On 4/26/05, Unggul Depirianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Budaya mengeluarkan pendapat dan saling berargumentasi mungkin masih
> sulit dikembangkan di Indonesia. Beberapa hal yang pernah saya amati:
> 
> - Orang Indonesia lebih sulit mengeluarkan pendapat, walaupun dia
> sendiri yakin dengan pendapatnya.

ya kalo ngomong sering pake kata "mungkin" atau "barangkali" ini
menunjukkan kurang pede, padahal manusia salah kan biasa, mungkin
problemnya adalah takut salah.

> 
> - Orang Indonesia tidak suka memperlihatkan pengetahuannya atau
> berargumentasi, mungkin takut dibilang sombong atau sok tahu. Hal ini
> terlihat lebih jelas jika orang tersebut berada pada lingkungan yang
> kurang dikenal atau belum terbiasa di dalamnya.
> 

Ini mungkin gara2 pepatah, "ibarat padi, makin berisi makin menunduk"
Padahal kalo kalo kita punya kemampuan bukannya kita harus aktif
menggunakan ilmu kita??

> - Orang Indonesia masih sulit untuk menerangkan/mendeskripsikan sesuatu
> dengan detail dan memperhatikan bagian-bagian detail yang kecil dari
> suatu pekerjaan. Padahal seringkali bagian-bagian kecil tersebut akan
> menjadi suatu hal yang penting.
> 
> 
Ini juga salah satu kata yg lazim dipake "perasaan", "pokoknya",
tujuannya agar lawan bicara tidak perlu memperdebatkan lagi kesimpulan
yg diberikan pembicara. Saya rada kaget juga waktu liat orang Jepang
mendeskripsikan rasa sebuah masakan, bisa panjang lebar, padahal cuma
masakan, ya tujuan orang jepang bukan sekedar buat masakan yg enak
tapi masakan yg sempurna, hmm.

Kalo saya liat munculnya inovasi eratnya dengan unsur produktivitas.
Jadi perlu sesuatu motivasi. Disalah satu hint yg pernah saya baca
untuk memacu produktivitas adalah dengan mempertaruhkan sesuatu, ini
bukan gambling, misalnya kita masukkan sejumlah uang yg cukup besar,
mis 1x gaji, kemudian diberikan ke teman kita dengan perjanjian "bila
dalam sekian bulan tidak jadi barang xxxx maka kirimkan amplop ini ke
panti asuhan". Mungkin keliatan cukup konyol tapi efektif, ada yg mo
coba he he.

Tapi karena cara diatas hanya untuk satu individu maka untuk rame2
bisa diubah jadi model sayembara, kalo yg buat sayembara yg duluan
buat barangnya maka uangnya nggak jadi dikasih tapi kalo ada orang
lain yg berhasil buat lebih dulu maka duitpun melayang.

Saya sendiri nggak suka prizenya "uang", kalo diganti "buku" IMHO
lebih menarik, lebih bernilai positif gitu.


-- 
http://ngopi.blogspot.com

Kirim email ke