> Contoh kasus: BEJ tahun 95 sukses
> berubah dari perdagangan manual ke komputerisasi.
> Tapi sistemnya (proprietary) buatan Australia.
> Dalam kerangka "sukses korporasi mengadopsi IT"
> ini termasuk prestasi dalam negeri atau enggak ya?

Kalau kasus BEJ seperti ini menurut saya sih sah-sah aja kalau
dimasukkan dalam kerangka sukses adopsi IT. Karena walaupun pakai
sistem luar yang memang merupakan produk proprietary, tetap saja ada
perusahaan yang gagal mengadopsi dengan baik di level end user.

>
> Kenapa ada obstacle dalam adopt IT di Indonesia?
> Karena kita lemah di IT project mgt kah?
> Atau sekedar "nggak bisa njual" aja?

Atau mungkin malah selama ini kita memperlakukan client kita bukan
sebagai "rekan" dalam pengembangan software ini. Memang seluruh
rancangan requirement dibuat bersama2 dengan pihak client dan UAT
berdasarkan mereka, tetapi itu biasanya hanya dilakukan di awal dan
akhir proses. Saya rasa sikap ketidakterlibatan end-user secara
langsung lah yang menyebabkan banyak projek IT gagal diadopsi oleh
korporasi.

Kirim email ke