On Wed, 16 Feb 2005 14:15:45 +0700, Bi[G] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ya itu oom.. digitalnya kan hanya sampe (sebelum malah) pemancar.. > dirubah ada alat lagi jadi analog baru dipancarkan..
Yup. Mungkin perlu digambarkan bedanya sistem komunikasi analog dan dijital. Sistem komunikasi analog itu kira-kira seperti ini: scene -> camera -> modulator -> channel Sejak dari scene hingga ke modulator, sinyal-sinyal yang dilewatkan itu berupa sinyal continuous (analog). Jenis modulator yang bisa menerima input sinyal analog misalnya AM dan FM (mungkin Affan yang murid kesayangan Pak Herman lebih tahu soal ini :D ) Kalau sistem komunikasi dijital: scene -> camera -> source encoder -> modulator -> channel Di sini, sinyal dijital sudah ada di keluaran dari kamera (anggap di kamera sudah ada AD converter). Masukan dari source encoder dan modulator adalah data dijital (0 1), tetapi keluaran modulator adalah sinyal analog. Modulator untuk sinyal dijital berbeda dengan modulator sinyal analog, misalnya ASK, PSK, FSK, dan QAM. Untuk kasus digital TV broadcasting: scene -> camera -> MPEG2 encoder -> QAM modulator -> channel Anggap keluaran MPEG2 encoder itu adalah sebuah MPEG2 file (yang mudah dibayangkan) yang tentu saja berupa binary data. QAM modulator itu akan membaca bit demi bit dari MPEG file tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah sinyal analog dengan frekuensi yang tergantung si modulatornya (misalnya VHF, UHF?). Fungsi modulator itu untuk mengubah MPEG data tadi menjadi sinyal lain yang sesuai dengan karakteristik channel (atmosfir/cable) agar lebih tahan banting (sebenarnya perlu juga ditambahkan channel encoder di antara MPEG2 encoder dan QAM modulator agar error menjadi lebih kecil). Diagram bloknya sudah jelas berbeda sehingga TV decoder untuk jenis dijital dan analog pasti berbeda. Akan tetapi, anggap ada orang sakti yang bisa melihat sinyal di kabelnya kabelvision itu, sinyal yang lewat pasti analog (baik digital content maupun analog content).
