On Apr 5, 2005 5:16 AM, Affan Basalamah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > 1. Royalti ini ditentukan oleh penerbitnya. Anda mestinya akan > diberitahu berapa persen royalti yang anda dapet itu. Royalti biasanya > ditentukan oleh persen royalti dikali harga buku dikali jumlah exemplar > terjual dalam periode tertentu, dipotong ppn dan pph. Tiap penerbit > punya ketentuan tersendiri mengenai besar royalti dan harga buku. ========== Nah, berarti kalau diterjemahkan dengan formula, apakah benar seperti ini?
Royalti = (%royalti x eksemplar terjual) - (ppn + pph) Mengenai royalti ini, saya dengar (dan dapat info), untuk yang pertama kali nulis, maksimal 10% (apakah ini dalam pengertian jenis buku apapun, ntah itu punya potential market atau nggak)? > 2. Nggak ada ketentuan khusus sih mengenai selling buku yang akan kita > tulis. Kalau saya, paling gampang disurvey dulu di toko buku, topik apa > yang banyak ditulis. Bisa saja kita tulis topik yang kita kira menarik, > banyak orang pingin tahu, dan belum ada bukunya. Kalau bisa, nggak usah > terlalu teoretis, orang kebanyakan males baca. Cari topik yang praktis > dan memecahkan masalah orang. ========= Terima kasih untuk masukkannya Mas... :) > 3. Penerbit biasanya nggak suka buku yang terlalu tebal, kecuali dengan > alasan tertentu, misalnya kerjasama dengan Microsoft atau Adobe untuk > bikin buku resmi. Ukuran kertas, teknik cetak, desain sampul, tata > letak dan jenis huruf itu bisa didiskusikan kalau buku yang kita tulis > sudah masuk. Kalau huruf, kita bisa tentukan sendiri kalau kita pake MS > Word. ========= bagimana jika yang terjadi adalah "buku memang harus tebal, karena contentnya memang banyak"? Dan dalam hal ini misalnya tidak tercipta kerjasama dengan pihak-pihak lain. Apakah hal ini tetap bisa terjadi. Atau, apakah ada semacam proses editing dari editor penerbit, sehingga jumlah halaman bisa dikurangi? > 4. Gambar yang akan ada di buku itu kita harus buat sendiri. Editor > nanti akan menyesuaikan gambar kita nanti dalam layout buku kita agar > tepat. ========== Berkaitan dengan hal ini, apakah pihak penulis (setelah terjadi kesepakatan bahwa penerbit menerima) dapat mengetahui tentang misalnya ukuran kertas yang dgunakan? Atau bahkan sebelumya. Sehingga materi yang berupa gambar dapat lebih dipersiapkan dengan langsung menyesuaikan ukuran bukunya? (susah ya kayaknya?) Oh ya, saya pernah dengar, katanya editor/penerbit akan memberi tahu kita tentang draft yang akan dicetak (setelah melalui proses edit). Apakah memang semua penerbit melakukan hal ini? Atau, apakah bisa terjadi kemungkinan buku tersebut lansung dicetak? (Dulu pernah baca, katanya ada penulis yang kaget karena ada bagian dalam buku yang tidak sesuai dengan harapan penulis. Kalau tidak salah gara-gara penerbit memasukkan tulisan "Chicklit", dan penulisnya sedikit protes). > 5. Ya kalau mau bikin testi, ya reviewer haruslah diberi info tentang > buku kita dong. Kalau perlu diberi softcopy nya, namun mungkin harus > ada sejenis NDA (Non Disclosure Agreement) agar reviewer hanya > menggunakan softcopy itu untuk keperluan review saja, bukan untuk > diperbanyak. > > Kalau pengalaman saya sendiri, AFAIK nggak ada editor di penerbit > Indonesia kayak di O'Reilly (sila baca > http://www.oreilly.com/oreilly/author/index.html) yang membantu > mengarahkan kita menulis buku. Kalau mau cari editor, cari aja temen > kita yang membaca seluruh buku kita sebelum kita publish. Paling nggak > dia bisa lakukan spell-check. Kita tulis pakai MS Word, masukkan semua > gambar yang kita buat, lalu burn ke CD. Kirim CD tadi ke penerbit, dan > kalau perlu, mampir secara fisik ke penerbit, dan tanyakan saja semua > hal yang ingin anda ketahui disana. ========= Wah, terima kasih atas tambahan informasinya mengenai NDA itu Mas... Sekali lagi terima kasih untuk informasinya... rdgs, Thomas Arie S. -- Personal site: http://warnadunia.net
