> Tentang regression test, memang tidak ada jaminan (dan memang tidak
> akan pernah ada) bahwa programnya bug-free. Tetapi tetap saja lebih
> baik ada test daripada tidak ada. Seperti sudah saya tulis, kelebihan
> regression test itu adalah karena otomatisasinya: sekali dijalankan,
> banyak test. Bandingkan kalau semuanya harus satu per satu.

Test-kan macam2,dari unit test/devtest di programernya
sendiri,automation/regression yang melakukan routine automated
test(dan cover major scenario),testing source code via 3rd party tools
(seperti Coverity) dan QA Formal Feature testing.

( Eeeh baca dong  www.coverity.com ada berapa bugs di Linux Kernel )

Untuk produk yang highly complex dan butuh real-time processing kita
juga perlu simulation tools(misalnya traffic generator,protocol
generators,test scenario generators).Selain itu ada juga independent
testing yg dilakukan QA Engineer .Kalau ini dilakukan untuk mencari
bugs di functionality,scalability dan performance.

Untuk produk jaman skrg,testing sama pentingnya dengan core software
development,jadi pertanyaanya bukan apakah testing perlu atau tidak ?
............
..Kebanyakan persh skrg sadar betap pentingnya arti test,sebab failed
product bukan cuman merusak produk,tapi merusak image perushaan dan
test strategi ini juga gak mudah.Bayangkan untuk di networking,jika
customer install 1000 boxes dengan scenario yg komplex,sementara
customer lain uji coba dengan topology/features yang lain,nah kan gak
mungkin semuanya bisa di-cover.


Biasanya test dilakukan oleh QA group yg berbeda dengan developer dan
dibagi atas spesialisasinya msg2.Contohnya untuk di networking,kalau
software groupnya dibagi atas L2,L3,system,MPLS,multicast dan hardware
team,di QA juga dibagi sama seperti itu.

Software bug-free memang tidak ada,tapi yang bisa kita cari tahu
adalah relativitas kestabilan code begitu produknya dilempar ke
market(dari feedback customer).

Tapi seperti gw bilang di email sebelumnya,untuk mencegah bugs itu yg
terbaik adalah melakukan formal code review sebeum checkin ...jadi
code yang katanya copy-paste itu didiskusikan dengan lead
developer,kalau dia ok dan merasa codenya gak "breaking something
else",ya baru di commit untuk sw branch.

Inget gak quote begini: bugs ketemu di design,cost Rp, 10,000 ...bugs
ketemu di testing cost Rp. 100,000....bugs ketemu di customer cost Rp
10,000,000


Begitu selesai,code tsb kan dilock dan tergantung kompleksitas
apa,dicommit ke software train yang mana ? biasanya diberi buildsnya
dengan Beta/pre-caution release,artinya customer is "expected" to see
problem,nanti setelah 6 bulan,tergantung feedback dari customer,build
tsb mungkin bisa jadi stable build atau malah gak direlease karena
checkin codenya bikin masalah baru.Kalau gak stabil lagi.,ya balik
lagi dari awal..


Carlos

Kirim email ke