Harry Sufehmi wrote:
> On 12/26/2005 at 12:05 PM rofiq wrote:
> >Long tail? saya yakin petani kopi banyak sekali di Indonesia, kalau
> >pemerintah bisa mengatur trading mereka dengan importir luar, tentunya
> >derajat hidup mereka bisa jauh lebih baik.
>
> Saya sempat berusaha untuk memperbaiki nasib para petani kopi di daerah 
> Lampung. Masalah mereka ada beberapa, yaitu:
>
> 1. Menjual ke tengkulak, mereka mendapat harga yang tidak layak
> 2. Kemampuan me-manage uang; uang yang diterima di foya-foyakan beberapa 
> hari, kemudian sampai panen berikutnya mereka hidup miskin kembali
>
> Tapi, ternyata dari mereka sendiri tidak mau merubah kebiasaannya ini.
>
> Ya, susah juga jadinya...   :-)

karena yang mau dirubah karakter, ada sih yang bisa berubah
karakternya,tapi mungkin itu 1 dari 100 dan kemungkinan besar sudah
tidak jadi petani lagi sekarang ;-)

Dari pengalaman saya membaca riwayat hidup orang2 India yang sekarang
top (dan kadang2 China),ternyata kebanyakan mereka berasal dari
keluarga yang hidup susah dulunya (petani,nelayan,buruh atau pegawai
negeri kecil),bedanya, orang tua mereka dulu selalu menanamkan prinsip
berikut ke anak2nya "Pendidikan nomor satu,sekolah yang bener,kalu mau
hidup enak dan lepas dari kemiskinan harus belajar,belajar ilmu science
dan matematika diutamakan"

Makanya,kalau mau membantu petani,lebih baik pendekatanya melalui
beasiswa pendidikan ke anak-anak petani/nelayan tadi. Ini jangka
panjangnya.

Anyway hal ini sebenarnya sudah "kami" (ehem) lakukan 3 dekade dan
impactnya sudah terlihat.Saya yakin banyak kawan lain yang juga sudah
melakukan hal yang sama.

Carlos

Kirim email ke