Made Wiryana wrote: > On 12/13/05, Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > Jadi... Indonesia adalah pasar yang empuk, bagi persh yang ingin > > mendekatkan > > > diri dengan pasar Indonesia maka, dekat-dekatlah dengan lokasi > > Indonesia. > > > Ndak heran khan India atau China yang dipilih. > > > > Kenyataan yang benar tapi menyakitkan.Di negeri yang purchasing power > > rata2 penduduknya sangat kecil,tetap saja Jakarta masih merupakah salah > > satu kota di dunia dengan kepadatan mobil mewah terpadat di dunia > > (berdasarkan statistik 'somewhere'). > > > Juga ndak heran Nokia berani merilis model baru-nya sering-sering di > Indonesia. Lha pasar menarik. Development nya, ndak usah di Indonesia. Saya > pedagang, saya mau untung.
Untuk a) market terbesarnya dimana ; memang hampir tidak ada hubungan dengan b) developmentnya dimana. Contohnya,semua persh IT berlomba2 punya R&D IT di China,India dan Irlandia(Google untuk contoh di Ireland) padahal market terbesar produk persh2 tersebut tidaklah berada di negara tersebut.Yang mereka cari memang,siapa yang bisa get the project done , dan dimana ? (BBR sudah mengingatkan ini beberapa kali). Masalah ini bisa dilihat dari dua pendekatan: ~Pertama,Kalau saya tidak salah,ada beberapa peraturan seperti di UK yang pemthnya bisa memaksakan untuk vendor bisa menjual produknya secara massive,mereka harus punya R&D disana.Pemerintah Indonesia --jika mau dan aware-- sebenarnya bisa mengadakan pendekatan atau peraturan yang sama untuk meminta agar vendor investasi R&D atau pendidikan di Indonesia. ~Kedua,sebenarnya vendor gak perduli invest R&D dimana2,termasuk di Indonesia --lha IT labour Indonesia masih terbilang 'dirt cheap' koq--. Masalahnya,mereka gak tahu apakah ada SDM atau persh yang kompeten mengerjakan R&D tersebut (keyword R&D disini bisa didefinisikan dari very small scale projek yg isinya 2 orang sampai large scale seperti di India).Kenapa mereka gak tahu ? a) karena orang2 Indonesia memang jarang ada di MNC (baik dari sisi engineering dan eksekutif) sehingga tidak bisa mempengaruhi kebijakan perushaan b )Tidak tahu harus menghubungi siapa untuk development produk tsb di Indonesia. (dengan asumsi,SDM Indonesia mampu mengerjakan proyek2 software untuk mobile application,yang nyatanya YA mampu). Solusi Masalah a) harus dijawab secara jangka panjang oleh msg2 individu, sementara masalah b) ini bisa disediakan jika ada semacam entity yang bisa inventarisi dan memajukan industri software.Kalau saya lihat di negara lain,ini bisa berbentuk Asosiasi Perushaan Software (agak batuk2) atau Komite yang dibentuk pemerintah. Hal b) ini saya baca dari Flight Capital ; disitu diberikan dengan cukup komprehensif kebijakan jangka panjang dan jangka pendek dari semua segi(baik pendidikan,kultur dan ekonomi) bagaimana negara2 Irlandia,India,China,Singapura,Taiwan dan Israel memajukan negaranya melalui sektor hitech. Di Vietnam dan Irlandial,fungsi dari Asosiasi Software ternyata cukup handal untuk memberikan kontribusi positif dan show the world 'what kind of job they could get it done'.Dengan catatan: gerakan industri tersebut mendapatkan ritme dan respond yang **seiring** dari pemerintahnya dalam menentukan kebijakan. Carlos
