Email dari donnybu, 13 Mar 2005, 05:25:15 -0800:
> 
> ya silahkan saja jika teman2 lebih "nyaman" menulis di blog. saya hanya
> mencoba mengundang dan menjembatani teman2 yang merasa (dan pernah
> mengeluh) bahwa media seolah2 tidak memiliki keberpihakan kepada pihak
> lain, atau nara sumbernya hanya itu-itu saja. bahwa rekan2 lebih suka
> menulis di blog, ya monggo. yang pasti, gaya penulisan dan beberapa hal
> lainnya tentu akan berbeda antara menulis untuk blog "pribadi" dengan
> media "massa".

Ramai-ramai tentang keluhan perihal media massa itu sebenarnya "sudah
mulai terjawab". Sejumlah bantahan terhadap pendapat yang dianggap
kurang tepat sudah dimuat di (lebih) banyak blog, dan menurut saya mulai
efektif. Demikian pula tulisan tentang blog itu sendiri sudah mulai
dipaparkan di media massa besar (Tempo, Sinar Harapan, Media Indonesia,
yang saya tahu), sehingga bagi pembaca media cetak pun sudah mulai kenal
dengan dunia tersebut.

Khusus untuk masalah TI, terutama di Indonesia, menurut saya blog sudah
mulai dapat menjadi media alternatif dalam hal opini. Parameternya:
penulis blog serius belakangan ini banyak datang dari dunia TI. Setiap
penulis blog memang punya kesempatan yang lebih sedikit dalam menulis
artikel, katakanlah seminggu dua kali misalnya, namun karena jumlahnya
cukup banyak (misalnya yang dikumpulkan di Planet Terasi) jadi sudah
lumayan setiap hari ada opini baru.

Kemudian ada faktor lain: karena materi di blog secara aksesibilitas
lebih baik dibanding media massa, posisi mereka di mesin pencari
seringkali lebih tinggi dibanding media massa resmi. Contoh kasus yang
mencolok adalah ketiadaan permalink di media massa yang menyulitkan
mesin pencari dan pembaca yang datang dari mesin pencari.

Jadi kalau disederhanakan: pembaca media massa resmi umumnya adalah
pelanggan -- artinya mereka datang ke sana karena sudah menjadi kegiatan
rutin; sedangkan blog dibantu oleh mesin pencari yang sering mendapatkan
tambahan pengunjung baru dari orang-orang yang tidak sengaja mencari
sebuah topik tertentu. Sekali lagi: "umumnya", mohon jangan digeneralisir.

Jika kian banyak pengunjung Web di Indonesia memanfaatkan mesin pencari
dan mengerti teknologi pembacaan sindikasi yang efisien, kemungkinan
kenaikan jumlah pembaca blog akan signifikan. Ini asyik: saya
membayangkan kompetisi yang seru antara penulis berbasis-komunitas vs.
berbasis "brand" (istilah yang sering digunakan oleh Frans Thamura).

> ini saya  copy-paste saja deh :
> "soal ditampilkan di tempat lain, sebenarnya di e-mail ajakan dari saya
> sekitar 1 bulan lalu, sudah dijelaskan panjang lebar. silakan kalau
> tulisan yang telah dimuat di detikcom, keesokan harinya langsung  di
> arsipkan di blog, di website atau di posting di milis. jadi jangan
> dibalik, apa yang "telah" menjadi arsip di blog, situs atau milis, lalu
>  dikirimkan ke detikcom"
> 
> tambahan : karena salah satu syarat mutlak pengiriman artikel/opini ke
> media massa manapun, adalah masalah faktualitas dan keterkinian. jadi
> apa yang benar2 jadi isu menarik dan lagi hangat2nya. nah kalau artikel
> tersebut ternyata sudah pernah menjadi arsip di blog, milis atau situs
> pribadi, berarti syarat faktualitas dan keterkiniannya kurang
> terpenuhi. yang pasti, kalau suatu tulisan sudah pernah dimuat oleh
> suatu media massa, maka media massa yang lain pasti menolak tulisan
> yang sama.
> 

Yup, saya setuju.
Setiap penerbitan, media massa atau self-publishing (istilah yang
dipakai Jason Kottke), punya kebijakan masing-masing. Kalau memang lebih
asyik menulis di blog, kita (soalnya saya juga penulis blog, jadi
"kita") siapkan semua amunisi untuk memikat pembaca. Demikian juga,
apabila hendak masuk ke media massa, syarat-syarat yang mereka minta
perlu diikuti. Kedua belah pihak tidak perlu "mengeluh" sulit memahami
satu dengan yang lainnya.

Tentang publikasi di tempat lain dan di tempat pribadi, menurut saya
contoh negosiasi yang dilakukan oleh Randal L. Schwartz (hai Perl!)
dengan Linux Magazine dan Perl Journal [1] menarik. Dia diperbolehkan
memasang artikelnya di situs pribadi tiga bulan setelah dimuat di edisi
cetak. Bisa diambil turunan dari situ, misalnya: yang boleh dipasang di
situs pribadi adalah edisi sebelum "diperbaiki" oleh tim editor media
massa. Bisa diatur-atur, termasuk honornya... ;-)

1) Columns by Randal, http://www.stonehenge.com/merlyn/columns.html

---akhir kutipan---

-- 
amal

A wise person makes his own decisions, a weak one obeys public opinion.
                -- Chinese proverb

Kirim email ke