adi wrote:
> On Sat, Dec 17, 2005 at 10:51:19PM +0700, Ikhlasul Amal wrote:
> > > Ada yang bisa memberikan saya pencerahan tentang dunia Matematika di
> > > Indonesia? Apa yang salah? Apa yang benar? Ditinjau dari sisi historis,
> > > apakah  India bisa memiliki kemampuan Matematika yang lebih baik
> > > gara-gara dijajah Inggris? Dan gara-gara Indonesia dijajah Belanda (dan
> > > Jepang), kemampuan Matematika-nya rendah? Bagaimana kalau Indonesia
> > > dulu tidak dijajah? Atau bagaimana kalau dulu Indonesia menjajah? :D
> >
> > Wah, masak karena faktor penjajahan?
> > Kalau Inggris menjajah "lebih baik" dibanding Belanda, memang benar,
> > namun apakah dampak yang terlihat langsung dalam bidang matematika?

Dari sisi makro ada,termasuk didalamnya pengembangan matematika dan
science:

Kalau dianalis mendalam dari sisi sejarah,pendidikan semasa kolonial
Inggris terhadap India menjadikan proses transformasi mereka dari
negara terjajah ke negara independen terjadi jauh lebih mulus dibanding
Indonesia(thd Belanda).Pemimpin mereka (Gandhi,Nehru) sudah memikirkan
bahwa India harus mengembangkan SDM lokal untuk berkompetisi secara
global,ini mengakibatkan ilmu  science dan matematika itu terangkat.

Kalau Indonesia melihat ke belakang,jaman Indonesia merdeka selain Bung
Karno sibuk ngurusi tekanan dari Belanda yang tidak rela Indonesia
lepas dari pelukannya juga sibuk mengurusi pertengkaran elit politik
yang gak selesai2 sampai tahun 1965 (sampai skrg pertengkaran elit
politik ini masih ditiru,termasuk di Internet hehehe).Jadi waktu itu
Indonesia belum sempat menempatkan ekonomi dan peningkatan SDM sebagai
prioritas #1.AACW.






> dulu, di milis numerical analysts (AS), hmm.. sekitar tahun berapa ya,
> > 1996 kali, mereka mensyukuri perubahan kurikulum matematika, yang
> selama ini (sebelum 1996, kalau betul tahun segitu) dianggap salah, dan
> menjadi biang keladi banyaknya orang luar amerika (india, cina)
> mendominasi gelar profesor di bidang matematika (dan statistika).
>
> intinya, sebelum perubahan itu, matematika diajarkan sebagai kemampuan
> berhitung yang bisa dipikir tanpa dihapal, yang ternyata belakangan
> ditemukan bahwa proses mengingat jauh lebih cepat dibanding proses
> analitik di otak (hint: cache :-). karena terlalu berdasar pada cara
> analitik itu tadi, maka 'orang amerika' menjadi lambat menyelesaikan
> permasalahan-permasalahan matematis yang kompleks -> frustasi -> jarang
> yang tertarik dengan matematika.

Sepakat.

Ada tambahan lain dari sisi makro:

Ini pernah dianalisis sama peneliti  kenapa top student(termasuk
matematika) di sekolah pra-universitas di AS hampir semuanya anak anak
orang Asia  :

1. Peran dari orang tua ternyata sangat penting untuk force agar anak
belajar science,sepertinya masih orang asia saja yang bener2 memaksakan
anaknya agar bener2 suka belajar science.

2. Di lingkungan publik school di AS,karena "value" dan moral yang
makin rendah tiap tahunnya,belajar engineering/matermatika dianggap
"tidak cool"/geeks kata teman2 mereka (tentunya yang non-asia).

3. Dari konsensus,pendidikan public school pra-university kebanyakan
mementingkan kreativitas,PR kurang dipentingkan,"apa-apa" demi
kreativitas,akhirnya ini menyebabkan anak2 dengan kemampuan average
atau dibawah average gagal untuk menjadi lebih pintar (dari pendidikan
di sekolahnya).

Untuk menjawab hal ini, ada yang namanya sekolah private di AS.Ini
sekolahnya bayar.
Nah yang private school ini isinya 95% orang Asia dan mengikuti metode
pengajaran mirip2 dengan sekolah di Asia.Dari grading sistem yang saya
tahu,top-top sekolah di AS dimiliki  private school (baca: daerah
dimana orang Asia tinggal).Kebetulan anak kami saya sekolahkan di
private school juga.

FYA,Private-school ini termasuk didalamnya private-school yang sekuler
atau  religion-based(seperti di Indonesia).Di valley,ada beberapa
religion-based school yang sangat baik (metodenya menggabungkan what's
good from the west and what's good from the east),bahkan ada satu dua
yang mengkhususkan agar anak didiknya Hafiz Alquran.Thanks to Indian
Moslem and people from Pakistan.


Carlos

Kirim email ke