On 11/20/05, Oskar Syahbana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Jangan lupa, Human Resource Quality tanpa koneksi internet yang baik pun > akan terbuang percuma. Contohnya India yang bisa men-sustain SDMnya agar > tetap berkarya di India (dan akhirnya jadi penyumbang devisa) dan Indonesia > yang walaupun SDMnya unggul, koneksi internetnya sucks (yang berakibat orang > - orangnya pada kabur keluar dan ga balik - balik lagi hehehe).
Ah yang bener ... Sudah pernah nyoba infrastrukturnya India? Saya sudah. Ternyata nggak hebat-hebat amat. Bahkan cenderung lebih buruk daripada di Indonesia. Sudah nyoba infrastrukturnya Silicon Valley? Sama saja. Nggak hebat-hebat amat. [Beberapa minggu lalu, juga nyoba internetnya Singapore. Biasa saja.] Di Indonesia ini kita sering mengeluh dan menggunakan resources tidak semestinya. Akses Internet di Indonesia ini juga kenceng2 kok. Buktinya rekan-rekan kita hobbynya download film2. he he he. [No need to name names. ha ha ha. Soalnya saya kecipratan hasilnya.] > The question is when? BHTV itu kalau tidak salah sudah dicanangkan sejak > lama deh tapi realisasinya masih belum (karena you-know-what) No, I don't know "you-know-what"? Kalau ada yang tahu jawabannya, tolong diberitahu. [ps: diskusi semacam ini, dan membuat link dengan orang2 di LN seperti Carlos ini, merupakan salah satu aktivitas yang bisa diklaim sebagai aktivitas BHTV lho.] > > Mudah-mudahan waktu SBY datang ke Bangalore 1 bulan yang lalu,hal > > seperti ini masuk kedalam pemikiran beliau. > > Loh bukannya beliau masih tetap ngotot menjadikan Bill Gates dan > Microsoftnya sebagai IT partner Indonesia? Kalau memang punya pemikiran > seperti itu, seharusnya beliau (lebih tepatnya: penasihat - penasihatnya) > sadar kalau propietary software (setidaknya untuk kondisi sekarang) bukanlah > jawaban. He he he ... lantas para software developer itu cari makan dimana ya? ;-) Kalau saya, karena bukan software developer, build services on top open source / free software. Jadi memang untuk jenis layanan / bisnis seperti yang saya tekuni, free / open source software sangat mendukung. Jadi jelas saya pro open source / free software movement. Namun, saya kebayang kalau *semua* software itu dibuat non-proprietary, para developer makan apa ya? he he he. Siapa yang menggaji mereka? Google? (Itulah sebabnya saya jadi mikir2 ingin melamar jadi country managernya Google di Indonesia supaya bisa bayarin programmer/tukang utak atik di Indonesia untuk ngoprek open source.) Saya perhatikan (tidak punya data yang sahih), para software developer di Indonesia kebanyakan buat aplikasi kecil2 (seperti accounting, dll.) yang sifatnya *PROPRIETARY*. Kayaknya sih cukup untuk makan mereka sehari-hari, tetapi tidak/belum menjadi industri. -- budi
