Ivo Setyadi wrote:
> (Cara ini banyak dipakai oleh pembajak film, agar film di bioskop
> yang harusnya "sekali tonton" jadi bisa ditonton berulang kali)
>
> Bukankah ini artinya email tsb lalu menjadi tidak "sekali baca" lagi?
>
> *curious*

Wah terimakasih Ivo, atas tanggapannya.

Saya jadi bingung juga menjawab *curiosity* nya Ivo nih. Dan saya yakin
bisa jadi jawaban saya malah membuat Ivo tambah *curious* :D. Seperti
sudah saya utarakan, latar belakang teknis saya masih bau kencur.
Paling, saya hanya bisa jawab, ide saya terinspirasi oleh film Mission
Impossible. Nah kalau zaman dahulu masih pakai kaset, zaman sekarang
sudah umum menggunakan email.

Kita analogi dulu dengan teknologi yang sudah ada.

Saya saja baru ngerti sekarang, konsep digital signature. Nah, kok
bisa-bisanya yah para peneliti itu kepikiran, digital signature itu
adalah bit-bit panjang yang di kriptografi dengan berbagai macam metoda
(AES, DES, 3DES, dll). Perlu diingat, digital signature tidak sama
dengan digitalized signature. Kalau digitalized-signature itu tanda
tangan kita di atas kertas kemudian di scan. Nah kalau hal tanda tangan
yang di scan itu didefinisikan sebagai digital signature, bisa bahaya!
Karena itu sama saja dengan stempel.

Yang bisa dilihat oleh pakar kokologi (bidang ilmu yang meneliti
kepribadian manusia melalui tulisan, termasuk tanda tangan), dari tanda
tangan seseorang adalah pola-nya. Setiap tanda tangan itu adalah unik.
Karena kalau sama, itu bukan berarti tanda tangan. Itu berarti stempel.


Hmm....kira-kira ada yang tahu lembaga riset di LN mana yah, yang sudah
mulai berpikir membuat email yang bisa "hancur" sendiri.

*jadi tambah curious*

Terimakasih. 
Zaki Akhmad
http://www.zakiakhmad.info

Kirim email ke