Trias Adijaya wrote: > > > > > > > > Gimana dg Bali yg diam-diam banyak bule memberikan kerjaan outsourcing, > > > walau kelas rumah KPR BTN-an tapi banyak ternyata. > > > > Yap. Banyak sekali. Tahun 2002 saat saya mengunjungi teman dan saudara > > di Bali yang membuka usaha semacam software house, ternyata banyak > > sekali ada usaha serupa tapi kecil-kecil (bisa jadi kecil dari > > "penampakan" saja, tapi income besar, seperti Mitrais) :D > > Nah kan . > jangan2x ini lah bentuk konkrit dari "poros haitek" khas Indonesia > yang bisa jadi awal benang biru buat mengalahkan india,china dan singpure
Ini ada yang perlu dikoreksi. Jauh sebelum China,India dan Singapore itu memanggil "creative class"nya,yang namanya persh kecil mereka sudah menggeliat sejak lama.Jadi itu bukan proses yang terpisah.Justru karena ini government mereka ingin agar industri hitek tersebut bisa menjadi "next-level" industry dengan memanggil ulang para expatriatnya. Ingat disini saya pakai kata2 "next-level industry".Jadi kalau persh kecil itu proses awalnya,proses selanjutnya adalah membangun industri hitek yang lebih besar. Contoh realnya begini,inget kan waktu Pak Cik pernah keseleo ngomong kalau Indonesia harus bisa bikin produk ? Nah disini bedanya,para persh kecil mungkin bisa buat software proyek on top of windows atau linux,with probably approx 100,000 lines of code misalnya. Tapi untuk bisa bikin Produk,mulai dari embedded sampai set-top-boxes yang mungkin punya 10 juta lines of code dan hyper-kompleks, itu tata cara pembelajaranya beda sekali,gak bisa dilakukan dengan model persh kecil,kecuali kalau persh kecilnya isinya orang expert yang sudah expert sebelumnya di industri besar (atau di-lead oleh mereka). Carlos
