salah di Oracle nya sih, gara2 "alter database datafile '....' resize > xxxMB" yg ternyata space di partisi itu sudah habis. Terpaksa harus > begadang lagi untuk restore backup. kayaknya saya curiga anda tidak pakai Linux file system, tapi pakai RAW disk yah? > > BTW, anda kelihatannya kerja di vendor/consultant. Apakah ada client yg > memakai superdome? ada. > Kalau ada, bisa tolong ceritakan pengalamannya > terutama tentang TCO/ROInya. wah ini ndhak tahu, saya gak ngerti kalo soal perduitan sih Tapi pada intinya, mesin mesin virtual+multiple domain ini memberikan kemudahan untuk menangani satu platform saja. Bandingkan dengan misalkan kita punya 8 biji mesin 4 processor, report managenya. Lebih mudah pakai 8 domain dalam mesin sekelas ini, setiap domain diassign 4 processor. Platformnya kan cuman satu, jadi enak. Oh yah, mungkin ada yang mengira, mesin sekelas ini kan bisa 128 processor, tapi jarang sekali ada orang bikin 1 domai isi 128 processor. Paling banter mungkin 64 processor, dan lebih banyak ada di sekitar 4-32 processor. Memang bisa sih, scaling sampai 128, tapi jarang dipakai kecuali untuk keperluan scientific. Tapi kalo untuk scientific, biasanya SGI lebih disukai. > > Untuk balik ke topik awal masalah support Oracle + Linux dalam situasi > saya. > + Pastikan anda membeli hardware yg me-'certified' OS anda. Dalam > situasi saya orang HP (Indonesia) cukup kooperatif, teknisinya > (hardware) mau datang ke tempat saya di remote site (walau harus > dibujuk2 dulu gara2 dia takut naik pesawat kecil). jadi kepingin tahu dimana sih? Terus terang kerjaan saya juga gituan soalnya. > Tapi kalau sudah > masalahnya bukan di hardware mereka tidak bisa troubleshoot jadi mereka > harus buat ticket dan escalate ke singapore/worldwide. > Untungnya solusi yg mereka kasih cukup bagus dan mereka selalu > me-maintain kita dengan menelpon menanyakan bagaimana kabar servernya > dengan intensitas yg cukup sering. wah itu bagus tuh, tapi pengalaman pribadi saya dengan HP juga begitu. > > + Lupakan support langsung dari Redhat karena memang cukup susah dalam > hal waktu dan jarak jadi biarkan saja vendor hardware yg berbicara > dengan mereka untuk mencari solusinya. Tapi juga harus dipastikan > apakah kondisi dan timetable-nya ini sesuai dengan prioritas anda. betul juga, Red Hat baru bulan ini akan buka di Singapore, untuk handling APAC > > + Kalau anda punya cukup budget, cobalah untuk memakai OS yg > resourcenya cukup banyak di Indonesia seperti HPUX. Mesin2 kami yg lain > dan yg akan kami beli (dan sudah datang) memakai HPUX dan ngeliatin > cara kerja teknisi dan supportnya memang kelihatan "they know what they > are doing". Sering kita ngebuat ticket di call-center dan 5 menit > kemudian sudah dapet telp balik dengan aksen melayu atau filipina. > Ketenangan hati dan pikiran adalah "priceless". IMHO, OS Unix terbanyak di Indonesia itu adalah Solaris. Baru HP-UX, ini pengalaman saya support Solaris, HP-UX, AIX, dan IRIX yah. > > + Tetapi kalau anda ingin memaksimalkan TCO + ROI dan punya resource yg > cukup cobalah untuk memakai Linux (walau bisa nantinya beda2 tipis > juga). Tapi jangan korbankan "users" anda dengan memakai resource > (orang) yg tugasnya membantu mereka karena untuk merekalah (users) anda > berkerja dan dibayar (lebih/mahal). > (Isn't that what support is all about? ;p ) Setuju !!!
