On 12/27/05, Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Maaf Pak Budi,tapi itu dari sisi internal saja dan 'mismanagement' itu > masih satu hal kecil saja.
Tentu saja banyak masalah lain, seperti halnya di bisnis apa pun. > Walau bagaimanapun industri 'aircraft maker' setahu saya very-high > risk,modalnya sangat tinggi dengan return probabilitasnya untungnya > masih sangat gambling (karena terlalu banyak faktor non-teknis untuk > konfirmasi penjualan). Gampangannya, Indonesia ini kan negara kepulauan dan tersebar secara melebar. Jadi dia membutuhkan: - alat transportasi (kapal dan pesawat terbang) - alat komunikasi (telepon, Internet, dsb.) Kedua hal tersebut, mau tidak mau akan dibutuhkan oleh kita sendiri. Mengenai apa buat sendiri atau beli saja, itu terserah kita. Kalau memang kita mau beli, ya jangan marah-marah kalau impor ya. (Sekarang contohnya kita impor handphone dalam jumlah yang fantastis: jutaan!) Lantas ini semua dibayar pakai apa ya? (Think: devisa?) > Pak Budi dulu sudah sempat menyinggung 'software customization' ,nah > sudah ketemu tuh salah satu jawabanya apa. he he he. Software customization itu "kurang keren" sehingga dipandang sebelah mata. Sama dengan pabrik alat-alat elektronika (seperti setrikaan, atau toner) yang kata orang industri tukang jahit, hanya merakit, dsb. Banyak yang tidak sadar bahwa industri inilah yang menghasilkan devisa bagi Indonesia, yang membuat kita masih bisa hidup. Kalau kata mentor saya, "IT? Buktikan dulu bahwa memang IT itu bisa menghasilkan devisa. Pekerjaan assembling lebih berjasa daripada IT." > Kembali ke hal Indonesia R&D,bagusnya industri ini muncul dengan > mengikuti pola yang ada di Malaysia yaitu **tidak menciptakan produk > langsung**, tapi ikut dalam manufaktur/contract manufactur/small scale > R&D seperti di Malaysia dan integrasi /customization/outsourcing produk > seperti di India. Tapi ... Malaysia punya Proton :) -- budi
