> India memulai dg menguatkan dasar serta melakukan penciptaan engineer secara
> massal (awal 60-an sudah dimulai).   Ini dimulai dg mereka mulai membuka
> pusat pendidikan teknis (7 titik di seluruh India), sekitar tengah 60-an.
> (atau malah awal 60-an).
> Jadi mereka sudah berani masuk ke Sil Val dsb, itu adalah dampak dari PR yg
> mereka sudah lakukan dari lama. Jadi bukan ujug-ujug langsung bisa masuk ke
> Sil Val.

Betul ... akan tetapi.

>
> Salah satu PR yg mereka sudah lakukan dan belum kita lakukan (di Indonesia)
> - Pemeratanaan kualitas dan masalisasi SDM (alias jangan ngumpul di satu
> lokasi, dan institusi saja)
> - Modal dasar ilmu
> - Mental swadesi

Betul .. makanya pakai target jangka panjang dan jangka pendek,mana
yang memungkinkan,mana yang skala prioritas,mana yang bisa dilakukan
sekarang,mana yang nanti,target untuk 1 atau 2 tahun kedepan apa,target
10 tahun kedepan apa ?

Setuju 100% kalau ingridient terbesar industri hitech adalah SDM yang
berkualitas.

Yang saya lihat:
Kita terlalu repot kebanyakan bikin teori,bikin orang awam yang punya
potensi bingung ,padahal menurut saya approachnya Pak Budi sudah sangat
close ke praktikal level
--ini dari sisi pandang orang(saya) yang berpengalaman di
Valley,berpengalaman di Indonesia dan sempat hidup di Bangalore jadi
Insha Allah ini testimonial yang credible--


Sekarang masalah paling real yang saya lihat:
Di Indonesia BANYAK Indonesian SDM yang ber*potensi* untuk menjadi IT
leader atau involved di pengembangan leading edge technologies ,akan
tetapi potensi mereka gagal dikembangkan secara maximal karena situasi
non-teknis,dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun atau
berdekade-dekade.

Entah masalahnya kultur,ketidak tahuan,duit,korupsi,etc yah
terserahlah,yang penting resistancenya itu harus didobrak (melalui BHTV
ini salah satunya).

Di milis ini banyak  yg saya yakin kalau untuk mendapatkan pekerjaan
dan kemudian bisa "bekerja-belajar" sebagai software engineer,QA
Engineer,TAC Engineer, mereka PASTI diterima Intel,AMD,HP,
Microsoft,Redhat,Cisco,Apple,[and put any of your favourite companies
here], contohnya seperti Mas Pri,Mdamt,Arya,Om Baskara,Pakcik,om Adi
(yang gak kesebut jangan marah).

Jadi bukan mimpi atau awang-awang untuk memimpikan 10 tahun lagi kalau
Designer Chips Intel di Silicon Valley dilakukan orang Indonesia.Masak
sich gak malu dengan Malaysia yang sudah menerima orderan bikin design
chip ?


Waktu saya di Bangalore,ngomong sama adiknya temen saya yang kebetulan
kerja di Infosys dan kebetulan kakaknya kerja di Wipro,buat mereka
kerja di industri hi-tech/silicon valley entah di US atau England itu
pembicaraan warung rokok saja,
tidak ada yang aneh atau spektakuler....mereka baru bingung waktu saya
kasih tahu kalau industri Hi-tech/software di tanah air hampir tidak
ada.Padahal kalau dilihat dari kualifikasi mereka,mereka gak
"jago-jago" amat dibanding jagoan Indonesia.


> > dalam email terdahulu carlos juga mengatakan bahwa
> > singapore (NUS?) buka kantor di sana. jadi ingin tahu
> > lebih lanjut.

Saya tahu sejak meeting NUSEA itu Pak, websitenya http://www.nusea.org/
Intinya mereka sudah punya building sebagai "office para Startup" dan
disponsori NUS.
Mereka sangat terbuka dan antusias dengan kerjasama dan sebagainya.

Kontak personya saya pikir bisa menggunakan salah satu Indonesian
techie di Petaluma yang Pak Budi kenal baik :)


> Carlos buka juga donk kantor di sana, minimal jual makanan Indonesia :-)

Restoran Indonesia sudah banyak ada dan ...... BANGKRUT
Mau kita bikinkan analisa kenapa restoran Indonesia di US banyak yang
tutup ? :)

Testimonial: disni cari martabak telor atau Gudeg+pecel lele itu
perkara mudah.

> > tapi ... sayangnya alasan ini (harus benar2 pergi ke
> > luar negeri) dijadikan alasan pejabat kita yang "terhormat"
> > untuk jalan-jalan ke luar negeri.
> >
>
> Ya harus ubah strateginya, manfaatkan staf yg lagi  kebetulan di LN (studi
> atau apa), berikan mereka tugas buat ngintip-ngintip (jangan ngingtip peep
> show aja)

Kesulitanya itu pak,orang-orang Indonesian Techiesnya memang nyatanya
sedikit,
Pak Budi juga tahulah siapa saja dan sejarah mereka kenapa bisa
"nyasar" di Valley atau Petaluma .

Kalau ngomong dengan non-techie Indonesian seperti KonJen ya
sulit,karena mereka memang gak mengerti binis,potensi dan
"how-to"-nya.Yang ada paling menyalahkan faktor bahasa sebagai alasan.

Nah yang **gregetan** itu yang kayak saya gini,tahu kondisi dan potensi
di Indonesia,tahu kondisi di Valley dan aware kondisi Bangalore. Masih
geleng-geleng sampai sekarang.

Carlos

Kirim email ke