On Mon, 28 Mar 2005 10:42:30 +0700, Ivo Setyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Degree "terjangkau" nya jadi agak berat sebelah =) > > Soalnya untuk sekitar 66RM dapetnya 512Kbps. > (RM66 sekitar Rp200ribu) > > Itu KL, belum Sing or US lho...
Di JP, saya langganan cable Rp. 485 ribu per bulan, dapat 30 Mbps. Layanan NTT Flets yang pakai FTTH [but not to my home yet] juga ongkosnya hampir sama, dapat 100 Mbps. No usage limit. Ini bisa terjadi karena membangun infrastrukturnya relatif lebih mudah. Meskipun sama-sama berjejer pulau-pulau, jarak antara empat pulau-pulau besar relatif dekat (antar pulau dihubungkan oleh jembatan dan rel kereta). Sedangkan fasilitas yang disediakan oleh penyedia infrastruktur di Indonesia saat ini belum bisa untuk menyediakan layanan broadband yang murah. Saya lihat tidak semata-mata karena untuk mencari revenue sebanyak-banyaknya. Mengalokasikan sebagian slot di PSTN cloud-nya untuk keperluan non-telephony services tidak mudah, khususnya menyangkut signaling dan billing. Itu pun kalau ada ruang untuk menambah channel. Untuk mengsinkronkan signaling antara sebuah sentral Siemens EWSD dan Lucent ESS, misalnya, ruwet. Apalagi kalau banyak sentral yang harus diubah. Costly. Mengapa PSTN provider tidak investasi agar bisa memberikan layanan ADSL dan broadband lainnya yang lebih murah? Selain masalah finansial, juga karena sistem KSO yang sudah hitam di atas putih. Misalnya, dalam perjanjiannya, pihak KSO diwajibkan untuk membangun sekian SST. Setelah sekian SST dibangun, ya sudah. Buat apa membangun lebih banyak? Untuk apa membuat layanan baru kalau dengan yang ada sekarang revenue jalan terus dengan lancar? It is a matter of doing business. Membangun network provider baru? That's the government's policy. Ask SBY. ;-)
