didik achmadi wrote: > maaf sebelumnya kalo misal topiknya OOT Bagi saya tidak kok. Nggak tahu deh bagi yang lain?
> Sharing sedikit....... :D > > Beberapa pertanyaan terpikir setelah membaca thread sebelah dari bang Zaki > Ahmad tentang matematika dan segala balasan rekan2 semuanya. Wah saya masih kecil Mas Didik. Malah saya itu anak paling kecil. Jadi tidak perlu pakai Bang-Bang-an segala ya Mas Didik. Mas Didik orang Jawa kan ya? Terlihat dari penggunaan kata "slah", dan "blas" pada konteks kurva. > Salah satunya adalah saya merasa bahwa perkembangan pembelajaran yang saya > alami selama ini [semenjak SD hingga sekarang] mengalami masa-masa yang > sangat beragam dan bila digambarkan dalam bentuk kurva bentuknya pasti gak > bagus blas.. Tapi ada sedikit hal yang saya cermati bahwa kurva perkembangan > mencapai masa "terbaik" semasa perkuliahan hingga saat ini. Ada benang merah > yang bisa ditarik dari periode tersebut. Masa "keemasan" tersebut terjadi > dikarenakan saya sudah menemui cara belajar yang paling sesuai dengan diri > saya. > > Istilahnya orang jawa, udah ketemu "slah-nya" [bener gak ya nulisnya gini ?] > :p Wuah, Mas Didik hebat juga sudah bisa menganalisis pembelajaran diri sendiri dalam bentuk kurva. Mengenai bentuk kurva Mas Didik yang tidak bagus blas, saya pikir itu tidak masalah. Karena bagi saya, kesempurnaan adalah perjalanan. Dan ketika Mas Didik sudah tahu kurva pembelajarannya tidak bagus blas, dan kemudian bisa menganalisisnya, berarti Mas Didik sekarang harusnya sudah tahu bagaimana membuat kurva pembelajaran Mas Didik untuk selalu bagus blas. Dan itu berarti Mas Didik sudah ketemu "slah" belajar ala Mas Didik. > IMHO, sepanjang pengetahuan saya [selama ini], saya belum pernah diajari / > diberi pengetahuan mengenai bagaimana cara belajar yang sesungguhnya. > Sebagai analogi, orang berenang diajari belajar berenang, sebelum bisa > nyetir, diajari cara nyetir yang baik dan benar. Nha, orang belajar > sebaiknya juga harus belajar cara belajar yang baik dan benar sesuai dengan > spesifikasi diri sendiri [yang tentunya setiap orang sangat unik dan tidak > mungkin sama]. Penemuan metode yang belajar sesuai dengan spesifikasi diri > saya inilah yang memakan waktu paling banyak. Tidak apa-apa memakan waktu paling banyak. Karena proses mengenal diri sendiri itu memang butuh perjalanan panjang. Bagi yang suka cerita fiksi dengan bumbu filsafat sedikit, bisa coba baca buku Alkemis karya penulis Brazil Paulo Coelho. Singkat cerita, buku ini menggambarkan perjalanan seseorang dalam menemukan "legenda pribadi-nya" (legenda pribadi = tujuan hidupnya). Dan perjalanan menemuakan legenda pribadi yang diceritakan oleh Paulo Coelho itu sungguh tak terkira. Mengenai cara belajar, saya pernah berdiskusi bersama teman. Saya berpendapat setiap manusia itu unik, sama dengan pendapat Mas Didik. Dan kemudian teman saya menambahkan, karena setiap orang itu unik jadi perlakuan ke setiap orang lain juga harus unik. Wah saya jadi berpikir lagi. Ya, benar sekali! Jadi menurut saya pada akhirnya, kita harus mampu menemukan cara belajar kita sendiri. Mengenai caranya seperti apa, ya saya tidak bisa membantu. Sayangnya keunikan setiap orang seringkali terbentur pada sistem yang ada. Pendek kata, keunikan tersebut tidak terfasilitasi dan kemudian dipaksa untuk menjadi seragam. Contoh sederhana adalah jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas. Misal jumlah anak dalam satu kelas 40 orang, lalu saya memilih profesi menjadi guru. Lalu bagaimana caranya saya tahu pendapat masing-masing 40 orang ini mengenai suatu permasalahan? Akibatnya yang ada hanyalah pola umum yang didapat. > Proses menemukan metode pembelajaran inilah yang menurut hemat saya harus > didahulukan sebelum seluruh khazanah ilmu pengetahuan dialirkan ke penjuru > jiwa raga, tapi berapa banyak lembaga pembelajaran [saya lebih suka menyebut > istilah ini daripada sekolah] yang mampu memberikan ilmu belajar ini ? Baca buku Totto Chan deh. Cari di Gramedia. Atau buku-buku kritisi dunia pendidikan, seperti Ivan Illich dan Milan Kundera. Tapi jangan berniat pinjam ke saya, karena saya juga tidak punya buku-buku itu. Cuma pernah membacanya saja. :D > Buku yang sangat menginspirasi penemuan cara belajar saya dulu adalah > quantum learning karangan bobbi de porter yang dialihbahasakan dan > diterbitkan oleh mizan > http://www.amazon.com/gp/product/0440504279/ref=pd_bxgy_text_b/002-1403202-8844833?%5Fencoding=UTF8 > > Dari buku itu pula saya baru paham kalau saya lebih mudah berbicara dalam > konteks verbal dibanding detil dan lebih mudah memahami sesuatu menggunakan > metode visual. Kembali ke teori setiap manusia itu unik, generalisasi diatas tumbang. Akan tetap ada orang yang lebih paham dengan konteks verbal. Teori diatas berlaku hanya untuk pola yang berlaku umum/mayoritas. Terimakasih untuk topiknya Mas Didik. Semoga kita semua mampu selalu terus belajar caranya belajar hingga akhir hayat nanti. > -- > Best Regards > Didik Achmadi > http://achmadi.net Wassalam Zaki Akhmad http://blog.zakiakhmad.info
