On Wed, 9 Mar 2005 18:38:02 +0100, Ikhlasul Amal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Email dari enda nasution, 05 Mar 2005, 07:49:55 +0700:
> >
> > oh beda boy. tags itu strukturnya flat. sesuatu bisa punya banyak tags
> > tidak hanya satu. misalnya topik artikel dari Roy Suryo bisa kita
> > kasih tags: roysuryo, berita, indonesia, pakar etc.
> >
> > kedua, nama folksonomies diturunkan dari kemampuan orang lain
> > memberikan tag pada sesuatu milik kita [folk]
> >
> > di flickr misalnya, gue bisa ngasih tag ke photo-photo elu. di
> > del.icio.us gue bisa ngasih tag ke bookmark yg orang save.
> >
> > jadi tags bukan categories.
> >
> ---akhir kutipan---
>
> Kalau dilihat dari sisi lain, tag ini seperti mengacak-acak "kemapanan".
> Kategori cenderung berbentuk hirarkis, sehingga mudah dalam hal
> pengorganisasian, namun "kurang egaliter".
>
> Seperti halnya resiko kemapanan yang ditabrak, tag dapat menimbulkan
> anarki jika pemakaiannya liar. Coba lihat di del.icio.us, dari mulai
> perbedaan pakai "s" atau tanda hubung ("book" atau "books"?
> "movabletype" atau "movable_type"?) sampai dengan perbedaan ungkapan
> yang sebenarnya mengacu pada barang yang sama.
>
> Apalagi jika oleh Enda disebut sebagai "berstruktur flat", rasanya
> seperti mementahkan semua usaha keras para pembuat basisdata yang justru
> ingin menghasilkan struktur relasional setelah puluhan tahun kesulitan
> dengan struktur flat. :-)
>
Ini mungkin nggak nyambung dengan posting sebelumnya.
Menurut saya, ada dua jenis usaha untuk "menstrukturkan" informasi
(informasi tidak sama dengan data).
Cara yang pertama yaitu dengan menggunakan indeks. Indeks membantu
kita melakukan pencarian hanya dengan cukup menuliskan keyword saja,
yang kemudian dipakai oleh sistem untuk mengembalikan hasil yang
sesuai. Kelemahan dari cara ini adalah adanya sunatullah yang
menjadikan otak manusia itu bekerja berdasarkan asosiasi.
Ketika otak manusia memikirkan suatu subjek (subjek di sini adalah isi
yang substansial dari dokumen yang sedang dibaca atau dicari), otak
manusia akan mencoba menghubungkan dokumen-dokumen lain (yang sudah
pernah dibaca) yang masih berhubungan dengan subjek tersebut (bukan
bekerja terhadap keyword/indeks).
Karena itulah, otak manusia tidak merasa nyaman dengan penggunaan
indeks untuk melakukan pencarian ini. Sebagai analogi adalah, sebagian
besar orang lebih suka menanyakan orang lain (atau melihat rekomendasi
di Amazon) tentang buku apa yang sebaiknya dibaca setelah dia membaca
buku "Seven Habits Of Highly Effective People", daripada mencari di
Google kata-kata yang digunakan untuk merepresentasikan isi dari buku
tersebut.
Cara yang kedua adalah dengan menggunakan asosiasi antar dokumen untuk
memudahkan pencarian. Membangun asosiasi ini tidak semudah membangun
indeks, karena dibutuhkan feedback (baik secara eksplisit maupun
implisit) dari pengguna. Namun sebagai imbalannya, pengguna dapat
memperoleh informasi yang relatif lebih sesuai daripada cara pertama.
Kenapa? karena relevansi ditentukan dari pengguna (atau bahkan
pengguna lain) itu sendiri, tidak oleh sistem yang sebenarnya tidak
mungkin bisa memperkirakan tingkat relevansi suatu dokumen ini secara
tepat.
Kelemahan dasar dari cara ini adalah besarnya kemungkinan munculnya
"noise", di mana ada pengguna lain yang menyarankan item lain yang
tidak sedikitpun berhubungan dengan subyek pengguna tadi.
Demikian.
> --
> amal
>
> Adat diisi, lembaga dituang:
> mengerjakan sesuatu menurut kebiasaan yang terpakai
>
--
Demi masa..